Oleh : NINA NURHASANAH, UPT SDN Gandayasa kec Cikeusal Kab Serang Banten
H-1 sebelum mudik, hampir di setiap kesempatan aku bersenandung riang, “Naik kereta api…” Langsung disambut oleh anakku yang masih bayi, berusia 20 bulan dan sedang belajar bicara. “Tut tut tuut,” sautnya lantang meski belum begitu jelas. Ya, momen Lebaran tahun ini kami lalui di kota bawang merah dan telur asin: Brebes, kampung halaman istriku. H-7 kami bergegas pulang, dan pada H+6 kami gantian ke rumahku di kota kretek, tak jauh dari lereng Gunung Muria.
Karena aku bekerja setiap pagi mencari nafkah di Kota Lumpia, kami memilih moda transportasi kereta api karena terasa lebih worth it. Meski sejujurnya, anggapan ini belum valid karena aku belum pernah mencoba moda transportasi lain, seperti travel door-to-door.
“Wes pesen tiket?” tanyaku ke istri.
“Beres, bahkan tiket balik ke Semarang juga. Tenang wae!” jawabnya mantap.
Salah satu kenikmatan naik kereta adalah “perang tiket”. Dua minggu sebelum keberangkatan, kami sudah booking dan checkout. Proses ini kini menjadi krusial karena stasiun sudah tidak menyediakan loket pembelian langsung—semua dilakukan secara online. Masalahnya, ini momen mudik, tentu padat dan penuh.
“Ambil tiket kursi angka satuan ya, posisi C dan D, biar bisa lihat pantai,” pesanku ke istri.
Ia membalas dengan ekspresi alis terangkat, “Soal kereta serahkan ke aku. Sampean kan baru-baru ini aja naik kereta.”
Memang, kereta adalah transportasi impianku. Transportasi udara, laut, darat—semua sudah pernah kucoba. Tapi kereta? Baru pertama kali naik setelah menikah dengan perempuan dari daerah dekat makam Sunan Gunung Jati. Aku masih ingat, pertama kali naik kereta adalah Kaligung dari Poncol ke Tegal, lalu langsung balik lagi ke Poncol. Segabut itu!
Keliru Justru Lebih Seru
Tibalah hari keberangkatan. Jadwal kereta kami adalah pukul 08.40 WIB, Minggu, 23 Maret 2025. Pagi itu, suasana ceria perlahan berubah jadi cemas. Kata orang, punya toddler membuat aktivitas jadi tak terduga. Ternyata benar. Anakku bangun kesiangan dan rewel tak karuan. Setengah jam sebelum keberangkatan, seharusnya kami sudah berangkat, tapi kami masih sibuk bersiap-siap.
“Nek gak ndang mangkat, ketinggalan kereta iki ngko,” keluhku.
Istriku hanya merespons dengan dahi berkerut. Kami panik dan langsung menuju stasiun. Dan benar saja, kami ketinggalan kereta.
Tidak kehabisan akal, kami segera membeli tiket lagi dan mendapatkan jadwal pukul 11.40 WIB. Pagi itu makin terik dan anakku tak mau diam. Ia berlarian ke sana kemari dengan ocehan khasnya, cukup mengobati rasa kecewa karena ketinggalan kereta. Meski rugi waktu, tenaga, dan uang, kami tetap bahagia melihat anak begitu ceria.
“Pa, ke sana…” katanya sambil menunjuk ke arah timur Stasiun Poncol. Saat itu kami beristirahat di mushola pojok barat stasiun.
Dua jam berlalu dalam peluh, hingga kereta Tawang Jaya tiba di jalur satu. Kami bergegas masuk ke gerbong. Begitu duduk, istriku minta dibelikan air mineral.
“Dek, tolong beliin air putih,” pintanya.
“Mbak, ada air mineral?” tanyaku tergesa setelah berlari ke resto kereta.
“Maaf Mas, habis,” jawab petugas.
Aku pindah ke resto sebelah—ternyata resto fried chicken.
“Yang itu saja, satu ya,” kataku sambil menunjuk botol minuman manis.
Saat hendak membayar, aku terpaku pada display mainan susun di dekat kasir: ada truk, truk meriam, truk satelit, dan tank. Mainan itu ternyata bundling dengan pembelian paket tertentu. Tanpa pikir panjang, aku langsung membeli satu untuk menghibur anak di dalam gerbong.
“Seru juga ya, meski telat dan ketinggalan kereta, tetap bisa senyum,” gumamku sambil berlari kecil kembali ke tempat duduk.
Bikin Fun Penumpang Infant
Dengungan mesin dan gesekan roda kereta mulai terdengar, tanda kereta akan segera melaju. Anakku adalah penumpang infant, yang meski punya tiket, tidak dikenakan biaya. Sesuai aturan, anak usia di bawah tiga tahun memang dibebaskan dari tarif, tetapi harus dipangku. Satu penumpang dewasa hanya boleh membawa satu infant gratis. Jika ingin anak duduk sendiri, harus membeli tiket tarif penuh.
“Nak, keretanya jalan. Ayo nyanyi lagi,” ajakku.
Dan seketika, ia menjawab dengan gembira sambil menunjukkan gigi mungilnya, “Tut tut tuut!”
Perjalanan kami memakan waktu sekitar dua setengah jam. Maka kami harus pintar mengatur waktu agar si kecil tetap tenang dan tidak mengganggu penumpang lain.
Pertama, kami menyusun mainan tank yang tadi dibeli. Anak-anak sangat antusias dengan permainan menyusun. Satu per satu kami pasang dan mainkan bersama. Memberi mainan yang menyita perhatian bisa membuat anak tenang. Kebetulan kami belum memperkenalkan handphone.
“Sholatullaah, salaamullaah…” ucapku dengan nada bayyati sambil menyusun mainan.
Kedua, kami sengaja membuat anak dalam kondisi setengah lapar dan setengah kenyang. Orang tua pasti tahu takaran makan anaknya. Cara ini agar anak tidak rewel karena lapar, namun tetap mau diajak main sambil disuapi.
Ketiga, selalu ajak anak berinteraksi aktif dan tunjukkan hal-hal baru sepanjang perjalanan. Belajar sambil bermain, dengan porsi mengenalkan tauhid, ketuhanan, dan kerasulan. Permainan bisa menjadi media edukasi terbaik. Kita tahu anak belum memahami, tapi minimal ia mengenal sejak dini.
Sepanjang perjalanan, kami menunjukkan hewan, kendaraan, bangunan, atau apapun yang terlihat dari jendela. Di momen ini, bisa disisipkan materi al-Qur’an tentang hewan-hewan yang disebut dalam ayat-Nya, atau bangunan yang identik dengan Islam. Ketika kereta berhenti di stasiun tertentu, anak kami turunkan agar bisa bebas berlari-lari kecil di gerbong.
“Hati-hati, Nak,” pesan istriku.
Jika semua berjalan lancar, setidaknya separuh perjalanan bisa dilalui tanpa masalah. Terakhir, setelah kenyang dan lelah bermain, anak bisa ditimang dan ditidurkan. Syukur, semua berjalan menyenangkan. Naik kereta membawa penumpang infant berusia 20 bulan, alhamdulillah tidak rewel.
Anak adalah titipan Allah. Jika diniatkan sebagai ibadah, maka mengasuh anak adalah investasi akhirat. Ladang pahala.
“Kamu adalah madrasah pertama. Asuh dan didiklah anakmu dengan kurikulum surga,” pesanku pada istri.
Lebaran Idulfitri 1446 H telah berlalu, namun kenangannya masih tertinggal. Semoga bisa berjumpa lagi di tahun depan.







