OBESITAS : DEFINISI DAN KENIKMATANNYA

Populasi obesitas di dunia tengah mencapai puncak tertingginya. Menurut data WHO yang beredar pada tahun 2015, populasi obesitas di dunia kira-kira telah mencapai 2,3 miliar orang dewasa. Sedangkan menurut catatan dari tahun 1950 jumlah orang yang mengalami obesitas terus meningkat lebih dari 2% pertahunnya. Menakjubkannya lagi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2035, obesitas akan menguasai setengah dari dunia.

Obesitas adalah suatu kondisi tubuh yang mengandung lemak berlebih daripada yang dibakar (di atas standar BMI), sehingga para pengidap dari segi fisik terlihat gemuk (overweight). Kini, obesitas tengah menjadi tren di lini kesehatan dunia, karena angka pengidap terus bertambah secara signifikan.

Fenomena ini didasari beberapa faktor, yaitu;

  1. Maraknya Junkfood di Sekeliling Kita

 

Siapa yang tidak tahu dengan toko makanan yang hampir terus hadir di kota-kota Indonesia, seperti Mc Donalds, KFC, Starbucks, Domino;s Pizza, Pizza Hut, Burger King, dan lain sebagainya? Itu adalah deretan perusahaan makanan cepat saji terlaris yang ada di dunia. Sedangkan kandungan pada rata-rata junkfood memiliki guIa darah dan lemanilah faktor utama yang menyumbang banyak sekali orang-orang obesitas.

 

  1. Sedentary Lifestyle (Kebiasaan Untuk Bermalas-malasan)

 

Memasuki hal internal, yakni rutinitas kita untuk mengoptimalkan kinerja tubuh, yakni berolahraga. Alih-alih mencari keringat, bidang olahraga pada zaman sekarang sudah mengalami banyak sekali perkembangan dan mudah untuk dilakukan. Namun di era instan ini, atau yang kerap disebut dengan “Sandwich Era” sangat sulit sekali untuk menumbuhkan kesadaran itu, bahkan untuk aspek krusial seperti mencari nafkah pun kini dapat dilaksanakan via daring, sehingga yang terjadi adalah kemalasan yang diakumulasi oleh junkfood. Kebiasaan itu yang pada akhirnya menimbulkan obesitas.

 

  1. Jam Tidur yang Tak Berkualitas

 

Di dalam tubuh kita terdapat suatu hormon bernama ghrelin dan leptin, fungsi dari mereka berdua adalah untuk mengirimkan sinyal kepada otak bahwa perut berada dalam kondisi lapar. Kinerja hormon ini dapat terganggu dengan cara begadang. Akibat yang ditimbulkan adalah kedua hormon tersebut terus mengirimkan sinyal lapar kepada otak, sehingga konsumsi kita tidak terkontrol bahkan cenderung berlebih.

 

Obesitas memiliki dampak yang cukup menyeramkan. Penyakit yang dapat ditimbulkan oleh obesitas, antara lain seperti diabetes melitus, kardiovaskular, tekanan darah tinggi, sleep apnea, osteoartritis, batu empedu kolesterol, hingga kanker payudara yang jika tak cepat ditangani akan berujung pada kematian. Obesitas bukanlah suatu kondisi yang patut disepelekan, mengingat akan banyak sekali hal-hal produktif yang akan tertinggalkan sebab keterbatasan.

Sementara itu, Islam juga menyikapi fenomena obesitas ini sebagai gejala degradasi yang kronis. Sebagaimana kutipan dari salah satu kisah khulafaur rasyiddin bernama Umar bin Khattab yang pada saat itu bertemu dengan salah seorang umat yang gemuk. Umar bin Khattab mengomentari kondisi si obesitas tersebut, kemudian oramg itu menjawab bahwasanya itu adalah karunia dari Allah. Umar bin Khattab dengan ketegasannya membantah seraya berkata, “Ini bukan karunia melainkan azab. Hai sekalian manusia! Hindarilah perut yang besar karena membuat kalian malas menunaikan salat, merusak organ tubuh, dan dapat menimbulkan banyak penyakit.”

Mengutip dari salah satu hadits, saat Rasulullah SAW bersabda :

“Generasi terbaik adalah generasi di zamanku, kemudian masa setelahnya, kemudian generasi setelahnya. Sesungguhnya pada masa yang akan datang ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, mereka bersaksi sebelum diminta kesaksiaannya, bernazar tapi tidak melaksanakannya, dan nampak pada mereka kegemukan”. (HR. Bukhari 2651 dan Muslim 6638)

Ada beberapa cara untuk memperbaiki tubuh obesitas, yaitu ;

  1. Berolahraga secara rutin

 

Saat ini, olahraga tidak memerlukan beragam alat yang mahal dan berakses jauh. Internet menyuguhkan kita banyak sekali ilmu, terutama olahraga yang dapat dilaksanakan di rumah (workout from home), seperti jogging, skipping, push-up, senam aerobik, dan lain sebagainya.

 

  1. Mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang

 

Selain pola olahraga, pola makan menjadi salah satu syarat terpenting untuk berhasil keluar dari zona kegemukkan. Perbanyak kalsium, protein, dan segala macam makanan bercitamin A, D, E, dan K yang bersifat larut dalam lemak.

 

  1. Melakukan diet atau program cutting

 

Bisa diaplikasikan dengan senam, work out, menjaga porsi makan, dan lain-lain.

 

  1. Membatasi makanan-makanan cepat saji (junkfood)

 

Membatasi bukan menghilangkan secara tuntas, hanya saja mengurangi intensitas konsumsi junkfood dan menggantinya dengan bahan makanan yang bernutrisi tinggi dan mendukung program diet/cutting kita.

 

  1. Perbaiki pola tidur

 

Selain pola olahraga dan pola makan, pola tidur harus diatur sedemikian rupa agar tubuh dapat bekerja secara optimal di hari-hari mendatang. Tidur tepat waktu adalah upaya untuk meningkatkan imunitas dan metabolisme tubuh, pun dengan stabilitas kinerja hormon gherlin dan leptin.

 

  1. Berpuasa untuk memprogram diri menghindari makan-makanan yang tidak sehat

Lain hal, timbulnya kampanye body positivity semakin gencar, apalagi ditambah dengan kecepatan informasi yang hampir tiada batas. Tidak ada yang salah dari kampanye ini, karena secara konotatif tentu berorientasi pada kebaikan, mendukung adanya gerakan kesetaraan dan membantah stereotip kecantikan pada umumnya, seperti berbadan kurus, montok, dan ideal. Di samping itu, kampanye ini juga menjadi wadah mental support bagi siapa saja yang kerap merasa tidak percaya diri dengan kondisi fisik mereka, ditambah dengan penindasan di sekitar.

Namun, terdapat beberapa miskonsepsi terhadap kampanye ini, sehingga kesan yang terbentuk adalah tindakan yang bertolakbelakang dengan asas kepantasan yang ada, pro atas obesitas berkedok mencintai diri sendiri. Mereka berasumsi bahwa kenyamanan berada jauh tinggi di atas komentar massa, sehingga bagaimanapun kondisi tubuh mereka, selagi mereka nyaman, maka itu jauh lebih baik. Padahal jika ditinjau dari segi kesehatan, obesitas hanya memberikan kenyamanan semu yang kemudian berlanjut pada tahap akut dan kemunculan penyakit-penyakit kronis yang dapat mengguncang nyawa.

Perkembangan zaman menuntut banyak sekali perubahan. Akan banyak evaluasi dan konstruksi di berbagai lapisan di setiap harinya. Oleh karena itu, sebagai manusia waktu yang terus bergerak dan harus melintas di atas lini perkembangan, jangan sampai obesitas menjadi alasan untuk jatuh ke dalam jurang degradasi. Era terobosan yang dinamis, kondusivitas tubuh juga harus tetap gesit. Jauhi obesitas, jauhi penyakit.

 

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *