Per hari ini (27/5), sudah ada 1 juta orang lebih yang positif terinveksi Covid-19 atau virus Corona. Selain belum ditemukan vaksin, virus ini kian hari kian cepat dan masif penyebarannya dengan jangkauan lebih luas. Kerugian di hampir seluruh sektor kehidupan nyaris tak terhindarkan. Namun, ada satu hal yang harus kita sadari dan pegang teguh, yakni berdasarkan kerja keras tenaga medis, jumlah yang sembuh semakin bertambah banyak. Dan kota Wuhan, asal virus ini pertama terdeteksi, kini sudah mulai berangsur pulih. Kondisi ini, sekali lagi, harus menjadi pelecut bagi semua negara untuk segera menyusul Wuhan. Sekaligus menjadi bukti bahwa Covid-19 bisa ditekan, bahkan dihanguskan.
Di Indonesia, jumlah pasien positif belum juga mengalami penurunan. Justru yang ada, setiap hari jumlah warga yang postif Covid-19 semakin bertambah banyak. Setidaknya hingga Selasa (26/5) pagi, jumlah pasien positif Covid-19 sudah mencapai angka 23,165 kasus (bertambah 415). Angka ini cukup serius dan tak boleh dianggap remeh. Untuk itu, perlu dilakukan kerja sama seluruh elemen bangsa untuk melawan Covid-19 ini. Tidak cukup hanya mengandalkan tenaga medis saja. Seluruh masyarakat mesti harus satu suara dan bersama-sama dengan segala upayanya berkeja melawan Covid-19 ini.
Genderang Perang Melawan Covid-19
Sebagaimana negara-negara lainnya, negara kita juga sedang berperang melawan musuh yang mematikan itu. Dan tentara yang berada di garda terdepan menghadapinya adalah tenaga medis. Meskipun tidak dilengkapi dengan senjata yang memadai. Namun, karena pekerjaan dan kepedulian atas kemanusiaan, tetap harus dilakukan.
Berbagai upaya memang telah dilakukan demi melawan atau setidaknya mencegah virus itu menyebar semakin jauh. Dimulai dengan himbauan pemerintah mengenai jaga jarak (physical distancing) dan mengubah aktivitas menjadi belajar di rumah, bekerja dari rumah, ibadah di rumah dan seterusnya. Himbauan ini sebetulnya cukup rasional mengingat penyebaran virus itu kian menakutkan.
Namun problemnya memang ada, karena hanya berupa himbauan, masyarakat tidak begitu peduli dengan himbauan itu. Sebab, himbauan itu tidak mengikat. Akhirnya masyarakat abai. Masyarakat masih seperti biasa melakukan aktivitas biasanya. Entah karena berani atau karena desakan kebutuhan hidup yang mengharuskan mereka keluar. Aneh memang. Tapi begitulah realitas sosial masyarakat yang terjadi.
Bisa dibilang sekarang kita berada dalam keadaan perang, oleh karena itu, rasanya penting sekali kembali mengingat apa yang Bung Karno pernah sampaikan berkali-kali waktu itu, “Semen bundeling val alle krachten van de atie: pengikatan bersama seluruh kekuatan bangsa.” Meskipun konteks ungkapan ini dimaksudkan Bung Karno saat itu adalah melawan kolonialisme Belanda, namun rasanya ada pelajaran yang bisa diambil dari ungkapan itu untuk diterapkan dalam kondisi saat ini. Telah terbukti dengan penyatuan seluruh kekuatan bangsa kita menang melawan dan mengusir penjajahan Belanda kembali ke asalnya. Semua itu berhasil dilakukan karena bersatunya seluruh elemen bangsa dari Sabang sampai Marauke dengan tujuan yang sama tanpa memandang ras dan agama.
Mengingat, virus yang tidak tampak ini juga menyerang siapa saja, tidak memandang agama atau pun suku apa, semuanya bisa terkena. Maka, mengharuskan bagi kita semua untuk menyatukan kekuatan bangsa untuk melawannya.
Kesadaran Kerjasama
Dampak virus ini sudah begitu terasa. Terutama kelas menengah ke bawah. Akibat dilarangnya ke luar rumah mereka juga kesulitan dalam ekonominya. Mungkin kebutuhan ekonomi ini pula yang menyebabkan orang-orang tidak begitu peduli dengan himbauan “di rumah aja”. Karena memang dilematis jadinya: ke luar rumah takut mati karena korona, di rumah aja takut mati kelaparan. Jadi sama saja.
Faktanya, tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat kelas menegah ke bawah, bahkan kelas elit pun, sumber rezekinya ada pada pekerjaannya di luar ruamah. Kelas elit memiliki tabungan yang cukup untuk “di rumah aja”, sementara rakyat biasa tidak.
Mengetahui fakta tersebut, maka sekali lagi, “Semen bundeling val alle krachten van de atie Itu perlu kita terapkan segera. Caranya bagaimana? Caranya adalah, semua kekuatan bangsa kita bekerja sama. Yang kaya, bantu yang miskin agar tetap bisa makan di rumahnya. Pejabat negara, yang digaji oleh uang rakyat, potong sebagian gajinya demi membantu orang banyak yang membutuhkan.
Golongan agamawan dan intelektual, beri pencerahan yang baik dan bijak kepada masyarakat tentang bahaya korona. Dan seluruh masyarakat melakukan apa pun yang bisa dilakukan demi mencegah atau memutus rantai penyebaran virus ini. Intinya, yang tidak bisa membantu, dan membutuhkan, harus diberi bantuan. Jika demikian jalannya, pemerintah pun tidak terlalu pusing. Sebab semuanya berjibaku dalam satu tujuan yaitu melawan virus ini.
Sesungguhnya kita semua tahu tidak sedikit orang golongan kaya di negara ini. Tinggal menunggu kesadaran mereka saja. Banyak pemilik hotel mewah yang penghasilannya milyaran. Pemilik parik besar. Pengusaha eksportir dan seterusnya. Sudah dicontohkan oleh bos “Wardah”, Bu Nurhayati Subakat, yang menyumbangkan uangnya Rp 40 miliar untuk penangan Covid-19. Ia menggelontorkan uang itu untuk keperluan bantuan alat kesehatan ke sejumlah rumah sakit.
Bagaimana dengan orang-orang kaya lainnya? Jika semuanya bekerja sama, niscaya semuanya akan turut intruksi pemerintah. Semua akan terkendali oleh komando pemerintah. Pemerintah tidak pusing lagi. Penangan akan lebih mudah. Kita tidak akan lagi melihat orang berkumpul di tempat umum karena kebutuhan pokok masyarakat sudah terpenuhi. Dengan begitu, penanganan Covid-19 akan lebih mudah dijalankan.
Tantangan kita hari ini dalam menghadapi Corona adalah masih banyak masyarakat yang ngeyel, meremehkan virus ini sehingga, upaya bersama perang melawan Corona terganjal dengan sikap orang ngeyel seperti ini. Umumnya, orang yang memiliki sikap seperti ini adalah mereka yang berpikiran dangkal dan parsial.
Terkait dengan ini, orang bijak selalu mengatakan bahwa kebaikan dan langkah positif orang baik akan menjadi sia-sia karena adanya segelintir orang bodoh.
Oleh: Andi Prayoga, Mahasiswa STEBANK Islam Mr Sjafruddin Prawiranegara Jakarta.






