“Hai, Nenek. Assalamu’alaikum,” sapa seorang anak perempuan sambil menatap layar handphone dengan wajah berseri-seri. Sejak dia pindah rumah bersama orang tuanya dua tahun lalu, baru sekali ia berkunjung ke rumah neneknya, karena jauh dan berbeda kota. Anak perempuan tersebut bernama Shila. Tak berbeda, wajah nenek juga menampakkan bahwa ia sedang bahagia.
“Wa’alaikumussalam, Shila. Shila apa kabar?” tanya nenek di seberang sana.
“Alhamdulillah, Shila baik-bak saja, Nek. Nenek sendiri gimana? Sehat kan?”
“Iya, Alhamdulillah,”jawab Nenek.
Singkat cerita, Shila dan neneknya sudah berhenti telponan. Banyak sekali yang mereka bicarakan tadi, mulai tentang sekolah Shila dan adiknya yang bernama Farih. Kemudian tentang pekerjaan Papah hingga cerita tentang mimpi neneknya yang melihat adik Shila yang beberapa hari lagi akan lahir. Tapi dalam mimpi tersebut, Nenek Shila hanya bisa melihat dari luar ruangan. Padahal, nenek sudah memaksa perawat dan dokter agar diizinkan masuk supaya bisa memeluk cucunya. End, nenek terbangun dari mimpinya.
***
Di sebuah kamar berukuran lima kali empat meter, “Bia, jangan main handphone terus atuh! Nanti sore kamu sudah harus berangkat ke pesantren,” ucap Mama Bia dengan nada kesal karena setiap mama melihat Bia, pasti Bia sedang mengoperasikan gawainya.
“Mah, Bia capek. Ini aja baru istrahat.”
“Mana ada, dari tadi pagi kamu tiduran di situ sambil main handphone. Belum puas main seharian?” omel Mamah.
“Bia abis bersih-bersih, Mah. Mbak Ika ga dateng, anaknya sakit,” Bia menjelaskan dengan nada sedikit tenang. “Cek aja kalau Mamah ga percaya. Bia juga abis nganterin Hilal sama Zahra les.”
Sekarang pukul empat sore, Bia akan diantar papah kembali ke pesantren pukul tujuh. Papah belum pulang, jadi menurut Bia ia bisa bersantai beberapa jam. Toh barang-barang yang akan dibawa ke pesantren juga telah siap sejak pagi.
Seminggu berlalu, Bia sudah kembali ke pesantrennya. Begitupun juga Shila, teman seangkatan Bia plus mereka sahabatan. Tahu apa salah satu sifat Bia? Bia adalah orang yang gampang rindu. Baru saja seminggu, dia sudah rindu dengan dua adiknya yang walau menyebalkan. Juga pasti rindu Mamah dan Papah. Satu lagi sifat Bia yang hanya ditujukan pada orang terdekatnya termasuk Shila, yaitu cerewet.
Malam itu, setelah agenda. Mereka duduk di salah satu bangku taman sambil memandangi bintang gemintang di langit. Angin bertiup sepoi-sepoi. Abang penjual sate pinggir taman itu sedang mengipasi sate-satenya. Asap mengepul beraroma lezat itu ikut serta menghiasi malam.
“Shil, tau nggak?”
“Ya nggak lah, kan Lu belum ngasih tau gimana si!” seperti biasa, Shila menjaili sahabatnya itu. Dia tidak tahu kalau sebenarnya Bia ingin curhat.
“Shill, kangen banget ama adek-adekku, mamah, ama papahku. Shila, aku kangen ama mereka,” Bia merengek.
“Lebay banget kamu, Bi?” ejek Shila karena gemas dengan sahabatnya itu. Baru saja seminggu berpisah dengan keluarganya sudah rindu. Padahal jarak pesantren dengan rumahnya hanya melewati dua kota. Berbeda dengan Shila yang jarak pesantren dengan rumahnya harus melewati banyak kota, beda provinsi.
“Shil, sumpah ga boong, kangen banget….” Di tengah kalimatnya tiba-tiba terhenti. Kemudian menengok Shila dan kembali melanjutkan kalimatnya, ”Shil, kemaren waktu aku pinjem handphone pengurus buat nelpon, aku ga sengaja liat story dan itu story mamah kamu.” Kalimat Bia barusan mampu membut Shila penasaran dan lupa ingin sekali lagi mengejek Bia. Shila balik menatap Bia, dengan arti peanasaran.
“Berupa foto keluarga yang di dalamnya ada kamu. Mamahmu membuat story tersebut dengan caption ‘Rindu Tawanya’. Kemudian ada love pada perempuan tua yang duduknya tak jauh darimu.”
Mendengar Bia bercerita demikian, sekarang bukan Bia yang memasang raut muka sedih. Melainkan Shila. Dan tiba-tiba Shila meneteskan air matanya.
“Shila, kamu kenapa, kok nangis? Gara-gara aku?” Bia panik.
“Nggak apa kok. Cuma kangen. Perempuan tua itu adalah nenekku. Beliau udah meninggal setahun yang lalu,” tangis Shila semakin menjadi-jadi.
“Maaf, aku nggak tau,” Bia serbasalah.
“Bi, tau ga?” Bia ingin sekali menjawab seperti Shila tadi, tapi ia tahu. Sekarang bukan waktu yang tepat. “Beberapa hari sebelum nenekku meninggal, aku dan nenek sempat telponan. Seminggu kemudian, mamah dapat telpon dari paman bahwa nenek telah kembali pada penciptanya.
“Malam itu juga, ayah membawa kami pergi ke rumah nenek. Sampai di sana, nenek saya sudah dimakamkan. Tanpa dapat diduga, malam itu juga mamah melahirkan. Aku masih ingat, seminggu sebelum nenek meninggal, nenek bercerita saat jadwal telpon kami. Bercerita bahwa beliau melihat adikku yang akan lahir, namun nenek tidak bisa menyentuh adikku itu. Ternyata mimpi itu adalah tanda bahwa nenek akan meninggal.” Kini Shila ada dalam pelukan Bia.
“Yang sabar ya, Shil. Semoga nenekmu diterima di sisi-Nya.”
End.
Oleh: Maghfirotunni’mah, Santri-Murid Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Pamotan Rembang







