Rudi adalah seorang anak yang sangat emosional, dalam artian tidak piawai dalam mengontrol amarahnya. Kerap mengumpat tiada sebab, juga teriakan yang ia lontarkan pada keadaan, setiap waktu. Padahal, bapaknya adalah orang terpandang tersebab keahliannya dalam menekan hawa nafsu, sehingga bapaknya pernah berparadigma, bahwa lingkungan sekolah masa kini yang terkenal anarki menjadi faktor utama atas perangai Rudi yang demikian.
Beralaskan sebuah pagi yang cerah. Baskara perkasa berani memamerkan golden hour ciamiknya, sehingga menakut-nakuti laskar kumolonimbus yang langsung lari terbirit, menjauh dari cakrawala. Cecuitan prakarsa apit-apit liar seraya berkidung merdeka, tanda alam masih sehat dan asri, di atas Dusun Karanganom. Selaras dengan Rudi yang tengah menyemir sepatu kulitnya, bersiap untuk belajar ke sekolah, sembari menunggu motor butut bapak siap meroda.
“Sudah selesai belum, Pak?” tanya Rudi cemberut Bapak menoleh ke arah wajah malas anak semata wayangnya itu.
“Sudah dong, Nak. Ayo kita berangkat!” ajak Bapak, sembari mengusap peluh yang bercucuran, tersebab harus mereparasi mesin bongsor motor tuanya.
Dengan langkah gontai tak bersemangat, Rudi naik ke atas jok empuk motor bapaknya, memeluk erat perut kekar bapaknya, cepat mereka meninggalkan pekarangan rumah tercinta. Skenarium Dusun Karanganom masihlah asri dan alami. Ratusan petak sawah berterasering menjadi santapan mata di setiap harinya. Bahkan, pepohonan jati masih berdiri gagah berjejer membentuk hutan nan rapi. Yang jelas, mustahil bagi polusi untuk bermukim di dusun ini.
Bapak dan Rudi sedang menyusuri irigasi kecil, dihuni oleh laskar berudu dan ikan-ikan kecil yang bersimpang siur keriangan. Masih berjalan di tengah persawahan, di bawah naungan trembesi yang rindang. Motor bapak mogok sekonyong-konyongBapak terperanjat dan segera memeriksa mesin motornya, sementara Rudi bersitegang terpaku di atas jok, raut wajahnya memasam. Berusaha menahan emosi, merasa tak etis dengan bapak yang bersusah hati.
“Kita jalan saja yuk!” ajak bapak denagn senyum simpulnya. Apa boleh buat, Rudi hanya bisa termanggut dan patuh pada nasib.
Butuh dua kilometer yang harus mereka tempuh, untuk memperbaiki motor di bengkel kota, sementara waktu telah menunjukkan pukul 07.00. Rudi telah dinyatakan terlambat dan harus memenuhi surat izin yang telah ditentukan kepada satpam sekolahnya. Berhubung jalan menuju bengkel dan sekolah Rudi bertolak belakang, Rudi berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan seorang diri. Dia meminta izin kepada bapak.
“Pak, sudah jam segini, sudah terlambat sekali. Pasti aku akan dimarahi guru sesampainya di sana. Bagaimana kalau Rudi berjalan sendiri saja?” pinta Rudi mengusul.
“Ya sudah kalau kamu bisa pergi sendiri. Lanjutkanlah!” jawab bapaknya, kemudian Rudi kalang kabut berlari, meninggalkan bapak menitih motornya yang mogok jauh di belakang.
Di tengah perjalanan menuju sekolah, Rudi merasa lelah dan memilih untuk berehat sejenak di bawah teduhnya rembusai daun pohon Trembesi raksasa besar. Yang benar saja, Rudi sudah mandi dua kali pagi ini. Pertama seusai subuh, yang kedua adalah mandi keringat yang tengah membanjiri tubuhnya. Terlihat dari seragam merah putihnya yang basah kuyup tersebab cucuran keringat kala ia berlari. Mungkin sang angin yang bersemilir sejuk mampu membawa basah di seragamnya. Rudi pun menjemur pakaiannya di salah satu tangkai Trembesi itu.
PLUK
PLUK
Tiba-tiba Rudi terperanjat kaget. Niat beristirahat dan mengeringkan seragamnya, malah dijatuhi tai oleh dua burung pipit yang bertengger di salah satu ranting tertinggi di pohon Trembesi itu, mengenai seragam yang terjemur bersimbah keringat itu. Alangkah sialnya Rudi. Wajahnya memerah padam bak sisa api di kotak kremasi.
“Tai kamu, Burung! Awas saja kau ya, sialan!” cetus Rudi kepada sepasang burung Emprit yang bersalah tadi. Mereka yang terkejut, terbang ke langit cergas, hingga mata Rudi tak mampu meninjau mereka. “Ah, sialan sekali mereka itu.”
Tidak ada tissue, tidak ada air, Rudi memilih dedaunan trembesi itu untuk menyingkirkan kotoran yang menempel di seragam putih merahnya. Hilang kesadaran, bahwa Rudi telah menghabiskan lima belas menit hanya untuk sekadar berteduh di sana. Dia kembali berlari kencang, menyusuri jalan bebatuan khas dusun tradisional pada umumnya, walaupun masih ada rasa dongkol akan sepasang burung sialan di dalam benaknya.
Rambut acak-acakkan tersibak oleh angin kencang, kaki linu dan pegal terpaksa digenjot keras untuk terus berlari mengejar keterlambatan, juga seragam yang ia kenakan masihlah basah. Tidak jauh berbeda dari seonggok cucian basah dengan semerbak tai burung yang menyengat. Ingin rasanya mengumpat sekali lagi, namun apa boleh buat? Kadung terjadi.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Rudi sampai di gerbang sekolahnya yang selalu tampak bersahaja. Dia masuk saat jam pelajaran tengah berlangsung, sehingga Rudi berfatwa, bahwa mereka akan tak acuh dengannya yang compang-camping kemalangan layaknya sekarang dia berada. Dengan lunglai Rudi berjalan mengarah kepada kelasnya.
“Hei, kamu! Sudah terlambat, ingin kabur. Sini kamu!” panggil seorang pria besar dan kekar, membawa tonfa hitam panjang di samping kanannya, dan selalu menggoyangkan kumis klimisnya nan tebal. Pria ini menjadi ketakutan Rudi. Siapa lagi jika bukan pak satpam? Rudi pun segera menghampirinya.
“Sudah terlambat jauh sekali, enak sekali jidatmu tercipta untuk berbebas diri,” ujar pak satpam mengintimidasi. Rudi menelan ludah karena takut.
Kata-kata yang pak satpam lontarkan laksana ujaran penindasan dari sekomlotan preman-preman di pasar. Pak satpam masuk ke dalam posnya, lalu kembali membawa secarik kertas izin berwarna merah, seraya menyerahkan kertas itu kepada Rudi yang terpaksa menunggu.
“Ambil ini! Isilah sejujurnya, serta berikan kepada wali kelasmu, paham?” perintah satpam sedikit keras. Langkah kaki memutar balik dari cekaman satpam, berjalan cepat menuju ruang kelasnya.
Rudi berlari menuju kelasnya dengan terseok-seok, langkahnya menyeret kepada kerasnya lapangan paving, tanda lelah sekali ia berlari. Pintu kelasnya terbuka lebar, sehingga Rudi dapat menelisik siapa saja yang tengah mengisi kelasnya.
“Pak Deni? Sial sekali hidupku!” umpat Rudi. Ternyata ia terlambat dua jam perjalanan.
Kepala Rizqi menengok ke arah jam dinding di atas pintu kelasnya. Berusaha yakin akan jam itu telah menunjukkan pukul 08.15, sudah semestinya jam matematika berlangsung. Pelajaran yang diampu oleh wali kelasnya sendiri, Pak Deni. Rudi pun masuk penuh rasa canggung dan malu.
Langkah cepatnya mengantar Rudi menuju bangku kosong di pojok belakang, sembari mencoba untuk tidak memedulikan Pak Deni yang sedari tadi mengawasi pergerakan Rudi. Seperti yang Rudi ketahui sejak awal dia menginjakkan kaki di kelas, pasti Pak Deni tidak akan tinggal diam.
“Rudi, menghadap ke bapak!” teriak Pak Deni cukup lantang, membuat seisi kelas membisu, tiada sedikitpun suara.
Rudi melangkah ke depan Pak Deni dengan badan yang gemetar. Rudi gusar, Pak Deni menyudutkan mentalnya. Suatu kesalahan yang fatal jika sampai-sampai tak selangkah dengannya.
“Apakah kau sadar dengan ketidak sopananmu?” tanya Pak Deni menginterogasi. Rudi hanya bisa menelan ludah, pandangannya tertunduk, sembari menyembunyikan tangan di balik punggung. Pak Deni melangkah ke depan pintu kelas, kemudian berhenti, tetap menatap Rudi.
“Sekarang, lakukan push-up dua puluh kali di tengah lapangan!” perintah Pak Deni dengan suara baritonnya memaksa Rudi untuk menanggung malunya. Amarah Rudi hampir saja memberontak meledak, meskipun ketenangan palsu tergambar di wajahnya.
Terik matahari menyorot Rudi yang tengah frustasi, kepada keadaan, juga dengan perlakuan orang-orang sekitar yang mendongkolkan. Melihat Pak Deni yang masih bersikukuh mengawasinya, Rudi mengambil posisi push up. Baru satu gerakan, satu sekolah ribut seketika. Segala atensi tertuju padanya. Bukan hanya melihat, mereka juga menyoraki dengan cacian pedih dari mulut jahat mereka. Rudi yang marah, hanya dapat mengumpat dalam hati.
Set push up pun lekas berakhir. Tidak dengan cibiran mereka yang semakin menjadi-jadi, bahkan ada sesekali yang melempari Rudi dengan pulpen, pensil, dan penghapus.
“Dua puluh kali lagi!”
“Telat terus!”
“Gak malu sama tukang kebun?!”
Pada akhirnya, riuh perih cibiran itu berhenti. Seiring dengan Rudi yang berjalan menuju ruang kelasnya. Matanya membara akan amarah, angkara murka sedang mentakhtai pikirannya. Wajahnya memerah bak dinamit rentan diledakkan, bahkan nurani dan kesabaran dibungkam oleh tukikkan keras emosi yang meraja. Pak Deni tak akan acuh, teman sekelas malah mericuh. Turut andil dalam melempari Rudi dengan hujatan, hingga alat tulis.
“Sudah pintar lu ya!” ketus seorang penindas di kelasnya. Rudi tak peduli, selagi masih ada Pak Rudi di kelasnya. Tiada seorangpun yang berniat membelanya. Apa boleh buat, Rudi kembali duduk di bangkunya.
“Oke, karena jam pelajaran telah berakhir, akan saya jadikan tugas kali ini sebagai PR ya? Boleh bekerja sama bersama teman-temannya,” sahut Pak Deni dengan suara lantang khasnya. Semua murid setuju, lalu Pak Deni pergi meninggalkan kericuhan di kelas Rudi.
Rudi melihat ke papan tulis, masih tersisa bercak noda perkalian satuan yang Pak Deni wejangkan barusan kepada seluruh murid di kelas, kecuali Rudi yang terpaku di lapangan sekolah. Buku tulis matematika kosongnya, seketika terukir oleh PR yang dibubuhkan Pak Deni tadi. Tak lama kemudian, trio penindas di kelasnya datang, hendak mengusik aktivitas Rudi.
“Heh! Suruh siapa nulis?” ketus Ade, penindas yang paling gemuk badannya. Rudi mendongak ke wajah Ade seketika.
“Gakpapa, De. Ini membuktikan kalau kehinaannya tadi berjaya,” tukas Arman, ketua komplotan. Wajah Rudi memerah padam, tangannya mengepal tampak berurat.
“Iya nih, guys. Bagaimana kalau kita jadikan si patuh satu ini babu kita yang baru?” Nopal mengusul, teman sekomplotannya mengangguk tanda setuju.
Tiba-tiba, Ade menarik kerah Rudi, lalu menghempaskannya ke lantai kelas yang dingin. Tawa membuncah puas dari mulut mereka yang menganga lebar. Rudi yang terjerembab dengan wajah murkanya, mulai berdiri perlahan, matanya berapi-api laksana neraka, seraya menatap tajam pada wajah menjengkelkan Ade yang tengah tertawa keras.
DUAK!
Kepalan kuat Rudi bak meteor, mendarat di gigi kelinci Ade. Membuat kepalanya terpelanting ke sudut kelas. Badan gempal Ade seolah-olah tiada upaya untuk menukik balik. Seisi kelas senyap, termasuk Arman dan Nopal yang terpaku menatap kejutan dari Rudi. Wajah pecundang mereka terkesiap.
“Pal, cabut aja yuk! Nanti kamu bakal kena imbasnya,” ajak Arman panik, sembari menarik lengan baju seragam milik Nopal.
“Gimana, Man?”
“Ayo cepat ke luar! Nanti malah giliran kamu yang jadi sasarannya.”
Rudi menoleh kepada Arman dan Nopal yang tengah ribut. Mereka terdiam seketika, sekujur tubuh terbanjiri oleh keringat. Tak lama kemudian, Rudi menghampiri mereka dengan langkah setengah lambatnya, kemudian segera mencengkeram kerah kompak seragam Arman, berbeda dengan kerahnya yang kadung menjadi santapan debu dan lusuh ubin kelas.
“Bajingan! Puas menjadi penindas hah?! Puas?” pekik Rudi lantang. Nopal pun berlari kocar-kacir ke luar kelas, sementara seisi kelas masih terdiam di atas pijakan mereka.
Beberapa pukulan kembali melibas wajah Arman, hingga menimbulkan beberapa memar biru, dan merah, bahkan berdarah di wajah penuh rasa takutnya. Rudi yang dikuasai angkara murka, terus konsisten dengan tinju beruntun pada wajah seorang penindas di kelasnya. Sampai akhirnya, Arman tidak sadarkan diri, bersamaan dengan kedatangan Pak Deni dan Nopal berlarian di sepanjang koridor sekolah, mereka meleraikan aksi kekerasan yang dilakukan Rudi.
***
“Maafkan saya, Bapak. Tapi inilah keputusan dari hasil rapat pleno kami akan persoalan anak bapak, Rudi,” ucap kepala sekolah sedikit lirih, memberikan secarik surat berstempelkan lambang negeri.
“Anak bapak akan kami skors selama tiga minggu. Setelah dirasa mengalami pembenahan, Rudi diperkenankan sekolah kembali,” lanjut Kepala Sekolah itu. Bapak Rudi hanya mengangguk, mengucap salam, dan beranjak dari hadapan orang tertinggi di sekolah itu.
Rudi yang compang-camping dan beranjakan, menunggu di atas jok motor butut bapak. Matanya masih menatap lamat ruangan kelasnya yang kesekian kali. Penuh duka, penuh sengsara.nBapak Rudi kembali, menyalakan mesin motor, kemudian bertolak ke kediaman. Tangan bapak masih memegang erat surat skorsing Rudi untuk sebulan mendatang.
Sepanjang perjalanan, hanya lamunan yang Rudi dalami. Membiarkan bapaknya melahap keindahan Dusun Karanganom terbalut terik mentari di siang hari. Mungkin cukup baginya untuk melahap semua pedih, emosi kadung tersulut penuh, hingga merebak sampai ke mulut dan wajah para penindas barusanBapak sengaja melihat raut wajah anaknya via kaca spion. Ternyata masih geram dan marah. Akibat polah mereka, Rudi terpaksa harus berdiam di rumah.
Tiga menit lebih mereka menyusuri hegemoni molek alam Dusun Karanganom, sampailah mereka di kediaman bersahajanya. Bapaknya lekas mengajak Rudi menuju kamarnya.
“Oh iya, jangan lupa ambil paku dan palu ya, Nak!” pinta bapak, Rudi termanggut, menuju gudang untuk mengambil kotak peralatan begitu cergas, kemudian menyusul bapaknya yang telah menunggu di kamarnya. Apa yang hendak ia lakukan ya? Pikir Rudi menerka-nerka.
“Coba kamu paku dinding kamarmu, Di,” tawar bapaknya serius. Rudi pun menancapkan sebuah paku, dan memalu keras. Berhasil.
“Bagus, Nak. Untuk seterusnya, setiap kali emosimu hendak meluap, segera ambil paku, dan menancapkannya di dinding kamarmu ini,” lalu bapaknya pergi, meninggalkan tanda tanya di dalam kekalutan pikiran Rudi.
***
Hari-hari lekas berganti, selaras dengan waktu yang lambat laun berlalu. Rumpunan paku-paku di dinding hampir memakan seluruh tempat kosong. Layaknya lapas berbahaya yang sengaja didesain mencekam dengan paku-paku itu. Entah pawana bahagia macam apa yang berkesiur hari ini, Rudi sudah jenuh dengan emosionalnya. Kalap akan lelah karena kesehariannya yang terisi oleh memaku dinding. Sampai pada bapak yang mulai menghampiri Rudi.
“Wah, sudah banyak ya, Nak? Sekarang, coba cabut semuanya!” pinta bapak lembut, Rudi yang kebingungan ingin menyergah sang bapak. “Jangan tanya dulu, cabut saja.”
Apa boleh buat, paku-paku itu kembali ditarik dari tempat persemayamannya. Sulit, bahkan beberapa dari mereka masih bersitegang tangguh di dinding. Hendak marah, namun dengan cepat ditekan oleh alasan tak ingin memaku kembali. Terpaksa, Rudi harus menuntaskan semuanya tanpa terkecuali. Pada akhirnya, paku-paku itu berhasil ia kumpulkan kembali ke dalam kotak peralatan. Tinggallah lubang-lubang buruk yang memperjelek tampilan kamar.
“Percaya atau tidak. Hati manusia yang penuh akan dendan dan amarah, bak paku yang dipalu ke dinding itu. Bermula dari suci dan murni, tanpa di gaduh oleh apapun bentuk gubahan duniawi. Jika sudah digubahi oleh amarah sebagai paku, maka ada dua kemungkinan. Jikalau ditinggalkan tertancap, maka akan bermakna masih ada dendam yang tersimpan. Jikalau dapat dilepas, maka akan merusak tatanan hati karena lubang yang ditinggalkan tadi,” bapak berpetuah. Rudi bergeming.
“Tenang saja, bisa diperbaiki dengan bertobat dan memohon ampunan-Nya yang riil. Selepasnya, berlanjut pada pilihanmu, apakah hendak membenah hati dan diri untuk menghadapi lain ujian yang kian memadat, atau masih ingin bertahan dengan guratan lubang yang merusak itu. Semua pilihan, bergantung pada tanganmu, Nak.”
Wejangan ajaib bapaknya, mampu membuka secercah arah nan terarah menuju kependaran. Rudi mulai sadar akan sifat emosionalnya selama ini. Ternyata, mengemban beban akan hawa nafsu dan amarah itu mutlak memiliki ketahanan yang super dan kompak. Bukankah salah satu syarat untuk menjadi penduduk surga yang kekal adalah menginjak nafsu dan melangkah ke dalamnya? Rudi yang tercerahkan segera mempersiapkan diri untuk menuju sekolah di keesokan harinya. Ini hari terakhir hukuman skorsnya, berharap tidak akan terulang.
“Pak, terima kasih. Tapi tolong Rudi untuk memperbaiki dinding kamar Rudi lagi ya, Pak,” tanggap Rudi lembut, dibalas dengan sumringah halus nan terukir di wajah tampan bapak.
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Sanja Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon asal Padang, Anggota Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo







