Dalam lanskap pemikiran Islam klasik, Kitab “Jawahirul Qur’an” karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali merupakan sebuah peta epistemologis yang berupaya memetakan struktur terdalam dari pesan-pesan Ilahi. Al-Ghazali membagi ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam dua kategori besar: jawahir (mutiara) yang menuntun manusia pada pengenalan esensi (dzat), sifat, dan tindakan-tindakan Tuhan (af’alullah); serta durar (permata) yang mengarah pada jalan petunjuk dan orientasi praktis kehidupan.
Ketika KH. Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mengontekstualisasikan kitab ini dalam serial ngajinya, khususnya pada episode ke-27, kita tidak sedang diajak untuk sekadar mengeja teks profetik secara verbal. Lebih dari itu, kita sedang diajak menyelami samudera teologi kosmis dan psikologi eksistensial manusia.
Pada episode kali ini, fokus kajian tertuju pada jalinan ayat dari tiga surah krusial: Al-A’raf, At-Taubah, dan Yunus. Melalui jalinan ayat-ayat ini, Al-Ghazali (dan secara dinamis diulas oleh Gus Ulil) memperlihatkan bagaimana Tuhan “memperkenalkan diri-Nya” bukan sebagai entitas yang pasif dan jauh, melainkan sebagai Aktor Kosmis Utama yang tindakan-Nya (af’al) bergetar di setiap jengkal realitas.
Tulisan kali ini akan mengulas secara mendalam jalinan makna dari ayat-ayat tersebut, membedahnya menjadi kategori mutiara ketuhanan, serta melihat bagaimana tindakan Tuhan berkelindan dengan respons eksistensial manusia.
Teologi Kosmik: Membaca Af’alullah dalam Hamparan Alam Raya
Dunia modern sering kali menjebak manusia dalam cara pandang sekuler yang mekanistik; melihat alam semesta sekadar sebagai mesin raksasa yang bergerak tanpa jiwa. Namun, dalam pembacaan Al-Qur’an surah Al-A’raf dan Yunus yang diuraikan dalam episode ini, alam semesta adalah panggung teofani, tempat di mana tindakan Tuhan (af’alullah) mewujud secara visual. Allah SWT berfirman:
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَلَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَالْاَمْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
Artinya: “Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-A’raf [7]: 54).
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ ۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖ ۗ ذٰ لِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kamu Dialah Allah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3).
Pernyataan teologis ini bukan sekadar informasi kronologis tentang kosmologi purba, melainkan sebuah maklumat tentang keteraturan (order). Tuhan menampakkan diri-Nya sebagai Pengatur Segala Urusan (yudabbirul amr). Siklus siang dan malam, rotasi matahari, serta pendaran cahaya bulan bukanlah kebetulan fisika murni, melainkan tanda-tanda yang sengaja dihamparkan agar manusia mampu membaca “hitungan waktu” dan “jumlah tahun”. Di sinilah sains dan spiritualitas bertemu: alam semesta adalah kitab terbuka (ayat kauniyah) yang menuntut pembacaan rasional sekaligus kontemplatif.
Lebih jauh, tindakan Tuhan mewujud dalam mikrokosmos penopang kehidupan manusia, seperti yang digambarkan dalam metafora angin, awan, dan air hujan. Pertama, angin sebagai pembawa kabar gembira: Tuhan menggerakkan angin sebagai pertanda rahmat-Nya. Kedua, awan tebal dan tanah tandus: air diturunkan di atas tanah yang mati untuk menumbuhkan vegetasi dan buah-buahan. Ketiga, analogi kebangkitan: melalui siklus hidrologi ini, Al-Qur’an memberikan analogi logis tentang bagaimana kehidupan setelah kematian (ba’ats) bekerja.
Gus Ulil dalam berbagai kesempatan sering menekankan bahwa bagi seorang arif (orang yang bijak), melihat hujan turun bukan sekadar melihat fenomena meteorologi, melainkan menyaksikan jemari Tuhan yang sedang menyuapi makhluk-Nya dengan rezeki. Tanah yang baik akan merespons hujan dengan kesuburan, sementara tanah yang buruk menolak kehidupan. Ini adalah sindiran tajam bagi hati manusia: apakah hati kita adalah tanah subur yang menerima wahyu, ataukah tanah gersang yang bebal?
Dialog Musa dan Batasan Rasio Manusia di Hadapan Transendensi Ilahi
Salah satu puncak dramatisasi spiritual dalam Al-Qur’an yang termaktub dalam surah Al-A’raf adalah kisah munajat Nabi Musa di bukit Thursina. Kisah ini laksana sebuah mutiara epistemologis yang memperlihatkan batas akhir dari rasio dan persepsi indrawi manusia ketika berhadapan dengan kemutlakan Dzat Tuhan.
Ketika Musa memohon, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah diri-Mu kepadaku, supaya aku dapat melihat-Mu,” itu bukanlah permintaan yang didasari oleh keraguan, melainkan kerinduan eksistensial seorang kekasih yang ingin menatap Yang Dikasihi. Namun, jawaban Ilahi meruntuhkan batasan itu: “Engkau tidak akan dapat melihat-Ku…” (lan tarani).
Dengan bahasa dan kata lain, kerinduan manusia adalah ingin melihat Dzat, batasan eksistensial adalah “lan tarani”, solusi kosmis adalah tajalli (manifestasi) pada gunung, dan dampaknya adalah gunung runtuh serta Musa pingsan.
Peristiwa runtuhnya gunung ketika Tuhan menampakkan keagungan-Nya (tajalli) merupakan simbolisasi bahwa materi sekuat apa pun tidak akan mampu menampung keabadian dan kemutlakan Dzat Tuhan tanpa perantara. Manusia, dengan segala keterbatasan sensorik dan kognitifnya, akan hancur jika dipaksa menembus batas transendensi tersebut.
Ketika Musa sadar dari pingsannya dan berkata, “Maha Suci Engkau! Aku bertaubat kepada-Mu…”, di sanalah letak mutiara makrifat yang sesungguhnya. Taubat di sini bukanlah taubat dari dosa moral, melainkan taubat dari kelancangan rasio yang mencoba mengurung Yang Tak Terbatas ke dalam batasan indrawi yang terbatas.
Tauhid Sosial dan Eksklusivitas Cahaya Kebenaran: Refleksi Surah At-Taubah
Bergerak ke surah At-Taubah, kategori mutiara Al-Qur’an beralih dari dimensi kosmologis-metafisik menuju dimensi sosiologis-ideologis. Di sini, tindakan Tuhan mewujud dalam bentuk pengawalan terhadap kebenaran sejati melalui risalah kenabian. Allah SWT berfirman:
يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّطْفِـئُــوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّٰهُ اِلَّاۤ اَنْ يُّتِمَّ نُوْرَهٗ وَلَوْ كَرِهَ الْـكٰفِرُوْنَ
Artinya: “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9]: 32).
Ayat ini berbicara tentang dialektika sejarah antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bathil). Usaha manusia untuk mereduksi, mendistorsi, atau bahkan melenyapkan nilai-nilai ketuhanan digambarkan secara ironis: seperti seseorang yang mencoba meniup cahaya matahari dengan mulutnya. Sebuah tindakan yang sia-sia dan menggelikan.
Melalui ayat ini, Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa salah satu tindakan utama Tuhan adalah menjaga kontinuitas kebenaran di muka bumi. Diutusnya Rasul dengan membawa petunjuk (huda) dan agama yang benar (dinul haqq) adalah jaminan logis bahwa kegelapan spiritual tidak akan pernah menang secara permanen atas cahaya Ilahi.
Bagi pembaca kontemporer, ayat ini memberikan optimisme eksistensial. Di tengah gempuran nihilisme, skeptisisme akut, dan krisis moral modern, esensi kebenaran agama akan selalu menemukan jalannya untuk menyempurnakan diri, melampaui segala bentuk resistensi ideologis manusia.
Determinisme Kebenaran, Kebebasan Berpikir, dan Tanggung Jawab Insani
Salah satu bagian paling menantang dalam teks surah Yunus yang dibahas dalam ngaji ini adalah ketegangan teologis antara kehendak mutlak Tuhan (masyi’ah) dan kebebasan manusia (free will). Al-Qur’an menyatakan:
وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا ۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Artinya: “Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di Bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS. Yunus [10]: 99).
Ayat ini meruntuhkan segala bentuk radikalisme dan pemaksaan dalam beragama. Tuhan, dalam kemutlakan kuasa-Nya, sengaja mendesain dunia ini penuh dengan pluralitas pilihan. Jika Tuhan mau, Dia bisa saja menciptakan manusia seperti malaikat yang terprogram untuk taat tanpa pilihan. Namun, tindakan Tuhan justru memberikan ruang bagi kebebasan memilih, karena di sanalah letak nilai dari ujian eksistensial manusia.
Namun, kebebasan ini datang dengan konsekuensi epistemologis yang berat. Pertama, penggunaan akal: Tuhan menimpakan kenajisan spiritual (al-rijs) kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya (la ya’qilun). Artinya, iman dalam Islam bukan sekadar kepatuhan buta, melainkan hasil akhir dari proses berpikir yang jernih.
Kedua, objektivitas kebenaran: kebenaran telah datang dari Tuhan (qad ja’akumul haqq). Siapa yang memilih petunjuk, ia beruntung; siapa yang memilih kesesatan, ia menanggung kerugiannya sendiri.
Ketiga, prinsip non-koersi: nabi pun ditegaskan bukan sebagai penjaga (wakil) yang bertanggung jawab atas pilihan iman manusia. Tugas nabi, dan tugas para dai hari ini, hanyalah menyampaikan (tabligh) dan bersabar menanti keputusan hukum terbaik dari Allah (wasybir hatta yahkumallah).
Tak hanya itu, Tuhan juga menegaskan ke-Maha Hadiran-Nya dalam setiap aktivitas sekecil apa pun melalui kesaksian-Nya yang mutlak. Dinyatakan dalam Al-Qur’an:
وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِ ۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ وَلَاۤ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Artinya: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan, dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur’an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya. Tidak lengah sedikit pun dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah, baik di Bumi maupun di langit. Tidak ada sesuatu yang lebih kecil dan yang lebih besar daripada itu, melainkan semua tercatat dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Yunus [10]: 61).
Ayat ini merupakan jaminan bahwa keadilan Tuhan bekerja pada level kuantum: tidak ada tindakan manusia, sekecil kebaikan atau keburukan seberat atom, yang luput dari radar pengawasan dan pembalasan Ilahi.
Menemukan Mutiara Hidup di Tengah Kedangkalan Modernitas
Melalui tadarus mendalam atas episode ke-27 Ngaji “Jawahirul Qur’an” ini, kita diajak oleh Gus Ulil untuk merekonstruksi kembali cara kita memandang Tuhan, alam semesta, dan diri kita sendiri. Teks-teks Al-Qur’an yang dinarasikan “Jawahirul Qur’an” tentu saja bukan sekadar lembaran dogma masa lalu, melainkan sebuah panduan untuk membaca realitas hari ini.
Syahdan. Ketika kita merangkum mutiara-mutiara dari surah Al-A’raf, At-Taubah, dan Yunus, kita menemukan sebuah kesimpulan besar: tindakan Tuhan adalah orkestrasi agung yang menuntut respons kesadaran dari manusia.
Pertama, Dimensi: tindakan Tuhan (Af’alullah) adalah respons eksistensial manusia. Kedua, Kosmologis: menciptakan alam, mengatur siang-malam, dan menurunkan hujan, implementasinya adalah bersyukur, bertafakur, menolak kerusakan di bumi. Ketiga, Epistemologis: menampakkan keagungan secara terbatas (tajalli) dengan implementasi menyadari batas rasio, bertobat dari keangkuhan intelektual. Keempat, Sosiologis: menjaga cahaya kebenaran dan mengutus Rasul, Implementasinya menggunakan akal, menolak pemaksaan, konsisten dalam iman.
Secara tidak langsung, membaca “Jawahirul Qur’an” dan tindakan-tindakan Tuhan adalah sebuah undangan untuk hidup dengan penuh kesadaran (mindfulness). Menyadari bahwa di setiap hembusan angin, di setiap perubahan waktu, dan di setiap ketetapan takdir yang menyapa kehidupan kita (baik berupa nikmat maupun musibah) ada kehendak dan kasih sayang Tuhan yang sedang bekerja. Tugas kita hanyalah satu: mengikutinya dengan penuh kesabaran, menggunakan akal dengan jernih, hingga kelak Dia, Sang Hakim Terbaik, memberikan keputusan-Nya kepada kita semua. Wallahu a’lam bisshawab.
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.





