Kreekkkkk……. Suara pintu rumah yang terbuka di pagi hari yang telah lama tak ku dengar ssetelah peristiwa pilu 4 tahun lalu telah membangunkanku dari kenyamanan di tempat rebahan. Ternyata, ada seseorang yang biasa ku sapa beranjak keluar rumah untuk bersih-bersih halaman depan. Dia adalah perempuan tua dengan semangat membara yang pagi-pagi sekali sudah menyapu hlaman rumah karena ada alasan yang dia adu kepadaku kemarin.
***
Namun, mengapa tiba-tiba ingatanku tertuju pada sosok yang ku rasa sangat tampan 4 tahun lalu. Iya, dia adalah orang yang sering bangun di subuh hari untuk mengurus kepentingan ummat. sosoknya ku anggap masih ada sampai sekarang karena terus ku lambungkan dalam bait do’aku ketika menghadap kepadaNya. Sosok pahlawan yang telah mengerahkan semua yang ia miliki untuk kepentingan ummat. Bukan hanya itu saja, dia telah memberikan sepucuk cinta kepada masyarakat desa yang kini telah merekah menjadi sebuah bangunan indah tempat beribadah.
***
Aku memang pada waktu itu merupakan perempuan yang belia dan manja. Tapi, semua kenangan yang ia berikan tetap terngiang dalam jiwa. Dalam lara, ku sering bertanya, mengapa Tuhan begitu cepat menariknya dari dunia. Apakah karena dia terlalu sibuk terhadap ummatnya atau karena Dia sayang kepada beliau. Entahlah, aku hanya mengira-ngira tanpa tahu apa jawaban sebenarnya. Sementara itu, ibuku sering mengigau beliau beberapa hari setelah kepergiannya sambil menangis setelah bangun dari tidur. Ibu memang orang yang paling mendalam cintanya kepada dia, karena sudah sekitar seperempat abad mereka hidup bersama dan membina rumah tangga walaupun banyak cobaan yang menerpa.
***.
Karena rasa cinta yang mendalam, ibuku sempat pingsan tak sadarkan diri ketika melihat kondisi jasadnya sudah melemah. Aku masih ingat bagaimana ibuku merebahkan tubuhnya tak karuan setelah mendengar berita musibah yang tak pernah diharapkannya. Kemudian, Ibuku menangis dalam keadaan dibujuk bibi dan kakakku di sampingnya. Sementara aku, hanya bisa mengurung diri di kamar dengan jiwa tak dapat membayangkan bagaimana kelanjutan hidupku tanpanya. Aku sampai memutuskan untuk tidak mau lagi mengeyam pendidikan. Namun, karena keterbatasan pemahamanku waktu itu, kakakku berusaha membujukku agar aku tetap menuntut ilmu dmi mewujudkan cita-cita yang telah lama ku dengungkan di telinga ayahku.
***
Ayahku merupakan sosok yang sangat kami cintai di keluarga. Perhatian beliau terhadap ke 11 buah hati dan kekasih hidupnya menjadikanku tak dapat menutup kenangan silam bersamanya. Motivasi yang beliau berikan kepada semua anaknya menjadikan kami semua tidak bisa melupakannya. Motivasi yang beliau proklamirkan kepada anak-anaknya merupakan sebuah langkah awal bagi kami untuk tetap bersemangat mencari dan mencintai ilmu terutama ilmu agama.
***
Kecelakaan beberapa tahun silam menjadikan kami sekeluarga berduka besar. Kehilangan beliau yang sangat kami cintai merupakan suatu hal yang tak dapat kami bayangkan. Aku sebagai anak perempuan kecilnya hanya bisa menangis dengan kencang kala itu sambil pingsan ketika beliau akan dimakamkan. Sembari memohon kepada Allah agar mengidupkannya lagi, logikaku berputar untuk mencari berbagai cara. Kucing hitam yang kata kebanyakan orang dapat menghidupkan orang yang telah mati telah ku cari sepenuh tenaga. Kakakku terus menasehati agar tetap bersabar dengan segala musibah yang ada.
***
Setelah 4 tahun berlalu, Ibuku menjadi mandiri tanpa penyangga yang kokoh. Kekuatan ekonomi keluarga kami yang kuat sebelumnya lama kelamaan menjadi anjlok karena ketidakhadirannya sebagai manager toko sembako milik kami. Untuk membantu perekonomian keluarga dan pendidikan anak-anaknya, beliau menjajakan makanan pasar untuk para penikmat jajanan setiap pagi. Suatu ketika, di tengah perjalanan pulang, beliau teringat perkataan yang beliau lontarkan kepada ayah ketika kakak mengeluh karena banyaknya orang mengejek ayah dan ibu yang memiliki banyak anak. Runtuhlah air mata beliau di hadapanku ketika mengingat kenangan itu. Beliau pernah berkata bahwa beliau tidak akan meminta. Tapi apa boleh buat, yang kami lakukan adalah salah satu cara untuk membiayai aku kehidupan kami. Seringkali orang membujuk ibuku agar tetsp semangat menjalani hidup.
***
Malam, sekitar jam 21.00, tiba-tiba datang seorang berbaju indah persis pulang dari surau Nurul Falah dengan mengucapkan salam penuh manja. Aku lantas melirik dan spontan memelukknya dengan erat dan penuh cinta. Orang yang telah lama ku cari keberadaannya akhirnya hadir kembali dalam kehidupanku. Aku sambil bercerita tentang kehidupan kami sekarang. Aku juga menceritakan nasib ibu yang tunggang langgang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan terkadang harus menghutang. Setelah itu, beliau menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi padanya selama ini. Beliau memberitahu bahwa beliau masih hidup dan orang yang telah tiada itu bukanlah dia. Aku dengan segera memeluknya dengan erat sebagai perasaan bahagia yang tiada tara.
***
Di sisi lain, aku mendengar sosok perempuan yang sedang menangis tanpa tahu arahnya di mana. Tanpa ku sadari, tiba-tiba ragaku tejatuh dari tempat tidur. Ternyata, semua momen bahagia tadi hanyalah bunga tidur semata. Namun, tangisan perempuan yang sangat ku cinta memang benar adanya. Iya, dia adalah ibuku yang menangis sebelum aku bangun dari tidurku. Lalu, ku dekati dia dan ku tanya ada apa dengannya. Sebelum dia membalas, dia memelukku terlebih dahulu sambil tetap menangis dengan lirih. Lalu, mulailah dia menceritakan bahwa beliau bertemu ayah dalam mimpinya persis dalam mimpiku. Ternyata kami berdua tadi berada dalam frekuensi mimpi ynag sama.
***
“Duhai hati, kenapa kau tak bisa bangkit dari kekecewaan lama ini? Mungkinkah karena kau belum dapat membahagiakannya?” hati kecilku terus bertanya tanpa jawaban yang pasti. Aku juga mengkhayal seperti sebelum-sebelumnya, kapankah aku harus bertemu dengannya tanpa harus bermimpi lagi. Aku tak dapat membendung perasaan yang menyanyat pikiran dan raga. Di manakah harus ku adu semua masalah yang mungkin tidak ada jawaban mungkin selain dengan menyusulnya ke sana. Setelah berdo’a sepenuh jiwa agar Allah mengampuninya, ku tuliskan sebuah puisi cinta untuknya di tengah malam dengan kesendirian dan ku harap ditemani Tuhan.
Surat Cinta untuk Ayah
Telah lama dia tiada
Namun, jiwa seolah tak menerima
Mungkinkah karena rasa cinta
Atau hanya nafsu yang ingin bertemu belaka
Seringkali ku teringat wajahnya
Kelopak matanya yang indah juga
Apalagi senyumnya tentramkan jiwa
Membuat ku tak ingin jauh dengannya
Namun, hanya dapat ku sebut namanya
Dalam lantunan do’a penuh makna
Sambil meminta sepenuh raga
Agar Tuhan mengabulkannya
Ku harap surat cinta menjadi saksi mata
Akan rasa cinta yang tinggi padanya
Ku harap jiwa ini terus istiqamah
Untuk mewujudkan harapan sucinya
Mungkin, melupakannya merupakan hal yang tak mudah bagiku. Namun, menerima kenyataan dan berusaha meningkatkan kualitas diri adalah langkah yang terbaik bagiku. Ibuku juga telah berkata agar senantiasa memohonkan ampunan atasnya dalam setiap bait do’aku terutama bakda salat fardhu. Sekarang saatnya aku harus bangkit walaupun sakit. Aku hsrus semangat untuk mewujudkan cita-citaku dan cita-cita mulyanya yang belum sempat diwujudkan. Aku harus menjadi harapan ummat dan bangsa sesuai dengan cita-citanya. Ku harap surat cinta untuknya menjadikan bukti cintaku yang mendalam padanya. Ku harap juga agar aku tetap semangat dalam menjalani hari-hari yang ada dengan karya.
***
Oleh: Tazkiyah al-Mardhiyah








Semangat terus Tazkiyah yakin dialam yang indah sana beliau juga sangat merindukanmu sampaikan salam mu dengan lantunan indah ayat suci Al-Quran dan tetaplah menjadi seseorang yang kuat dan tangguh , 🙂
Bismillah Alloh bersamamu…
Terima kasih, Kak.