Sepasang Mata Biru

Mata Biru

Aku memasuki ruangan serba putih, dengan bebauan khas campuran bahan kimia. Kudekati seorang gadis bermata biru yang mengenakan jaket navy. Sempat berpikir sebentar, alih-alih sweater kenapa dia memilih jaket?

Gadis yang terduduk di ranjang memandangku dengan tatapan antara rindu dan memendam sesuatu. Aneh rasanya ditatap dengan pandangan ganjil itu.

“Ami, nggak usah repot-repot mengunjungiku.”

Aku mengernyit tidak mengerti. “Apa maksudmu, Ai?” Hal yang wajar kan menjenguk sahabat sendiri.

Aire menatapku dengan pandangannya yang sayu, lalu menunduk. Ia membuka kerudung jaketnya.

“Aire?!” pekikku tertahan, kaget, dan menutup mulut dengan tanganku reaksi tak percaya. “Apa-apaan? Kenapa dengan rambutmu?”

Aire menutup wajah dengan tangannya dan mulai terisak. “Aku takut … kau tak mau lagi berteman denganku. Karena … karena ….”

Aku memeluknya.

“Ami?” Raut wajah yang ayu itu menatapku. Sepasang mata biru cerah yang indah bak kaca membuatku bisa memandang diriku sendiri. Betapa mata itu membuatku tertarik dengan cara yang aneh. Aku tak mampu membuang jauh-jauh indahnya tatapan mata biru itu.

“Kupikir … kupikir ….”

“Kupikir aku tak mau berteman denganmu lagi? Begitukah? Tidak. Tidak, Aire. Sampai kapan pun, aku akan menjadi temanmu. Teman saat dibutuhkan. Begitu selamanya.”

Meski Aire tak memiliki rambut lagi karena penyakit yang diderita, aku masih menyayanginya. Ya, aku tak bisa bayangkan apabila mata biru itu tak lagi menatapku. Aku takut kehilangan sorot geli dan menyenangkan serta ceria dari mata itu.

“Kalau kau mau, aku akan memotong rambutku juga agar kau punya teman. Tidak lagi diejek, karena aku akan sama denganmu.”

Aire menggeleng. “Buat apa, Ami? Tidak perlu.”

Hening. Untuk beberapa saat, mereka disela seorang perawat yang mengantarkan makanan pasien. Aire pun mulai memakan buburnya yang baru saja diantar.

“Andaikata setelah aku mati,” katanya, “aku ingin hidup kembali.”

Aku tertawa kecil. “Kau ini ada-ada saja. Kau tidak akan mati. Kau akan sembuh.”

Aire menggeleng. “Hidupku tidak lama lagi, Ami.”

“Aire …. Please, percayalah. Kau pasti sembuh.”

Aire mendongak menatapku. “Ami, besok kamu jangan menjengukku lagi. Kumohon, tetaplah tinggal di rumahmu.”

“Kenapa?” Permintaan yang tidak masuk akal.

“Tidak apa-apa.”

Baiklah, aku menuruti permintaan Aire. Seharian penuh aku tidak pergi ke mana-mana. Dan sorenya, seorang tukang pos mengantar sepucuk surat untukku. Ketika aku membukanya, aku terhenyak karena mengenali tulisan itu. Surat itu berisi tulisan tangan Aire.

Maafkan aku, Ami. Ketika kamu menerima surat ini, kamu akan tahu kalau jiwaku telah meninggalkan raga. Aku sengaja memintamu tinggal di rumah karena tak ingin kamu bersedih atas kematianku. Aku tahu aku akan meninggal tak lama lagi. Aku juga berterima kasih karena kamu masih mau menganggapku sebagai seorang teman.

Aire

***

Mata biru itu menatapku. Raut wajah yang sangat kukenal menyunggingkan senyuman.

“Terima kasih,” ucap gadis itu lembut. Ia adalah Aire!

Mendadak, sosok itu mengabur dan aku terbangun dari mimpiku. Oh, rupanya mata biru itu masih menatapku.

“Kakak sudah bangun? Dicariin Mama, Kak.”

“Siapa yang suruh kamu masuk kamarku?!” Aku sontak bangkit dari ranjangku.

Ai terdiam. “Maaf, Kak.”

Aku menatap Ai dengan tatapan mata tajam dan menusuk, seakan mengandung sebuah gejolak kemarahan. Tak sengaja mataku menangkap sesuatu di tangan adik perempuanku, Ai. “Apa itu yang kamu pegang?”

“Aku dapat foto ini di meja Kakak.”

Kurebut foto itu dan … aku tertegun. Sepasang mata biru menatapku. Sorot matanya jernih dan sendu. Aku menatap Ai, adikku. Mata biru itu pun kembali hadir.

“Itu siapa, Kak?”

Aku tak mengindahkan suara Ai.

“Itu teman Kakak, ya? Wah, cantik ya, Kak? Sekarang dia di mana, Kak?”

Aku terpaku mendengar pertanyaan itu. Aku menatap Ai. Mata biru laut dengan sorot mata lembut dan teduh itu memandangku dengan rasa ingin tahu. Mata Aire ada pada Ai.

“Pergi, Ai! Jangan ganggu aku!”

“Kapan-kapan beritahu tentang sahabat Kakak itu, ya?” kata Ai ceria, tak peduli pada sentakan kasarku.

Aku memandang kepergian Ai hingga menghilang di balik pintu kamarku.

Aire, apakah kau ingin melihatku melalui mata adikku?

***

“Ami, lihatlah. Ini adikmu, Ai Mizuno. Cantik, kan? Seperti kamu.”

“Matanya biru, seperti mata Aire,” kataku, menanggapi ucapan Papa.

Papa dan Mama berpandangan.

“Ami, Aire pasti baik-baik saja di surga.”

Aku melihat Mama yang lemah di ranjang setelah melahirkan. Lalu ke seorang bayi merah yang ada di pelukannya.

“Ami, ayolah.” Lamunanku tersadar. “Kau sedang melamunkan apa, sih?” tanya Papa, mendekat dan duduk di kursi sebelahku.

“Waktu kelahiran Ai ….”

“Pembicaraan kita itu, ya?” Papa mengelus rambutku. “Sampai kapan kau akan membenci Ai?”

Aku menatap mata hitam Papa. “Sampai Ai berhenti membuatku teringat pada Aire.”

Papa tersenyum prihatin. “Kau tidak ingin membuat Ai bahagia? Sekali saja?”

Aku membuang muka.

“Ini hari ulang tahun Ai. Kau tidak mau memberinya hadiah? Mengajaknya ke suatu tempat?”

“Sudahlah, Pa,” ujarku enggan, tak nyaman duduk di kursiku.

Papa beranjak dan mendatangi Ai yang sedang berada di tengah kerumunan teman-temannya. Papa membisikkan sesuatu sambil melihatku. Kemudian Ai mengangguk dan, mendatangiku!

“Kak, kata Papa sekarang kita diajak ke suatu tempat. Kakak harus ikut.”

“Buat apa? Teman-temanmu itu bagaimana?” tanyaku ketus.

“Sudahlah, Kak. Ikut saja. Teman-temanku, kan, nanti bisa makan kuenya sampai aku kembali. Ayo!”

“Hei, jangan menarikku!”

Aku, Ai, dan Papa pergi dengan mobil menuju suatu tempat. Jalan yang dilewati terasa familier. Apalagi bunga mawar dan azalea yang berada di pinggir jalan berumput. Aku seperti teringat jalan ini, tapi ke manakah Papa akan membawaku?

Akhirnya aku sampai di  ….

Tunggu, pemakaman? Apa, yang benar saja? Untuk apa Papa membawaku ke tempat mengerikan seperti ini?

Papa menuntunku dan Ai menuju sebuah makam.  “Ayo, Ami. Ai, perhatikan jalanmu.”

Papa memberiku seikat bunga untuk diletakkan di makam itu.

“Ini siapa, Pa?” Aku tak tahu siapa yang terbujur kaku di dalam gundukan makam ini. Nisannya telah berdebu.

“Bersihkan nisannya,” perintah Papa.

Ketika aku membersihkan nisannya, aku terkesiap. Di nisan itu tertulis sebuah nama, Aire Minako. Tepat tujuh tahun kematiannya, tepat saat ulang tahun Ai yang kelima. Tujuh tahun aku tidak mengunjungi Aire. Kenapa aku bisa lupa? Apa karena aku terlalu terpuruk hingga tidak menyadari waktu telah berlalu?

“Ini.” Papa memberiku selembar foto.

“Jadi, teman Kakak sudah meninggal, ya?” tanya Ai, menebak-nebak setelah mencuri lihat foto yang Papa berikan kepadaku. Di foto itu terlihat aku dan Aire dengan latar belakang bunga sakura.

“Maafkan Kakak, Ai. Sebenarnya ….”

“Aku tahu,” tukas Ai, sok tahu. “Kakak sebenarnya sayang padaku. Tapi, saat Kakak melihatku Kakak teringat teman Kakak. Itu membuat Kakak sedih. Tidak apa-apa, Kak. Aku tidak marah pada Kakak. Aku masih sayang Kakak, kok.”

Aku tersenyum alakadarnya mendengar celoteh Ai yang amat percaya diri. Maksud hati ingin membalas celoteh itu, tapi tak bibir tak mampu.

“Nah, gitu dong. Sesama anak Papa nggak boleh saling benci.”

Ai tergelak. Aku menatap Papa yang juga menatapku, tahu sama tahu. Dan menyunggingkan senyum  kecil berusaha tulus.

Aku menatap mata biru Ai. Mata biru laut milik Aire.**

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *