Ada sebuah pulau menjelma surga
yang berada di antara dua sungai
mengalir sajak-sajak cinta
rindu dan asmara dua dewa menyatu
berpadu dalam dekapan penuh cumbu.
pulau itu selalu di puja para pecandu tahta
bermalam
bermain dalam genggaman
membidik lekukan-lekukan tubuh
yang terhanyut dalam birunya laut
bersetubuh hingga senja tak lagi berkutik
pulau itu surga bagi pecandu cinta
begitu elok nan indah
entah siapa saja bertandang kesana
jangan kau mencibirnya
kelak kau akan sengsara
karena birahi tak lagi ada
impoten menjelma dalam raga
pulau itu sungguh indah
bagi siapa saja yang matanya tidak buta
setiap insan berlomba-lomba datang kesana
berharap ada ke syahduhan
seperti minum secangkir kopi robusta
nikmat dan memikat.
Aku menulis puisi ini
bukan tanpa sebuah air mata
bukan tanpa sebuah rasa
namun dari dalam sebuah jiwa
air mata ini akan menjadi saksi
dalam balutan-balutan luka
luka yang menganga mati
dalam sebuah bencana
aku menulis puisi ini
untuk aku sajikan pada kanak-kanak
yang meratapi ibu bapanya
entah kemana.
Puisi-puisi dalam ini menyimpan harapan
mengobati segala bentuk lara
dari sebuah bencana yang tak terduga awalnya
untukmu kau yang disana
dalam penantian penuh harap
tentang rasa aman
dan rasa lapar.







