Lailatul Qadr dan Peringatan Nuzulul Qur’an

Hikmah Jum’at kali ini berawal dari pertanyaan Lailatul Qadar itu kan malam diturunkannya al-Qur’an yang akan terjadi di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tapi kok peringatan Nuzulul Qur’an (turunnya al-Qur’an) biasanya dilaksanakan pada malam ketujuh belas bulan Ramadhan. Itu kan sekilas hampir-hampir mirip dengan Pak Rebo, tapi lahirnya hari Kamis. Karena ada satu-dua kaum muslimin yang masih butuh penjelasan akan hal itu, maka Hikmah Jum’at kali ini akan membahasnya. Mumpung memontumnya pas banget di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini.

Perlu digarisbawahi bahwa untuk membahas tema ini yang perlu dikedepankan adalah keimanan dalam hati, bukan akal. Karena Nuzulul Qur’an itu tidak ada bukti fisik-materiilnya. Apa bukti bahwa Rasulullah telah bertemu dengan malaikat Jibril, apakah ada tanda tangan dari Jibril atau ada stempel misalnya. Ataukah adakah saksi atas pertemuan tersebut. Juga tidak ada jejak digital yang bisa dilacak. Kalau toh ingin dibuktikan, yang bisa diketengahkan adalah bukti-bukti argumentatif saja, bukan fisik-material. Jadi yang mendasari pembahasan Lailatul Qadar atau Nuzulul Qur’an itu hanyalah iman saja.

Ringkasnya begini, Lailatul Qadar itu adalah turunnya al-Quran dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia secara keseluruhan (Jawa: secara glondongan). Tidak usah ditanya apakah langit dunia itu, karena ini adalah konsep abstrak yang hanya cukup diimani tidak perlu dibahas panjang lebar. Itulah Lailatul Qadar yang keutamaannya melebihi seribu bulan atau 83 tahun. Meskipun itu terjadinya hanya sekali, akan tetapi setiap tahun keutamaannya masih berlaku dan diberikan Allah untuk umat Islam. Kemungkinan terjadinya peristiwa ini pada malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Imam al-Syuhuthi dalam al-Ithqaan fii Uluum al-Quran , menjelaskan sebagaimana berikut ini:

اختلف في كيفية انزاله من اللوح المحفوظ علي ثلاث أقوال احدها وهوالأصح والاشهرأنه نزل الي سماء الدنيا ليلة القدر جملة واحدة ثم نزل بعد ذلك منجما في عشرين سنة أو ثلاثة وعشرين علي حسب الخلاف في مدة إقامة صلي الله عليه وسلم بمكة بعد البعثة.

Bacaan Lainnya

(Ulama) berbeda pendapat dalam hal bagaimana turunnya wahyu al-Quran dari Lauh al-Mahfudz. Ada tiga pendapat tentang hal itu. Salah satunya dan ini yang paling kuat dan paling populer, bahwa al-Quran turun (dari Lauh Mahfudz) ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar sekali waktu secara keseluruhan. Setelah itu baru turun secara berangsur-angsur dalam kurun waktu dua puluh tahun atau dua puluh tiga tahun, perbedaan lamanya waktu itu berdasar pada perbedaan pendapat tentang lamanya waktu Rasulullah tinggal di Makkah pasca dinobatkan sebagai Rasul.

Nah, setelah al-Quran berada di langit dunia, baru kemudian ayat-ayatnya diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah. Yang diterima untuk kali pertama oleh Rasulullah adalah 5 ayat dari surat al-Alaq. Inilah yang tampaknya oleh sebagian umat Islam di Indonesia diperingati sebagai peristiwa Nuzulul Quran. Imam as-Syuyuthi dengan mengutip berbagai riwayat menjelaskan sebagai berikut:

إختلف فى أول ما نزل من القرأن أحدها وهو الصحيح اقرأ باسم ربك …وأخرج الحاكم فى المستدرك والبيهقى فى الدلائل وحصححاه عن عائشة قالت أول سورة نزلت فى القرأن اقرأ باسم ربك

(Ulama) berbeda pendapat mengenai ayat al-Qur’an yang pertama kali turun, salah satu (pendapat) dan ini yang shahih bahwa -surat yang pertama kali turun- adalah iqra’ bismirabbik… Imam Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan Imam Baihaqi dalam kitab ad-Dalaail meriwayatkan dan menshahihkan riwayat tersebut, dari Aisyah ia berkata bahwa surat al-Qur’an yang pertama kali turun adalah iqra’ bismirabbik… .

Pertanyaannya kemudian adalah, pada tanggal berapa ayat tersebut diturunkan, apakah tanggal 17 Ramadhan atau yang lainnya. Nah, untuk menjelaskan tanggal ini para ulama mengaitkannya dengan QS. Al-Anfal [8]: 41 berikut ini:

واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسه وللرسول ولذى القربى واليتمى والمسكين وابن السبيل إن كنتم أمنتم بالله وما أنزلنا على عبدنا يوم الفرقان يوم التقى الجمعان والله على كل شيء قدير

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kalian peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) di Hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Yang perlu diperhatikan dari ayat di atas adalah jika kalian beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan (al-Qur’an) kepada hamba Kami pada Hari Furqan yaitu hari bertemunya dua pasukan. Maksud dari apa-apa yang diturunkan kepada hamba Kami adalah al-Qur’an. Sedangkan Hari Furqan adalah hari dimana Allah telah membuat garis demarkasi secara terang benderang antara yang haq dan yang batil, lewat kemenangan umat Islam dalam perang Badar. Jadi Hari Furqan itu tidak lain adalah perang Badar. Nah, tentang kapan perang Badar itu terjadi?, ulama berbeda pendapat. Mayoritas menjelaskan bahwa itu terjadi pada 17 Ramadhan. Jadi al-Qur’an itu dirutunkan pada tanggal yang sama dengan terjadinya perang Badar, yaitu 17 Ramadhan. Nah, kalau begitu maka awal diturunkannya al-Qur’an kepada Rasulullah itu, ya tanggal 17 Ramadhan.

Berkenaan dengan hal itu Ibn Katsir dalam karyanya Tafsir al-Qur’an al-Adzim atau yang sering dikenal dengan Tafsiir Ibn Katsir, menjelaskan dengan merujuk berbagai riwayat salah satunya sebagai berikut:

قال الحسن بن علي: كانت ليلة الفرقان يوم التقى الجمعان لسبع عشرة من رمضان. إسناد جيد قوي

Sayyidina Hasan bin Ali berkata: “Malam Furqan adalah hari bertemunya dua pasukan pada tanggal tujuh belas Ramadhan.

Beliau juga membahas dalam karyanya yang lain yakni di dalam al-Bidaayah wa an-Nihaahyah Juz 3 salah satu riwayat yang dikutip menjelaskan bahwa wahyu al-Qur’an pertama kali turun adalah pada hari Senin tanggal tujuh belas Ramadhan:

عن أبى جعفر الباقر أنه قال: كان ابتداء الوحي إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الإثنين لسبع عشرة ليلة خلت من رمضان

Dari Abu Ja’far al-Baaqir bahwasannya dia mengatakan: “Permulaan wahyu yang turun kepada Rasulullah saw. adalah hari Senin, tanggal tujuh belas Ramadhan.”

Berkenaan dengan hari, mayoritas ulama berpendapat bahwa yang lebih kuat bahwa hari diturunkannya wahyu pertama kali itu adalah Senin karena ada riwayat yang menjelaskan tentang hal itu, sebagaimana berikut ini:

عن قتادة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صوم يوم الإثنين فقال: ذاك يوم ولدت فيه ويوم أنزل علي فيه

Dari Qatadah bahwa Rasulullah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda: “Hari tersebut adalah hari kelahiranku dan hari (al-Qur’an) diturunkan kepadaku.”

Demikian Hikmah Jum’at kali ini, semoga bermanfaat. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadr, yang keutamaannya lebih dari seribu bulan. Billaahi fii Sabilil Haq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *