Ada yang berbeda di Dusun Kalidukuh, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2025.
Suasana sore hari yang biasanya diisi dengan lantunan doa-doa santri TPQ, kali ini semakin hidup dengan hadirnya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT 20 Posko 35 UIN Walisongo Semarang.
Mereka membawa semangat baru dalam dunia tilawah dengan memperkenalkan teori qiraah yang dikemas dalam enam kali pertemuan. Program ini diikuti oleh remaja-remaja TPQ Dusun Kalidukuh.
Mereka menjadi peserta aktif yang bersemangat untuk mengenal lebih dekat dunia qiraah.
Sementara itu, mahasiswa KKN MIT 20 Posko 35 hadir sebagai fasilitator dan pendamping, berbagi ilmu sekaligus memberikan warna baru dalam pembelajaran.
Inti dari program ini adalah pembelajaran satu maqro qiraah. Dalam kurun waktu singkat—enam kali pertemuan—para peserta berhasil menyelesaikan satu maqro dengan berbagai variasi nada.
Tak hanya sekadar membaca, anak-anak remaja TPQ juga diajak mengenal teori dasar dalam tilawah.
Dari nada bayyati, shoba, hingga hijaz, semua diperkenalkan dengan metode sederhana dan menyenangkan.
Kegiatan berlangsung di TPQ Dusun Kalidukuh, salah satu pusat kegiatan keagamaan bagi anak-anak dan remaja di Desa Genting.
Meski tempatnya sederhana, suasana kelas berubah menjadi ruang belajar yang hangat, penuh antusiasme, dan semangat kebersamaan.
Program dimulai pada 21 Juli 2025 dan resmi ditutup pada 21 Agustus 2025. Selama sebulan penuh, setiap pertemuan menjadi ajang belajar sekaligus ruang untuk menumbuhkan kepercayaan diri para remaja dalam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan qiraah yang lebih indah.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menumbuhkan minat serta motivasi anak-anak TPQ agar lebih mengenal teori tilawah.
Selama ini, banyak remaja hanya mendengar lantunan qiraah tanpa memahami pola dan nadanya.
Dengan adanya program ini, mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan langsung bagaimana mengolah suara dalam melantunkan ayat suci. Metode yang digunakan sederhana namun berkesan.
Mahasiswa KKN memberikan penjelasan teori secara singkat, lalu langsung mempraktikkannya bersama peserta.
Anak-anak diajak mencoba satu per satu nada, sambil diberikan contoh nyata. Suasana kelas yang cair, penuh canda, dan interaksi aktif membuat proses belajar tidak terasa kaku.
Meski waktunya singkat, pengalaman yang tertanam menjadi bekal berharga bagi para remaja untuk terus mengasah kemampuan tilawah mereka.







