Teriakan histeris terdengar dari rumah Pak Lurah yang melesat hingga radius 20 meter. Sontak tentangga sekitar rumah terkejut. Ada yang masih berangan-angan sebenarnya apa yang terjadi? Tapi ada juga yang langsung berbondong-bondong menuju rumah Pak Lurah untuk memastikan apa yang terjadi. Entah perihal apa, Pak Lurah yang setiba pulang dari Kantor tiba-tiba tersungkur di depan pintu rumahnya. “Gubrakk” begitulah suaranya.
Istri Pak Lurah yang sedang asyik menonton TV di kamar seketika itu langsung keluar untuk mengecek dari manakah sumber suara tersebut. Sontak teriakan histeris tak tertahankan dari mulut Bu Lurah. Wajar jatuhnya Pak Lurah menimbulkan suara yang begitu keras karena lantai rumahnya terbuat dari kayu papan jati (gladak). Setelah tau perihal yang terjadi salah satu warga langsung menghubungi beberapa anak Pak Lurah yang memilih hidup di luar kota demi mengejar cariernya.
Pesan WA pun dikirimkan. “Mas Alsa, adekmu sedang lahiran”,
Alsa yang saat itu ngobrol ringan bersama anak buahnya di bedeng langsung bergegas meraih kunci mobil di sakunya dan segera menancap gas mobilnya untuk pulang ke rumah.
“Mbak Seli, adekmu sedang lahiran.”
Ketika Seli hendak keluar dari ruangan ber-ac nya sang direktur menjegalnya. “Seli, jangan lupa laporan insidental terkait rencana pengembangan deadline tanggal 21”.
“Baik, Pak” sambil mengangguk lalu meminta izin untuk cuti beberapa hari karena adiknya lahiran.
Kelahiran Vela memang diprediksi minggu-minggu ini oleh dukun kandungan di Kampung.
Tak henti-hentinya Ibu Vela menyalahkan anak perempuannya itu, “kalau kamu tidak menikah dengan laki-laki itu, semua ini pasti tidak akan terjadi.”
Vela tidak menanggapi celotehan Ibunya, ia terus menangis sambil memeluk sang Ayah yang sudah terbaring kaku di lantai rumahnya. Gemuruh suara para warga yang mulai berdatangan ke rumah Pak Lurah meredam kemarahan ibunya. Lalu warga pun mulai mengangkat jasad Pak Lurah dan diletakkan di meja yang telah disediakan.
Di jalan sebelum sampai rumah, Alsa melihat beberapa remaja membawa keranda. Dia tidak mempedulikannya hanya mengklakson supaya para remaja minggir sehingga mobilnya dapat menyusur kembali menuju rumahnya. Sesampainya di depan rumah Alsa dikagetkan oleh ibu-ibu yang berdatangan ke rumahnya dengan memakai dresscode khas. Kerudung hitam, daster hitam, dan membawa baskom yang telah diisi dengan beras 2 panci dan ditutup dengan taplak. Alsa sempat terenung sebelum dia melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumahnya.
Sesampainya di depan pintu ia melihat seorang yang telah berbaring diatas meja dan jarik menutupi seluruh tubuhnya. Alsa mendekati jasad tersebut dan perlahan membuka penutup dari wajahnya. Tidak berubah, sama seperti 2 minggu lalu sebelum Alsa pamit ke kota untuk menjalankan tugasnya sebagai kontraktor.
Suara mobil ber-knalpot grong terdengar, rupaya Seli juga sudah sampai di depan rumah. Perjalanan yang standardnya ditempuh 2 jam 30 menit, namun Seli mampu menempuh perjalanan hanya dalam waktu 1 jam. Sebab kendaraan yang ia pakai adalah kendaraan kelas atas, mobil BMW X1. Keranda yang terparkir di depan rumahnya membuat Seli tak kuasa menahan tangis. Ada 2 kemungkinan menurutnya, ia kehilangan adiknya atau keponakannya.
Setelah memasuki rumah, dia masih melihat adiknya yang duduk di samping jasad dengan keadaan perut yang masih buncit. Dia memperhatikan satu per-satu dari anggota keluarganya: Ibu, Vela, Vino, Mas Alsa. Air mata semakin deras keluar dari matanya dan teriakan histeris menyusulnya, “Bapak!!!”
***
Pak Lurah memiliki 3 anak, Alsa, Seli, dan Vela. Alsa adalah putra sulung dari 3 bersaudara. Di umur yang sudah 30 tahun, Alsa masih belum bisa memberikan hatinya kepada perempuan mana pun.
“Kamu itu ganteng, gagah, sukses. Tapi kenapa sampai sekarang belum ada perempuan yang mau denganmu” kata Pak Lurah diiringi tertawaan kecil.
“Alsa aja belum bisa ngebuat Bapak dan Ibuk bahagia, bagaimana mungkin mau ngebahagiain anak orang”.
Bu Lurah datang dari dapur dengan membawa 2 gelas kopi “Kalau mau ngebuat bapak ibukmu bahagia, segera nikah! Betul kan, Pak?” Sambil menyodorkan gelas.
Malam itu Alsa mengakui kekalahannya seraya berkata “Iya iya, besok Alsa nikah kalau gak hujan.”
“Hahaaa ada-ada aja kamu, Mas.” Jawab Pak Lurah dan Bu Lurah.
***
Malam itu pukul 09.00, Seli di dalam kamar masih sibuk dengan laptop dan gadgetnya. Walaupun sedang weekend dia harus tetap mengoperasionalkannya supaya tugas tidak menumpuk dan in time. Seli selalu berkata dalam beberapa kesempatan “perempuan itu harus pandai cari uang, bila seorang pria punya banyak uang, mau betapa cantiknya dirimu, dia bisa membuangmu begitu saja. Namun jika kamu sendiri mimiliki uang, mempunyai pekerjaan, pendidikan tinggi, cantik juga. Siapa yang akan membuangmu?”
Ini yang dijadikan alasannya belum menikah sampai sekarang.
Sedangkan Vela sudah tertidur pulas ditemani sang suami.
Keesokan harinya Alsa dan Seli berpamitan untuk kembali menjalankan profesinya. “Pak, cepat keluar sudah ditunggu”
”Iya, Buk” seorang paruh baya yang sudah berkepala 5 segera keluar dari kamarnya memakai kaos putih, sarung batik, brengos yang tebal dan suara yang ngebass menjadi ciri khasnya.
Setelah berpamitan mereka bergegas pergi melesat meninggalkan kampung halamannya.
Bersambung…
Oleh: Mahfudh Amrullah







