Tafsir Merupakan Bidang Kajian yang Tak Pernah Mati, Mengapa?

Tafsir Merupakan Bidang Kajian yang Tak Pernah Mati, Mengapa?

Sepeninggalan Rasulullah sebagai penerima wahyu sekaligus orang pertama yang mrnafsirkan Alquran (lihat Qs. An-Nahl [27]: 44), karya tafsir dan penafsiran tidak pernah berhenti.

Tafsir (Mengkaji kandungan Alquran) tidak pernah mati, ia muncul dan terus berkembang dinamis dari generasi ke generasi.

Mengapa demikan? Menurut Quraish Shihab, dalam kata pengantar buku Rasionalitas Tafsir Muhammad Abduh: Kajian Masalah Aqidah dan Ibadah karya Rifat Syauqi Nawawi, mengungkapkan tiga alasan mengapa kajian tafsir begitu tinggi kedudukannya di tengah masyarakat dan selalu hidup secara terus menerus.

Pertama, karena bidang yang menjadi objek kajian tafsir adalah Kalam Ilahi yang mulia dan merupakan sumber segala sumber ilmu pengetahuan manusia. Di dalamnya, terhimpun berbagai aturan sebagai pedoman umat manusia untuk meraih kebaikan, kesuksesan, kedamaian dan kebahagiaan hidup.

Bacaan Lainnya

Kedua, karena tujuannya adalah untuk mendorong manusia berpegang teguh pada Alquran dalam usahanya memperoleh kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Ketiga, merupakan kebutuhan masyarakat. Teks yang statis dan konteks yang begitu dinamis menjadikan penafsiran memperoleh relevansinya di tengah masyarakat. Terlebih masyarakat yang awam dan tidak memiliki kompetensi yang memadai terhadap ilmu Alquran.

Demikianlah beberapa alasan mengapa kajian tafsir tidak pernah mengenal titik akhir. Bahkan tafsir akan selalu muncul sebagai anak zaman karena ketika umat manusia sedang dalam masalah, maka akan selalu ada kegiatan pembacaan ulang terhadap Alquran sebagai pedoman hidup atau referensi utama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *