Sleep Paralysis dalam Pandangan Psikologi dan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah

sleep-paralysis

Sleep Paralysis. Tidur merupakan kebutuhan manusia yang harus dipenuhi dalam kurun waktu yang ditentukan berdasarkan faktor usia. Biasanya ketika manusia sudah menginjak dewasa. Maka waktu untuk memulihkan tenaga berkisar 7 sampai 8 jam dalam masa transisi, seringkali manusia dihadapkan pada beberapa tanggung jawab dengan seiringnya perkembangan dewasa.

Tidur memiliki dua istilah, yaitu REM (Rapid Eye Movement) dan Non-REM. Namun, dalam salah satu keadaan, tidur dapat mengalami gangguan, yaitu sleep paralysis atau biasa dikenal dengan istilah ketindihan. Dalam pembahasan ini, fakta mengenai gangguan tidur sleep paralysis akan terfokus pada manusia yang menjadi problematika saat tidur.

Dalam keadaan lelah, seseorang akan memilih berhenti beraktivitas sejenak untuk memulihkan tenaga. Kondisi tidur seseorang berbeda-beda, ada yang lelap dan ada yang semi lelap atau masih dalam tingkat ambang sadar. Keadaan dimana seseorang sudah lelap tidur, dalam istilah psikologi disebut dengan tidur REM (Rapid Eye Movement). Ada pula kondisi tidur seseorang yang tidak lelap, biasanya disebut Non Rapid Eye Movement.

Non REM ditandai dengan tidur tenang dengan mata diam, sedangkan tidur REM ditandai dengan mata terpejam namun bergerak. Dalam kondisi Non REM, organ tubuh yang bekerja mengalami ketenangan atau dengan ritme gerak yang stabil, seperti otak, jantung, dan paru-paru.

Tidur REM memiliki keterkaitan dengan Sleep Paralysis yang menjadi problematika setiap manusia. Sleep paralysis merupakan gangguan tidur dimana seseorang mengalami kesadaran, namun tidak dapat bergerak dalam beberapa detik atau menit, bahkan hingga mengalami sesak nafas. (Karla Amanda, 2019).

Keadaan di atas biasa disebut dengan ketindihan. Seseorang yang mengalami sleep paralysis biasanya sudah mencapai kondisi tidur REM. Menurut psikologi, gangguan ini disebabkan karena organ tubuh berupa otot-otot tidak terkoneksi baik dengan otak, sehingga tubuh mengalami kesulitan untuk bergerak.

Sleep paralysis memiliki ciri umum, yaitu kesulitan bernapas, kesulitan untuk bergerak, dan merasa cemas atau takut. Ketika seseorang mengalami sleep paralysis, pada dasarnya otak menangkap dengan baik gangguan yang dialami saat itu.

Namun, otak tidak menyambungkan koneksinya dengan tubuh, sehingga seseorang akan mengalami kecemasan saat tubuhnya sulit bergerak. Sleep paralysis akan berlangsung paling lama 1 sampai 2 menit, bahkan tidak sampai menit, hanya hitungan detik. Namun, seseorang yang mengalaminya akan merasa lama dalam mengalami gangguan tersebut. Sleep paralysis akan berakhir ketika seseorang kembali tidur lelap atau mengalami kesadaran (terbangun).

Berkaitan dengan gangguan tidur ini, eseorang remaja yang mengalami sleep paralysis atau ketindihan. Biasanya yang mengalami akan menceritakan kejadian yang dialami kepada sesamanya. Namun, seringkali akan menghubungkan sleep paralysis dengan kejadian mistis, seperti diganggu oleh makhluk halus.

Seseorang akan mengalami sleep paralysis ketika ia stress dengan kegiatan yang padat. Sehingga memiliki waktu istirahat yang kurang mengakibatkan terganggunya otak atau mental tersebut. Saat mengalami kondisi demikian, seseorang akan merasa diganggu oleh makhluk halus ketika tidur. (Potter dan Perry, 2005).

Sleep paralysis pada umumnya terjadi saat seseorang tidur terlentang (wajah menghadap keatas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur) hal tersebutlah yang perlu kita ubah yaitu mengubah posisi tidur untuk mengurangi resiko gangguan tidur tersebut. Dalam agama islam, adab posisi tidur yang terbaik sesuai sunah Rasulullah Saw yaitu posisi tidur miring kearah kanan. Menurut medis tidur disisi kanan bermanfaat untuk mengurangi beban jantung, menjaga kesehatan pernafasan dan paru-paru,mengistirahatkan otak kiri, mengistirahatkan lambung, dan memaksimalkan penyerapan nutrisi.

Ulama sekaligus pakar kedokteran, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata, tidur dengan posisi miring dan ke sebelah kiri juga kurang baik bagi kesehatan dapat membahayakan jantung. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengajarkan manfaat berbaring disisi kanan “tidur berbaring disisi kanan dianjurkan dalam islam agar seseorang tidak kesusahan untuk bangun tengah malam. Tidur pada sisi kanan lebih bermanfaat pada jantung, sedangkan tidur pada sisi kiri berguna bagi badan (namun membuat seseorang semakin malas).”

Sleep paralysis yang dibahas oleh kalangan remaja sangat bertolak belakang dengan ilmu psikologi karena dalam ilmu psikologi tidak mengenal adanya gangguan jin atau makhluk halus. Tetapi, seseorang tidak dapat memaksakan kepercayaan seseorang yang lain agar menganut ilmu psikologi atau menganut mitos-mitos yang sering diungkapkan.

Dalam suatu kalangan, seseorang yang memiliki pengetahuan mengenai penyebab sleep paralysis hanya perlu berempati dengan memberikan pencerahan bahwa seseorang yang mengalami ketindihan itu wajar. Setiap manusia pasti akan merasakan  sleep paralysis atau ketindihan.

Faktor penyebab sleep paralysis ada dua, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dialami, seperti ketidaknyamanan saat tidur, alam bawah sadar memiliki kinerja berlebihan, dan kurangnya jam tidur. Faktor eksternal dapat berupa lingkungan yang tidak tenang. Orang dahulu melarang tidur di depan pintu agar terhindar dari ketindihan, namun itu hanya mitos orang dahulu.

“Orang dulu ‘kan sering melarang anak-anaknya tidur di depan pintu biar tidak ketindihan. Nah, padahal menurut psikologi sendiri itu tidak ada hubungannya. Tapi, kita tidak bisa menyuruh orang agar percaya dengan kita (ilmu psikologi). Ada hubungannya juga ketika kita tidur di depan pintu, pengaruhnya bisa terganggu tidur kita atau merasa tidak nyaman saat tidur.” tutur narasumber.

Sleep paralysis tidak memiliki dampak yang serius, kecuali seseorang tersebut memiliki riwayat penyakit, seperti jantung. Sehingga saat mengalami sleep paralysis akan mengalami kecemasan yang berlebih. Kondisi sleep paralysis dianggap sebagai gangguan berbahaya ketika terjadi berturut-turut, seperti dalam seminggu mengalami ketindihan sebanyak 3 atau 4 kali. Jika mengalami gangguan tersebut, maka dapat didiagnosa lebih lanjut.

Oleh karena itu, seseorang harus menerapkan pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup agar terhindar dari gangguan tidur yang membahayakan bagi tubuh. Namun, perlu diingat bahwa kondisi sleep paralysis tidak berdampak bahaya bagi manusia, kecuali memiliki riwayat penyakit yang berbahaya pula. Sleep paralysis menjadi hal normal ketika terjadi satu atau dua kali pada seseorang, namun akan dianggap sebagai gangguan ketika sleep paralysis terjadi berturut-turut dalam kurun waktu yang dekat.

Penulis: Nur Intisah [3420149],  Mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *