Refleksi Akhir Tahun

Menjelang pergantian tahun, merefleksikan satu tahun yang sudah dilewati menjadi kebutuhan bagi yang ingin memperbaiki diri. Menengok kembali catatan yang telah direncanakan, lalu seberapa jauh capaiannya tentu menjadi penting untuk merencanakan dan membuat target di tahun berikutnya.

Jam, hari, minggu, bulan dan tahun memang terasa begitu cepat berlalu. Apalagi bagi orang yang terbiasa membuat perencanaan dan target capaian. Setikdanya bagi yang punya prinsip bahwa tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin, dan tahun depan harus lebih baik dari tahun sekarang.

Tanpa diduga sebelumnya, Pandemi Covid-19 sangat mempengaruhi semua aktivitas dan perencanaan tahun 2020. Bahkan Covid-19 telah melumpuhkan berbagai sendi sosial, ekonomi, politik dalam skala global.

Banyak hal yang tidak bisa dilakukan pada saat kondisi pandemi ini dibandingkan dalam situasi normal. Mau tidak mau sudah menjadi sebuah keharusan mengubah perilaku dan kebiasaan yang tadinya mungkin tidak pernah terpikirkan. Target dan jadwal yang sudah dibuat harus ditinjau ulang, bahkan dirombak total mengikuti kondisi yang tidak pasti.

Prioritas kesehatan menjadi pilihan utama. Semua orang dituntut untuk menerapkan protokol kesehatan  Covid-19. Pembatasan untuk bepergian dan penutupan sarana-sarana publik juga dilakukan demi mencegah dan memutus mata rantai penularan. Bahkan banyak negara melakukan penutupan atau pembatasan keluar masuk orang-orang asing untuk datang ke negaranya.

Refleksi penting karena manusia mengambil jarak dengan kehidupannya yang sering kali berjalan terlalu cepat, untuk memberi jeda. Jeda waktu digunakan untuk menilai apakah hidup yang dijalani sesuai dengan harapan dan rencana-rencana yang sudah ditetapkan di awal tahun. Melakukan refleksi (reflect) artinya think deeply or carefully about.

Dengan refleksi, seseorang akan berpikir lebih dalam dan berhati-hati. Lebih dari itu, bisa introspeksi dan memberikan makna dalam perjalanan waktu yang datang dan pergi tanpa diminta. Allah Swt. dalam Q.S. al-Asyr berfirman: “Demi Masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling bertausiah (memberi nasihat) dalam kebenaran, san saling bertausiah dalam kesabaran.” (Q.S. al-Asyr: 1-3)

Ayat ini bermaksana sangat dalam, sehingga Imam Syafii pernah mengatakan bahwa andaikan Allah Swt. hanya menurunkan surat ini, niscaya itu sudah cukup untuk menjadi pegangan manusia dalam menjalani kehidupannya. Begitu pentingnya surah ini, di antara tradisi yang dikembangkan sahabat pada masa awal Islam adalah membaca surat ini ketika hendak berpisah dari satu majelis. Tradisi inilah yang dilanjutkan di Indonesia sebagaimana terlihat pada bacaan anak-anak sekolah Islam ketika hendak pulang.

Melalui surat al-Asyr Allah Swt. memberi panduan bagaimana menggunakan modal waktu untuk kebaikan hidup. Secara keseluruhan, surat al-Asyar mengandung isyarat agar melakukan “perenungan” terhadap amal perbuatan yang telah dikerjakan dan mempersiapkan segalanya untuk masa depan atau bermuhasabah. Bermuhasabah tidak sekadar mengingat catatan peristiwa-peristiwa penting selama setahun yang telah lewat. Bermuhasabah berarti menghitung kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan selaku individu sekaligus sebagai anggota masyarakat untuk bertekad memperbaikinya.

Dengan kata lain, refleksi akhir tahun merupakan manajerial waktu. Ada yang pandai menggunakan waktunya untuk hal-hal yang produktif dan membahagiakan. Tidak sedikit yang melewati satu tahun tanpa melakukan hal-hal yang berarti. Ada yang selalu merasa kekurangan waktu, ada juga yang stres karena terlalu banyak waktu luang tetapi tidak tau apa yang harus dikerjakan.

Setiap orang tentu memaknai periode satu tahun dengan cara berbeda-beda. Persepsi tetang sukses, kebahagiaan, dan capaian pun berbeda pada tiap orang. Apa pun peran seseorang dalam masyarakat, apakah pemimpin, calon pemimpin, atau justru bawahan dalam strata yang paling rendah, umumnya setiap orang menginginkan menjadi yang terbaik dalam karier maupun kehidupan pribadi. Refleksi akhir tahun bisa membangun kesadaran diri dan bila dilakukan dengan benar bisa membantu mewujudkan target-target, baik dalam karier maupun kehidupan pribadi.

Kemauan untuk instropeksi diri sendiri menjadi sangat penting mengingat sudah menjadi sifat manusia untuk menutupi kekurangan yang ada pada dirinya sehingga ia enggan menerima kritik dan saran. Sehingga bermuhasabah di tahun baru menjadi sebuah kebutuhan dan sekaligus kewajiban jika kita ingin lebih baik. Kita akan membuat perencanaan (tentu berdasarkan kalkulasi kemanusiaan) masa depan dengan suatu tekad yang kuat bahwa tahun-tahun mendatang haruslah menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Oleh: Dr. AI Hamzani, Dosen Fakultas Hukum Universitas Pancasakti Tegal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *