WFC : WORK FROM COFFEE-SHOP

Café is not just a place to buy coffee, but café is a lifestyle,” itulah pengutaraan dari manusia milenial yang sering menghabiskan waktu mereka di kafe-kafe terdekat. Anggapan mereka, kafe bukan lagi menjadi tempat untuk sekadar membeli kopi saja, namun seiring berkembangnya zaman, saat ini kafe sudah menjadi gaya hidup. Tidak lagi selaras dengan sejarah terciptanya café pertama kali di muka bumi. Bisa dibilang, secara harfiah, kafe dengan semerbak tradisionalnya yang murni sudah jarang sekali ditemukan, bahkan hampir menuju ketiadaan.

Zaman sekarang, café tidak sekadar menjadi tempat untuk menjual kopi dan kue ringan saja. Lebih dari itu, café menjadi sebuah tren yang berkaitan dengan gaya hidup, entah itu di bidang selera, di bidang food and beverages, di bidang seni, hingga karir dan profesionalitas para pelanggan telah menjadi suatu ekosistem konvensional pada café.

What?

Bermula dari dua negara berpengaruh di Eropa, yakni Perancis dan Turki, kedua negara yang berperan besar dalam sejarah terciptanya kafe. Di negeri berrelief Islam, Turki, bertepatan dengan Kota Istanbul adalah kota yang sangat bersejarah, terutama dalam konteks coffee shop. Di sanalah, pada tahun 1475, minuman kopi pertama kali lahir ke dunia dan mulai mengguncang kancah Eropa, karena teknik pengolahan ( dari kopi tersebut terasa sangat nikmat dan banyak sekali peminatnya. Pada zaman itu, coffee shop di Turki hanya menyediakan minuman kopi saja. Hal ini yang membuat Eropa menginovasikan coffee shop, dengan cara menambah makanan ringan, kue, dan roti-rotian ke dalam daftar menu, serta mengubah nama coffee shop menjadi café.

Bertolak ke Benua Biru, café adalah tempat yang menjual kopi dan beraneka ragam minuman beralkohol rendah dan murah, kerap menjadi tempat bersantai masyarakat Perancis untuk bersenda gurau dan mengobrol ringan. Le Procope, prakarsa Francesco Procopio Dei Coltelli merupakan saksi bisu akan hegemoni kafe pada saat itu. Sejarah menerangkan bahwa Le Procope pernah menjadi tempat langganan J Rousseau, Diderot, Voltaire, Pirot, dan banyak tokoh berpengaruh Perancis tempo dulu.

Sementara itu, definisi kafe menurut KBBI dapat diartikan secara polisemi, yaitu tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur dengan musik dan tempat makan yang berkonsep sederhana, biasanya tersedia minuman dan makanan ringan. Definisi ini cukup relevan dengan perkembangan zaman, karena konsep yang ditarik adalah kondisi kafe kontemporer.

Jauh sekali dengan eksistensi café saat ini, hampir di setiap sudut jalanan kota, pasti kita akan menemukan kafe-kafe dengan intensitas hidup yang tinggi perharinya, bahkan hingga lewat tengah malam pun mereka masih open order dan selalu ramai. Mengapa ini dapat terjadi? Ada banyak sekali faktor yang melatarbelakangi fenomena café contemporary ini, sehingga semakin hari, semakin banyak saja café yang bertumbuhan dan berkembang dengan pesat.

Why?

Faktor utamanya adalah pandemi yang disebabkan oleh merebaknya virus covid-19 di seluruh dunia, sehingga manusia ditekan untuk beradaptasi secara cepat dan tepat terhadap gaya hidup baru dalam lockdown, seperti physical distancing, mengenakan masker jika keluar rumah, senantiasa mensanitasi diri, perbaikan pola makan, pola hidup, dan berolahraga dalam rangka menguatkan sistem imunitas pada tubuh, pun dengan transformasi metode belajar dan bekerja diserempakkan menjadi all online, dari rumah masing-masing (work from home).

Dengan berjantung pada internet, segala pekerjaan akan menjadi simpel dan mudah, walaupun banyak orang-orang yang dituntut untuk berkembang dan menguasai internet dalam kurun waktu yang relatif singkat, sehingga kinerja mereka akan terpenuhi secara optimal. Peristiwa ini menimbulkan efek baru, yakni jiwa Fear Of Missing Out (FOMO) dan juga sandwich generation. Kedua efek ini yang nantinya akan membawa kesuksesan bagi para pebisnis di bidang F&B.

Bersumber dari Google, WFH memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut ;

  1. Memiliki fleksibilitas yang tinggi

Jarak dari kamar tidur menuju setup kerja tidak sejauh jarak dari rumah menuju kantor. Keuntungan bekerja dari rumah ini memungkinkan kita lebih efisien dalam pengaturan waktu kerja sehingga bisa menghindarkan dari lembur.

 

  1. Efisiensi biaya cukup tinggi

Alokasi anggaran yang rendah tentu akan meminimalisir pengeluaran yang besar. Banyak rencana yang akan terkoordinir dengan baik andaikata jika tidak harus mengeluarkan biaya bahan bakar kendaraan dan bahan bakar tubuh di setiap harinya. Selain itu, goals yang disematkan akan lebih mudah diwujudkan.

 

  1. Dapat menyeimbangkan peran multidimensional

Terkadang, kerja full time sangat menguras waktu, tenaga, dan pikiran, sehingga komunikasi terhadap orang di rumah teramat sangat terpangkas. Jika kita memiliki anak, hal ini akan berdampak pada psikis anak tersebab kurangnya sosok ayah atau ibu dalam kesehariannya. Fungsi afeksi dan afirmasi tidak selayaknya didapat yang padahal itu adalah salah satu yang menunjang kesehatan mental seorang anak.

 

Pada aspek ini, work from home menjadi titik terang dalam mempertahankan relasi antar anggota keluarga secara positif. Ruang kerja yang berada dalam satu lingkup dengan ruang keluarga akan mempererat chemistry sesama.

 

  1. Meningkatkan produktivitas

Waktu bekerja yang cenderung fleksibel akan membuka jalan bagi kita untuk meng-upgrade diri dan mengevaluasi diri. Pada dasarnya, manusia adalah pelajar dan akan terus belajar sampai liang lahat. Tiada manusia yang dikategorikan secara sempurna, karena manusia hanyalah makhluk sosial yang akan terus bersosialisasi dengan norma-norma yang berkembang. Membenah diri dan mengasah kemampuan itu perlu dilakukan. Zaman semakin berkembang, akan banyak perubahan dan terobosan di sana-sini. Manusia harus mengimbanginya dengan hal-hal yang produktif.

 

  1. Meminimalisir distraksi WFO (Work From Office)

Kondusivitas saat mengerjakan suatu pekerjaan sangat diperlukan, karena dampak jika faktor tersebut tidak dipenuhi adalah pada kinerja yang minim dan hasil yang tidak optimal. Di kantor, kerap kali terjadi berbagai distraksi seperti riuh orang mengobrol, meeting yang terlalu lama, sikap dan seragam yang harus terkena rapi, semua itu memiliki pressure tersendiri. WFH memberikan kebebasan untuk mencari gaya kerja pribadi tanpa mementingkan apa komentar rekan kerja, terkecuali pada meeting dan forum-forum yang memerlukan seragam dan formalitas.

  1. Ide-ide cemerlang mulai bermunculan

Kontemplasi tanpa distraksi akan memunculkan gagasan yang hebat, bahkan terkadang tanpa adanya perenungan pun ide-ide yang out of the box bisa saja muncul. Hal tersebut difaktori oleh kenyamanan dan kondisi bekerja not under-pressured, sehingga kita bebas berpikir dan menerawang imajinasi untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang fresh. Ibarat pepatah, “sambil berenang minum air.”

 

Di tahun 2023 ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menutup pandemi covid-19 untuk seluruh dunia, sehingga pembatasan jarak berskala sudah tidak lagi diberlakukan. Masyarakat sudah diperbolehkan untuk tidak memakai masker dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya sebelum pandemi hadir. Namun, esensi dari sistem WFH masih menjadi opsi yang terus dicanangkan hingga saat ini.

Para pebisnis dengan agility dan inovasinya justru mengambil kesempatan emas dari maraknya fenomena ini. Memanfaatkan kebiasaan para pekerja WFH yang terbiasa bekerja di depan layar dan dukungan layanan internet, usaha-usaha F&B (yang mayoritasnya adalah kafe) mulai mengikuti jalan main konsumen dengan melakukan penguatan terhadap jaringan internet dan well facilitating, sehingga para konsumen dapat menjadikan tempat mereka sebagai opsi yang nyaman dan pas untuk bekerja, terkhusus bagi sandwich generation. Pembaharuan ini dinamai WFC (Work From Café)

Menunjang kenyamanan dan performa kerja para pelanggan profesional, beberapa kafe menyediakan ruang khusus untuk bekerja. Umumnya ber-AC, memiliki akses internet yang sangat cepat, dan diiringi alunan musik akustik dengan volume sedang dan menenangkan. Pelanggan profesional akan betah di sana dalam waktu yang lama, sehingga kemungkinan untuk melakukan repeat order cukup besar.

Sama halnya dengan work from home, WFC ini memiliki keunggulan yang tak jauh berbeda, karena fasilitas yang ditawarkan kafe-kafe kebanyakan sudah jauh di atas standar bisnis. Tidak jarang mengapa kafe menjadi pilihan para pebisnis untuk mengadakan meeting di rapat atau sekadar bercengkerama.

Di Indonesia sendiri, terdapat banyak sekali gerai kafe yang tersebar hampir di seluruh titik, dimulai dari franchise luar seperti Lawson, Starbucks, Subway, hingga produsen lokal seperti Janji Jiwa, Kopi Kenangan, Kopi Nako, Kopi Jawa, dan masih banyak lagi gerai kopi up to the moon seiring berjalannya waktu. Coffee shop ini dapat menjadi ide bisnis yang tepat bagi siapa saja yang memiliki budget lebih.

How?

Kita, sebagai pelaku kerja seharusnya dapat mempertimbangkan apa yang mestinya dilakukan untuk menunjang produktivitas kita dalam belajar, bekerja, dan berkarya. Tentu saja kita memiliki keahlian di masing-masing bidang, dengan memanfaatkan internet dan metode WFC yang worth it untuk dilakukan, dengan catatan, pandai-pandai memilih gerai dengan memerhatikan nilai ekonomisnya. Jangan sampai karena WFC kondisi keuangan malah menipis. Bagaimanapun metodologi bekerja, konsumtif tetap harus dihindari. Selamat ber-WFC.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Sekretaris Bidang Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Anggota Himpunan Pelajar Islam (HPI) Pusat, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *