Di Indonesia, tanggal 21 April setiap individu khususnya kaum perempuan milenial berduyun-duyun untuk memberikan ucapan selamat di berbagai media sosial, seperti facebook, Instagram, twiteer dan lain sebagainya. Ucapan itu banjir setiap menitnya sejak dini hari hingga dini hari kembali. Berbagai macam pamflet berserta caption dengan penggalan tulisan kartini serta harapan-harapan manis turut serta meramaikan peringatan hari ini.
Hal tersebut memang wajar untuk dilakukan, pasalnya kartini merupakan pahlawan emansipasi di bumi pertiwi. Perjuangannya membebaskan kaum perempuan dari ketimpangan antara laki-laki dan perempuan serta budaya patriarki membuat namanya senantiasa harum dan terkenal di seluruh penjuru nusantara. Semangat, keberanian dan kegigihannya dalam mewujudkan cita-cita patut dibanggakan dan ditiru para kaum perempuan.
Tercapainya cita-cita kartini dalam membebaskan kaum perempuan dari ketertimpangan ini tentu bukanlah proses yang mudah dan cepat. Kepekaannya terhadap lingkungan sekitar, berani menyatakan pendapat dan melawan berbagai macam ancaman, serta menerbitkan karya-karya untuk menjadi tombak perjuangannya tak luput dari perhatian Kartini kala itu. Ia tidak pernah lelah untuk mempelajari apa yang belum diketahui olehnya. Perhatiannya pada kaum perempuan membuat semangatnya semakin membara.
Akar permasalahan yang membuat perempuan hanya dipandang dalam masyarakat bertempat di dapur, Kasur dan sumur terus ia gali. Kemudian, ia mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan agar wawasannya lebih terbuka disamping juga melatih keterampilan untuk menyeimbangainya. Kartini berusaha dengan keras agar permasalahan yang menjerat kaum perempuan segera teratasi.
Melalui lembar-lembar suratnya yang dibukukan di dalam buku dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadi saksi perjuangan Kartini dalam memerdekakan kaum perempuan. Karyanya tersebut kini terkenal dari generasi ke generasi khususnya kaum perempuan yang mengeyam pendidikan.
Keberhasilan Kartini mengantarkan pada kaum perempuan untuk dapat mengenyam pendidikan, kini dapat dinikmati hasilnya. Lantas, apakah perjuangan sosok kartini telah berakhir di masa milenial saat ini?. Menjawab percikan pertanyaan tersebut tentu dirasa belum apabila dikatakan bahwa perjuangan kartini itu telah berakhir.
Kesetaraan hak memperoleh pendidikan bagi kaum perempuan telah berhasil dicapai. Namun, di abad ke 21 ini perjuangan sosok kartini harus terus dilanjutkan oleh kaum perempuan milenial. Pasalnya tantangan perkembangan zaman tidak dapat terbendung, semua infromasi, teknologi komunikasi berkembang sangat pesat, hingga meninabobokkan para kaum perempuan untuk tidak melanjutkan perjuangan.
Perjuangan yang harus dilakukan oleh sosok kartini di masa milenial ini jelas berbeda. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa zaman semakin berkemang, dan tantangan tentu akan semakin besar. Namun, tidak dapat dipugkiri apabila sebagian kaum perempuan ini justru berleha-leha dan menghambur-hamburkan waktu setiap harinya. Hadirnya Kipopres lengkap mendukung tidurnya peran-peran perempuan masa kini. Pencinta Kipoores cenderung mebuang-buang waktu, uang, tenaga dan juga pikiran untuk mengurus bintang idolanya dibandingkan memikirkan solusi dari berbagai macam isu yang mendera sesama perempuan di luar sana.
Kemudian, akibat pengaruh budaya barat tersebut kaum perempuan ini cederung menjadi pribadi yang pemboros. Ketidakmampuan mengontrol diri menjadikannya haus mata hingga membeli barang-barang yang tidak diperlukan, bukan barang yang dibutuhkan untuk menunjang kesuksesan di masa depannya.
Lalu, berbagai macam isu tentang perempuan tidak terangkat sepenuhnya. Padahal di setiap daerah tidak dapat dipungkiri terjadi kasus-kasus penganiayaan terhadap perempuan, perempuan yang meninggal dunia di daerah pedalalam akibat kekurangan gizi dan dan lain sebagainya justru kurang mendapat perhatian dari para kaum perempuan sendiri.
Kemudian, masih sedikitnya tokoh-tokoh perempuan yang terekspos perannya dimasa lalu maupun masa kini yang mana padahal banyak tokoh-tokoh perempuan yang telah menorehkan perjungan namun hilang tidak terkenang. Selain itu, masih sedikitnya kaum perempuan menuangkan gagasan-gagasan baik lewat media atau buku-buku pendidikan menandakan bahwa perjuangan sosok kartini belumlah usai. Perjuangan kertini masih panjang sebagaimana tantangan disepanjang zaman. Maka dari itu, wahai kaum perempuan milenial!. Perjuangan sosok kartini belumlah usai. Masa depan bangsa ada ditangan para kaum perempuan. Wahai kaum perempuan milenial, jangan terlena dengan fasilitas yang meninabobokkan. Bangun, dan bangkitlah karena perjuangan sosok kartini harus kita lanjutkan. Yg
Oleh: Yulia Mayasari
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang





