Baladena.id – Di balik hiruk-pikuk Ciputat yang tak pernah benar-benar tidur, ada sebuah tempat yang tak banyak dikenal orang. Bukan bangunan megah dengan plang besar di depan, bukan pula pesantren dengan ribuan santri berseragam. Pada tahun 2020, di sebuah ruko tiga lantai, berdiri Pondok Tasawuf Underground (PTU), sebuah tempat yang diciptakan bukan untuk mereka yang sempurna, melainkan untuk yang tersisih, yang terluka, dan yang sedang mencari jalan pulang.
Sebelumnya mereka duduk berderet di atas trotoar, seolah menjadi warna paling mencolok di tengah kelabu kota. Rambut mereka dicat warna-warni, sementara pakaian lusuh dan tato yang memenuhi kulit bercerita tentang hidup yang keras serta tak pernah memberi jeda. Wajah-wajah itu tampak letih, namun di balik lelah yang menumpuk, ada mata yang masih menyala, liar, waspada, tapi diam-diam menyimpan rindu untuk dipercaya.
Kebanyakan orang memilih menyeberang, menjaga jarak seolah sedang melewati bahaya. Tapi Halim tidak. Ia justru melangkah mendekat, memecah sekat yang selama ini tak pernah ada yang berani disentuh. Pondok ini lahir dari perjalanan spiritual seorang Ustaz Halim Ambiya, sosok yang tak pernah membayangkan hidupnya kelak dipenuhi anak punk.
Perjalanan itu dimulai dari tempat yang jauh berbeda, yakni jagat maya. Bertahun-tahun lalu, Halim membagikan kalimat-kalimat hikmah tentang tasawuf melalui media sosial. Namun jagat maya rupanya bukan tujuan akhir. Pesan-pesan itu mengalir ke dunia nyata, mengantarkannya bertemu banyak orang. Halim mulai mengisi pengajian kecil di kafe-kafe, di rumah-rumah, di sudut-sudut tempat orang mencari keteduhan.
Tapi pertemuan Halim dengan anak punk adalah bab yang berbeda. Bukan direncanakan, bukan dipetakan. Semuanya dimulai ketika ia melihat sekelompok anak punk di salah satu titik keramaian Jakarta. Ia berusaha untuk berdakwah dengan merangkul dan melebur layaknya kaum marjinal seperti mereka.
“Maka dakwah yang dengan ketulusan persahabatan lah yang mampu merangkul mereka,” ucap Halim sebagaimana dikutip dari sosial media Tiktok InsertLive.
Halim mulai mendatangi titik-titik tempat anak punk biasa berkumpul. Ia tidak pernah datang sebagai ustaz. Ia hadir sebagai teman, sebagai ayah dan sebagai guru, tiga peran yang sering hilang dari kehidupan anak jalanan.
Namun pembinaan di PTU tidak berhenti pada urusan batin. Halim memahami betul bahwa perubahan spiritual harus berjalan berdampingan dengan kemandirian ekonomi. Karena itu, selain mengaji dan berdiskusi, para santri juga dibekali program pemberdayaan, salah satunya wirausaha sablon dan kedai kopi yang dikelola langsung oleh para anak punk. Lengan yang dulu lebih akrab dengan gitar jalanan, kini terbiasa menghidangkan secangkir kopi dengan penuh kebanggaan.
Kini, sejak dakwah itu dimulai pada 2017, lebih dari 300 anak punk dan jalanan telah menemukan kembali “jalan pulang”, yakni jalan pulang kepada keluarga dan Tuhan.
Oleh: Fatin Nurul Karisma





