Danu tak sanggup menahan amarah. Bagaimana tidak, perempuan yang dulu menjadi primadona desa kini tak ayalnya binatang jalang yang tak berbusana. Kerudung yang menjadi mahkota bak putri dengan kain suteranya, kini ia tanggalkan. Matanya merah. Dari bicaranya saja sudah tercium, perempuan itu sedang mabuk. Sayangnya, Danu tidak menyadari kalau itu menjadi awal petaka besar baginya.
Pagi-pagi sekali Danu mendapat pesan WA dari seorang teman semasa SMA nya. Padahal mentari belum juga sudi untuk menampakkan dirinya. Namun, pesan itu memaksa Danu membaca dengan mata yang terbelalak. Denyut jantungnya bertambah kencang. Dalam pikirannya Danu sudah mulai mengawang kemana-mana. Pesan itu ia tutup dan ia bergegas bersiap diri mandi dan berpakaian rapi. Pagi itu juga.
Hal itu diketahui teman sekontrakannya. Namanya Daniel. Ia adalah teman semasa SMA Danu yang sekarang merintis usaha bersama. Mendapati Danu yang terburu-buru tersebut, membuat Daniel penasaran dan bertanya kepada Danu. “Ada apa Dan?”. Spontan Danu kaget. Padahal dia tidak pernah sekaget seperti itu sebelumnya kala di sapa Daniel.
“Enggak ada apa-apa, Niel” kata Danu sambil menghela nafas. “Kamu bohong, pasti ada yang kamu sembunyikan,” Daniel menatap Danu dengan serius. Akhirnya Danu memberitahukan bahwa ia mendapat pesan dari teman se SMA nya yang pagi itu mengirim pesan padanya.
“Coba kamu tengok video ini, Niel. Menurutmu itu siapa?”. Daniel mencermati isi video itu. matanya melotot dan ia menarik nafas dalam, “Sya..fira”. Baik Daniel maupun Danu terlihat tidak enak hati. “lalu apa yang akan kamu lakukan, Dan?”. Danu memasukan HP ke dalam sakunya dan mengambil kunci mobil seraya berkata, “aku akan menjemputnya!!!”.
Daniel menunduk. Ia melotot ke bawah dengan tatapan tajam. Bibirnya sesekali komat kamit mengucapkan kata yang tidak jelas. Ia seperti memendam sesuatu. “Niel, kamu baik-baik saja kan?” sambil menepuk pundak Daniel. Daniel kembali seperti biasa dan memandang Danu. “Dan, aku ikut denganmu ya”. Danu berpikir agak lama hingga ia memutuskan membawa Daniel bersamanya.
***
Dalam perjalanan menuju Bandung, Daniel terus saja diam seribu bahasa. Tak ada sepatah kata pun keluar sejak berangkat dari Yogya tadi. Danu mencoba mencairkan suasana dengan bertanya terlebih dahulu kepada Daniel. “ada yang kamu ingin bicarakan denganku, Niel?. Nampaknya beban masa lalu itu belum hilang juga darimu.”
Daniel tetap diam. Tak ada satu kata pun keluar. Bahkan dia menatap ke bawah menunduk entah sedang memikirkan apa. Wajahnya juga sering ia buang seolah tak mau mendengar apa yang dikatakan Danu. Danu merasa, Daniel masih memendam perasaan atas masa lalu mereka.
Namanya Syafira. Perempuan itu telah merasuki perasaan kedua laki-laki tersebut. Saat SMA dulu, sempat terjadi cinta segitiga antara Danu, Daniel, dan Syafira. Daniel adalah orang yang pertama mengenalkan Syafira ke Danu. Karena Daniel dan Syafira sudah saling menyukai sejak kelas dua SMA. Tapi, akhirnya Syafira memilih Danu tanpa sebab yang pasti. Persahabatan mereka sempat hancur dan tidak pernah saling komunikasi lagi.
Waktu mungkin belum mampu melupakan semua kenangan itu. Walau mereka berdua dipertemukan di sebuah bisnis yang sama. Tapi tetap saja Daniel menyimpan perasaan tidak suka pada Danu.
***
Di tengah perjalanan, Daniel meminta Danu untuk menurunkannya dari mobil. “Dan, turunkan saya disini saja!” Sudah tidak tahu apalagi yang sedang dipikirkan Daniel. Bagi Danu, mungkin Daniel sedang badmood. Agar ia tidak mengamuk, karena akan membahayakan saat menyetir, akhirnya Danu menghentikan laju mobilnya dan mempersilakan Daniel turun dari mobil. Dengan perasaan tidak enak Danu menjalankan mobil pelan-pelan sambil melihat Daniel lewat spion. Daniel terlihat berdiri di tempat dan mengangkat telepon dari seseorang.
***
Sesampainya di Bandung, Danu mencari alamat yang teman SMA nya kirim. Pesan itu menginformasikan bahwa Syafira bekerja di sebuah club malam di café dekat lokalisasi. Malam itu meriah sekali. Tepat malam itu adalah malam Valentine. Semua remaja berkumpul disana membawa pasangannya masing-masing. Bahkan ada juga yang menyewa PSK untuk menemani di malam spesial itu.
Danu masih ingat betul tempat dalam video itu. Ia bergegas. Barangkali ia dapat menemukannya di sana. Dengan bermodalkan hanya video berdurasi 2 menit yang menampilkan sesosok perempuan yang telanjang setengah badan bersama laki-laki yang sedang berjoget bersama.
Daniel menemukan tempat itu. Dan benar saja!!!. Disana ada, “Sya..fi..ra”. Tubuh Danu lemas. Tapi amarahnya memuncak. Ia tak sempat berpikiran bahwa perempuan yang dulu adalah mantan kekasihnya sekarang menjadi penghibur laki-laki hidung belang.
Berlinang air mata ketika mengingat dulu Syafira lah yang mengajarkan ia mengaji sampai bisa membaca al-Qur’an dengan lancar. Syafira juga sering mengajak Danu pergi ke tempat kajian keagamaan di daerahnya. Bahkan Syafira membelikan peci dan sarung agar Danu rajin beribadah.
Danu marah. Emosinya memuncak tatkala melihat ada laki-laki hidung belang datang mencolek tubuhnya. Dengan tubuh seperti kerasukan setan, Danu menghampiri Syafira. “Syafira ayo pulang!!!!” kata Danu sambil mengambil tangan Syafira dengan paksa.
Sontak Syafira kaget bukan main. Jantungnya seperti mau copot. Ibarat tersambar petir di siang bolong. Ia sangat terkejut tatkala yang datang adalah mantan kekasihnya yang dulu sering ia ajari ngaji.
“lepaskan!!! Saya tidak mau pergi!!!” Syafira memberontak. “emangnya kamu pikir kamu siapa, hah? Kamu hanya bisa menyakiti orang lain dan tak berani menanggung resiko. Dasar laki-laki bajingan!!!” teriak Syafira kepada Danu. Plakkk… Danu menampar Syafira dengan kerasnya. Orang-orang disana mulai ramai mengelilingi mereka berdua. Ada yang mencoba memisahkan. Namun, pada akhirnya baik Danu maupun Syafira di usir dari tempat itu karena melakukan kegaduhan.
Danu masih memegang erat tangan Syafira. Saking kerasnya sampai-sampai tangan Syafira berbekas. “apa yang kamu lakukan, Fira!!!”. Adu mulut tak terhentikan itu semakin memanas ketika Syafira menangis. “kenapa kamu melakukan itu, hah!!! Kamu bisa mencari rezeki yang halal jika kamu mau. Jangan seperti ini!! Otakmu dipakai dimana!! Apa yang telah kamu lakukan!! Jawab Syafira , jawab!!!.
Syafira rasanya tidak bisa memendam lebih lama lagi emosinya. “Semua karena elu, bangsat!!! Bajingan kau!!! Kemana aja kau selama aku membutuhkan pertanggungjawaban darimuuu!!!. Perkataan Syafira mengejutkan Danu dan membuatnya melepaskan tangan Syafira. Danu berdiam diri. Ia merasa dirinya salah telah berbuat begitu dahulu pada Syafira. Belum sempat Danu meminta maaf, Syafira sudah pergi berlari dengan kencangnya. Teriakan disertai isak tangis itu terdengar sampai sejauh mata memandang.
***
Danu masih diam di tempat. Air mata mengalir di pipinya. Isak tangis mulai menggaduh suasana. Ia berteriak dalam tangisannya yang sangat dalam. Mulai ia mengingat kembali apa yang ia perbuat.
Dahulu saat malam Idul Fitri, Danu menyengaja ke rumah Syafira. Seperti malam-malam lainnya, Danu duduk di sofa sambil menonton TV. Syafira datang dengan pakaian yang sangat indah sekali dipandang. Wajah cantiknya timbul dari jilbab panjangnya yang mengurai sampai lutut. Kacamata bulat yang selalu menemani belajarnya menambah manis dirinya. Syafira duduk di samping Danu.
Malam itu semua menuju masjid untuk takbiran. Tak terkecuali orang tua Syafira dan kedua adiknya. Saat itulah setan menghampiri otak Danu. Mula-mula Danu meraba tangan Syafira. Syafira menjauh dan mengecam keras apa yang telah Danu lakukan. Tapi setan bertindak lebih besar merasuk otak dan hati Danu. Terjadilah pencabulan di malam yang suci itu. Perenggutan kesucian di malam yang suci.
Ia tak menyangka. Kejadian malam itu membuat Syafira menjadi demikian. Padahal sejak kejadian itu, semua terlihat berjalan normal-normal saja. Syafira kadang bungkam dan Danu pun demikian. Perjalanan kisah asmara anatara Danu dan Syafira berakhir saat Danu lebih memilih untuk tidak mengganggu kehidupan Syafira lagi.
***
Malam itu Danu kembali ke Mobil. Tujuannya adalah pulang ke Yogya untuk membereskan bisnisnya. Baru saja hendak menyalakan mobil, Danu mendapatkan telpon dari seseorang. Danu mengira itu adalah Daniel, ternyata bukan. Suaranya perempuan!.
“Halo Mas Danu. Apa kabar? Masih inget gak ke Dinda?”. Danu mulai mengingat-ngingat siapa Dinda itu. Sebab kejadian dengan Syafira tadi, Danu menjadi ingat akan satu hal. Syafira punya adik perempuan yang bernama Dinda. Merinding membayangkan kalau persoalan hubungan intim dulu itu ternyata sudah diketahui banyak orang, termasuk adiknya Syafira.
“Dinda adiknya Syafira, ya? Mas kira siapa. Ada apa Dinda tumben nelpon?”. Jantung Danu berdegup dengan kencangnya. “Ia Mas Danu, ini Dinda. Mas kalau bisa, besok mampir ya ke rumah. Mas masih di bandung kan”. Duarrr.. serasa mendapati hantu pocong tanpa kepala berada di depan. Perkataan Dinda itu membuat dirinya takut.
Belum sempat Danu berbicara, telpon sudah dimatikan. “Sialan, sebenarnya ada apa ini” Danu terlihat sangat bingung, takut, sedih, dan marah. Semua bercambur aduk menjadi satu. Kepalanya sesekali ia benturkan ke stir mobil. Hingga kepalanya berdarah.
“Kenapa Dinda tahu kalau saya ada di Bandung?”. Ia mulai merangkai kejadian dari kejadian tadi pagi. Nampaknya, Danu berpikir kalau ini adalah rencana Syafira agar Danu dapat mengunjungi rumah Syafira kembali. “Tapi untuk apa?” sekelumit pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban itu melintas lalu lalang dalam pikiran Danu.
Setelah berpikir agak lama, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Syafira dan melihat apa yang terjadi. Pagi itu ia menyetir dalam keadaan lelah dan stress yang luar biasa. Matanya kadang-kadang kabur. Tapi ia paksakan untuk dapat melaju ke rumah Syafira mencari tahu kebenarannya.
***
Pagi itu, Danu tiba di depan rumah Syafira. Rumahnya kini seperti tidak berpenghuni. Tidak terawat dan kumuh. Dinding-dinding penuh dengan coretan-coretan berwarna merah. Seperti darah tapi lebih segar dari itu.
Keluar dari mobil, Danu sudah di tunggu oleh seorang perempuan berbaju putih bercelana hitam ketat. Ialah Dinda, adik pertama Syafira. Danu menarik nafas terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Dinda. Ia sematkan senyum di wajah dan sapaan hangat seperti keluarga yang telah lama tidak berjumpa.
Singkat cerita, Dinda mengajak Danu masuk ke dalam rumah tak terawat itu. ia masih ingat, dulu rumah tersebut bagus sekali. Karena mungkin sering di rawat dan dibersihkan oleh Syafira. Sekarang kumuh layaknya tak berpenghuni.
Di depan sofa, Danu diperlihatkan dengan sesosok perempuan berambut putih duduk di kursi roda. Sambil perlahan berjalan menuju perempuan itu, sebenarnya hati Danu sangat ketakutan. Tapi Dinda membawa Danu tanpa berhenti. Walau pelan, tapi pasti. Akhirnya tibalah Danu di hadapan perempuan tua tersebut.
“Siapa Dia?” tanya Danu pada Dinda. “Itu Ibuku”. “bukan, itu bukan Ibu. Saya tahu persis bagaimana bentuk wajahnya dan saya tidak akan lupa”. Danu keheranan. Mana mungkin nenek tua ini adalah Ibu Syafira. Jelas-jelas Ibu Syafira tidak setua ini dan bentuk wajahnya pun berbeda. Danu mulai merasa ada yang aneh.
“Itu Ibu, Mas” Dinda menangis mengurai air mata. “Ibu sakit sudah lama. Sakit itu menyebabkan Ibu lupa ingatan, bisu dan menua dengan cepat” lanjut Dinda dengan tersendu.
Seolah tak percaya, Danu menggenggam telapak tangan Ibu Syafira. Baru saja ia menunduk dengan tumpuan lutut, haru tak bisa ia bendung. Air mata lagi-lagi mengalir derasnya. “Ibuuu…maafkan Danu Bu”. Satu hal yang dipikirkan Danu, sepertinya Ibu Syafira mengetahui kejadian itu. kejadian itu mungkin membuat Ibu Syafira stres sehingga ia menjadi seperti ini.
“haeuuu haeeuuuu” Ibu Syafira bergumam. Seolah tak ingin tangannya di pegang Danu. Dengan perlahan, Ibu Syafira melepaskan genggaman itu. “ini Danu Bu, mantan kekasih Syafira”. Sia-sia, selain bisu, menurut Dinda, Ibu itu juga lupa ingatan. Ia tidak bisa mengenali orang-orang di sekitarnya.
Suasana hening seketika. TV yang sedang di tonton pun beberapa kali pindah chanel sendiri. Lampu dari arah dapur mati. Hanya lampu redup dari ruang tengah yang masih menyala. Keanehan muncul. Dinda tiba-tiba menghilang dari sampingnya. “Dindaaa” teriak Danu menggema di seluruh isi ruangan. Sedang Ibu Syafira melihat Danu seperti orang asing sejak awal.
“Dindaaa, kamu dimana?” tiba tiba terdengar suara. “Mas, Dinda di kamar”. Dengan perlahan tapi pasti, Danu melangkah menuju kamar. Di lihatnya kamar gelap seperti tidak ada seseorang disana. “Dindaa, kamu ngapain di sana?”. Dengan ketakutan yang luar biasa, kaki Danu gemetar. Tapi ia masih saja berjalan sedikit demi sedikit ke arah kamar. Ia buka pintu kamar, dan terjadi..
Slebbb… darah segar mengalir menetes ke lantai. Suara jeritan kesakitan Danu menguasai heningnya kamar itu. Lampu dihidupkan, terlihat perempuan yang sedari tadi menemaninya di ruangan tengah sedang menusuk perut Danu menggunakan pisau. “Din..daa kenapa.. kau lakukan..ini? terbata-bata Danu menahan rasa sakit sambil memegang halus pipi Dinda.
“Kamu ingat kamar ini, Mas Danu? Kamu ingat apa yang telah kau perbuat Mas?” Danu melihat seisi ruangan. Ternyata itu adalah kamar yang Danu jadikan tempat untuk merenggut kesucian Syafira.
“Kamu tega menghancurkan mimpi seorang perempuan solehah yang menunjukanmu ke jalan yang benar. Sejak saat itu, ia sering mengurung dirinya di tempat ini. Kau tinggalkan ia saat dia sedang jatuh terpuruk pada jurang kehinaan, Mas Danu!!!” teriak Dinda memekik suasana. Cengkraman sebilah pisau yang menusuk perut Danu semakin Dinda kuatkan.
“Lalu setelah kau pergi, kesedihan semakin menjadi-jadi saat ia kehilangan orang yang sangat ia cintai. Orang yang menjadi motivator utama selama hidupnya” Dinda melotot menatap Danu dengan muka seram. “apa yang..terjadi, Dinda?” Danu walau dengan kesakitan luar biasa tetap berusaha mencari informasi sebisanya. “kau tidak perlu tahu. Dasar Bajingan!!!” tangan kanan Dinda mencekik keras leher Danu. Sehingga membuat Danu tidak bisa bernafas.
Di sudut ruangan, terdapat sepasang foto laki-laki dan perempuan tua. Keduanya di beri tanda “X” menandakan simbol kematian. Perempuan tua itu adalah foto Ibu Syafira. Dan laki-laki yang berada di foto itu adalah.. Danu!.
Akhirnya Danu menghebuskan nafas terakhirnya. Air mata dan darah bercampur aduk di ruangan itu. Tak ada yang mengira adik Syafira akan balas dendam sejauh ini. Danu tergeletak, Dinda menangis sejadi-jadinya. Darah merah itu mengotori pakaian putih Dinda. Dinda duduk dengan perasaan yang tidak menentu. Tangisan itu adalah tangisan kepedihan dan dendam yang tak terbalas sekian tahun lamanya.
Tiba tiba, “Dindaa..” pria berpakaian kameja rapi menghampirinya. Memeluknya sehingga Dinda bisa bebas melepaskan semua kesedihannya. Pria itu tak menghiraukan mayat yang tergeletak di sampingnya. Lumuran darah seolah menjadi biasa saja saat itu.
Pria itu mengambil hp nya. Ia menelpon seseorang. Setelah pihak yang di telpon menerima panggilan itu, terdengar suara perempuan mengamuk di balik telpon. “Mas, bangsat kau.. awas kalau kau lakukan sesuatu pada Mas Danu, Aku akan membunuhmuuu!!! Jangan kau sentuh Dia!!!” dengan tenang pria itu menjawab, “Syafira… semua telah berakhir”. Sontak Syafira histeris. Tak sanggup ia membayangkan Danu dibunuh di tangan adiknya sendiri. Memang dendam itu harus di balaskan, tapi tidak dengan cara yang Syafira tidak hendaki. Saat itu lah Syafira membanting telpon sehingga panggilan terputus.
Dinda masih dengan tangisannya. Pria itu mengajak Dinda ke luar rumah dan masuk ke dalam mobil. Dengan pakaian yang masih berlumuran darah, Pria itu mencoba menenangkan Dinda. Dinda tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir begitu saja. Sesekali ia menyebut nama pria berpakaian kameja rapi itu, “Mas Daniel…”.
***







