Setelah shalat Isya tadi, hp Averyl selalu berdering. Layarnya berkedip-kedip, pertanda ada pesan masuk yang belum dibaca. Ternyata, ada 50 panggilan tak terjawab. Disana tertulis nama Ray pada layar ponselnya. Setelah Averyl melipat mukenah yang berwarna merah maroon, lengkap dengan motif bunga sakura, ia langsung bergegas mengambil sepeda gunungnya bersama Aeris. Tanpa banyak bertanya, Aeris langsung mengikuti langkah kaki Averyl.
Mereka terlihat sangat buru-buru. Hal ini terlihat saat mereka mengeluarkan sepeda dari garasi dengan tergesa-gesa. Meskipun demikian, Averyl tetap berusaha untuk bersikap tenang, agar tidak grusa-grusu. Malam itu langit terlihat begitu indah, bertaburkan bintang-bintang. Udara terasa sangat segar.
Angin malam berhembus sejuk, membelai lembut jubah Averyl dan Aeris yang sedang mengayuh sepedanya. Kerudung mereka berkibar-kibar terterpa angin. Sepedanya berjalan lambat, mereka ingin menikmati perjalanan, tentu untuk merasakan sensasi angin malam daan menghirup udara segar.
Jalanan masih ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang, padahal ini adalah hari Jumat malam Sabtu. Malam Sabtu sampai Ahad sore merupakan hari libur bagi kelas-kelas di seluruh lembaga bahasa di kampung ini. Orang-orang masih berseliweran di Jalan Brawijaya. Memang, Brawijaya itu jalan utama di Kampung Bahasa ini yang selalu ramai pengunjung.
Orang-orang sering sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang sedang berbelanja guna memenuhi kebutuhan bulanannya, ada yang sekedar kongkow ngobrol ngalor-ngidul, dan ada juga orang-orang yang membuat corner diskusi.
Langkah Averyl dan Aeris terhenti sejenak. Mereka memilih menepi di depan toko swalayan. Averyl sesekali melihat layar ponselnya. Ia celingukan kebingungan, terlihat sedang mencari sesuatu, tapi entah apa. Kanan-kiri ia soroti dengan jeli. Bola matanya tertuju pada satu tempat yang bertuliskan “La Estrella Chocolate”.
“Nah. Ini dia! I get it. Tempat yang aku cari,” senyum Averyl mengembang dengan ayunya. Matanya pun ikut menunjukkan tatapan kebahagiaan. “Ayoo, Ris, kita parkir di sana,” tunjuk
Aeris memperhatikan jalanan dengan sangat hati-hati, tengok kanan dan kiri, memastikan kalau tidak ada kendaraan yang melaju kencang. Baru setelah jalanan agak lenggang, ia siap menyeberangkan sepedanya, membuntuti Averyl di belakang.
Averyl ke parkiran yang luas yang ada di depan halaman kedai La Estrella Chocolate. La Estrella Chocolate. Dalam bahasa Spanyol, ‘La Estrella’ berarti bintang, dan ‘Chocolate’ berarti cokelat. Kedai cokelat ini menyediakan varian menu cokelat, mulai dari minuman, hingga makanan.
Parkiran penuh dengan sepeda. Ada sepeda gunung, sepeda lipat, sepeda onthel, sepeda mini, sepeda motor pun ada satu-dua, dan sepeda-sepeda yang lain. Tanpa berpikir panjang, setelah mereka memarkirkan sepeda dengan sempurna, Averyl langsung sigap memesan minuman kombinasi cokelat-jahe hangat dan pisang cokelat untuknya. Perpaduan aroma cokelat dan jahe sungguh menggiurkan lidah. Siapa pun bisa tergoda. Aeris cukup memesan es cokelat original dan singkong merekah ala masakan tradisional yang sengaja dibuat krispy, ditambah dengan taburan sambal bubuk barbeque.
Lokasi kedai ini sangat strategis, berada di pusat Kampung Bahasa. Tepatnya di Jalan Brawijaya. Kedai ini menjadi tempat favorit dan incaran pemuda milenial. Mungkin saja mereka terpikat oleh keramahan pelayanan di sini. Sungguh, penjaga kedai ini sangat wellcome kepada pengunjung. Senyum hangat nan manis selalu mereka tebarkan kepada para pengunjung.
Selain harganya yang miring, tempat ini juga free Wi-Fi. Lancar juga. Udah gitu, rasa makanan yang ada di sini juga tidak kalah enak dengan makanan berkelas lainnya. Tempat ini sangat bersih, rapih, luas, dan sejuk dipandang, membuat pembeli betah berlama-lama di kedai cokelat ini. Kipas angin besar juga ikut menyejukkan suasana.
Ornamen bangunan ini terkesan klasik dengan gaya alam terbuka. Fondasi utama bangunan ini terbuat dari kayu. Tempat ini di desain sedemikian rupa dengan nuansa pohon cokelat, buah cokelat, dan semua ikon cokelat tepampang rapih menghiasi ruangan. Meja dan tikar untuk lesehan cukup menampung empat orang.
Begitu juga dengan perkakas yang kedai ini suguhkan, semua menggunakan konsep cokelat, ada yang mirip daun, batang, buah, dan tempat makanan yang didesain mirip dengan cokelat batangan.
Mata Averyl langsung tertuju ke arah pojokan. Ia dapati seseorang yang telah ia kenal selama hampir sepuluh bulan, jari-jemari orang itu sibuk bermain laptop. Penuh antusias. Fokus sekali dia. Bahkan, ia tak menghiraukan sekelilingnya. Hanya laptop, buku-buku, dan secangkir cokelat original hangat yang menemaninya.
“Hai Kak,” teriak Averyl dengan senyum tipisnya dari kejauhan.
“Eh. Averyl,” Ray balas menyapa Averyl dengan tatapan mata penuh penyambutan. Tangannya melambai menyapa Averyl dari jarak beberapa meter. Saking lebarnya senyum yang ia tampakkan, gigi taring Ray sampai terlihar dari jauh. “Sini, Ver. Aku punya beberapa oleh-oleh untukmu,” tangam Ray mulai sibuk mencari-cari sesuatu yang ada di kantong tasnya.
“Oh yaaa..?? Oleh-oleh apa, Ka..?? Paling segudang bacaan dan tugas-tugas yang bakalan Kak Ray kasih, kan? Hmmm…. Iya, kan? Pasti benar tebakanku. Huhh,” bibir Averyl terlihat manyun. Cemberut. Averyl menegaskan kebiasaan Ray yang suka memberikan karya sastra dan tugas-tugas jurnalistik kepadanya. Tiba-tiba saja Averyl hanya bisa tertawa, mengejek dengan gaya khasnya, matanya terpejam dengan kedua alis yang terangkat.
Averyl dan Ray memang saaangat dekat. Tak ada satu hal pun yang luput Averyl diskusikan dengan Ray. Averyl masih suka manja di depan Ray. Bagi Averyl, Ray itu udah seperti kakak sendiri.
“Kali ini berbeda,” jawab Ray dengan tenang.
Pada saat-saat berkumpul seperti ini, mereka lebih sering mendiskusikan tentang sastra dan segala sesuatu mengenai jurnalistik. Padahal, di kampung ini, mereka sedang menempa diri untuk mengasah kemampuan berbahasa asing. Jurnalistik kan juga bisa mendukung logika bahasa seseorang, iya, kan?
Setelah selesai mendalami Bahasa Jepang, Ray sekarang lebih memfokuskan diri untuk mendalami Bahasa Inggris. Tentu saja bahasa ini yang akan ia gunakan sebagai modal untuk menuntut ilmu di Negeri Sakura nanti. Tokyo, kota impiannya. Ia sangat terobsesi dengan kecangggihan teknologi Jepang. Makanya, dia mau ke sana.
Berbeda dengan Averyl, Averyl masih sibuk dengan pendalaman bahasa Qur’an. Bahasa yang memiliki nilai sastra yang tinggi. Meskipun demikian, setiap kali Averyl dan Ray berdiskusi, mereka pasti akan membahas tentang dunia kepenulisan. Averyl juga sedang diminta senior-senior yang ada di kotanya untuk membantu mereka. Ia dituntut untuk membuat tugas jurnalistik Sebenarnya ia masih mampu berkontribusi di tulisan yang lain. Hanya saja, melihat kondisi kelas bahasa yang full, ia kurang yakin untuk mengambil peran lebih. Sesekali Ray dan Averyl barter bahasa yang sedang mereka pelajari.
Bagi Averyl, berbicara dengan Ray itu seperti sedang berbicara dengan kakak sendiri. Usia Ray dan Averyl memang berbeda, Averyl tiga tahun lebih muda dari Ray. Jadi, Ray lebih bijak dan memahami Averyl kalau dia sedang menghadapi masalah.
Meskipun mereka berasal dari daerah yang berbeda, tapi Averyl merasa nyambung kalau berkomunikasi dengan Ray. Ray itu asli orang luar pulau Jawa. Sedangkan Averyl asli Jawa. Walaupun mereka berbeda latar belakang budaya, tapi itu bukanlah kendala bagi mereka untuk saling menghargai dan memahami. Ray juga tipe orang yang baik, pengertian, peduli, humble, dan sangat penyayang kepada siapapun. Itulah yang membuat Averyl nyaman berada di sisinya.
“Coba kamu baca ini, Dek,” Ray menyuguhkan tiga buku. Di sana tertulis nama Ray ….. “Selamat bulan April, Averyl. Dalam Bahasa Prancis, ‘Averyl’ berarti ‘yang lahir di bulan April, semoga rahmat dan keberkahan selalu terlimpahkan ke dalam hidupmu dalam sisa umurmu yang sekarang, happy 22nd years old, Averyl,” senyum Ray mengembang.
“Wihhh. Ini karya Kak Ray, Kak? Sejak kapan kakak menerbitkan buku-buku ini?” Satu novel, satu buku antologi puisi, satu buku yang mengungkapkan tentang artificial intelligence (AI. Averyl mulai membuka-buka buku yang diberikan Ray. Lembar demi lembar ia baca dengan super kilat. Ia lebih memilih untuk membuka buku tentang artificial intelligence (AI) terlebih dahulu.
“Sejak kakak menginjakkan kaki di dunia kampus, saat menjadi mahasiswa aktif dulu,”
“Daebakk.!! Pas sekali. Ade pasti ngga salah pilih mentor jurnalistik nihh.. Heheheheheee.. Nanti sekalian ajarin Averyl bikin karya ya, Ka… Ajak Averyl nulis juga. Nulis yang bagus, agar nanti bisa nerbitin buku kek kakak. Taapiiiiii……” kata-kata Averyl masih menggantung, belum sempat ia tuntaskan. Ekspresi Averyl menjadi berubah, ketika ia mengingat tentang suatu hal.
“Ade ngga suka yah, dengan buku yang Ka Ray kasih?” tanya Ray yang melihat raut wajah Averyl berubah seketika.
“Bukan itu, ka….. Tapiiiii… dua hari lagi Averyl akan balik ke Jogja. Ngga terasa ya, waktu berjalan cepet banget, heeeemmmmmzzz…. Ternyata 10 bulan itu ngga lama, yaa.. ah, emang udah saatnya Averyln beralih mencapai target yang lain sih, Ka,” protes Averyl. Rasanya, ia ngga mau ninggalan kampung yang penuh kenangan itu.
“Kakak rasa, 10 bulan itu waktu yang cukup produktif untuk kamu menulis, Dek. Yang penting istiqomah. Komitmen. Mau bisa menulis, yaa menulis, intinya menulis. Misal kamu banyak beli buku dan baca literatur tentang bagaimana cara menulis, kalau kamu tidak menulis, ya sama aja boong,” Ray tersenyum simple untuk sekedar menghibur hati Averyl.
“Iya sih…”
“Makasih ya, Kak, udah baik sama Averyl. Kak Ray udah Averyl anggap sebagai Kakak Averyl sendiri. Makasih juga, Kak, udah mengenalkan Averyl dunia jurnalistik, sampai Averyl bisa membuat tulisan receh,” Averyl tak henti-hentinya berterima kasih kepada Ray.
“Itu bukan apa-apa, Dek, Kakak hanya ingin memperlakukan kamu layaknya adek Kak Ray sendiri,” jelas Ray pada Averyl. “Oh iya, btw… otanjoubi omedetou gozaimasu, daisuki-da” Ray melemparkann senyuman tipisnya kepada Averyl. “Never give up! Perjuangan kita masih belum berakhir.”
“Apa tuh artinya? Averyln ngga ngerti bahasa gituan, Kaa.. translate, doongggg.”
“Cari di kamus doongg.. Jawab Ray dengan tegas.
“Buat apa Adek nyari di kamus? Kan di sini udah ada kamus berjalan, Hmm? Xixiixixiixiii….,” Averyl tambah meledek Ray. Tertawa cekikikan. Ia harap, Ray segera memberi tahu maksudnya.
“Oke. Pokoknya big thanks to my brother… Mungkin ini adalah April terakhir Averyl ada di kampung ini. Sebagaimana biasanya, setiap tangggal 10, pasti ada gelombang baru dalam pembelajaran bahasa di sini. Makanya, sebelum tanggal itu, Averyl mau pamit ke Kak Ray… Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan, makasih udah menjadi kakak yang baik hati untuk Averyln,” Mata Averyln mulai berkaca-kaca. Ia berharap, tak ada perpisahan setelah pertemuan.
Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada bertemu akan berpisah
Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut, bertemu akan berpisah[1]
Musik itu mengalun memenuhi ruangan. Cokelat original dan cokelat jahe itu sudah tidak hangat lagi. Es cokelat yang dipesan Aeris pun juga mulai mencair. Suasana menjadi beku. Tak ada sepatah kata yang terucap dalam beberapa saat. Hanya ada dua insan yang saling menatap.
Ah, apa kiranya kita dapat berjumpa lagi? Perjalanan kita masih sangat panjang. Kalau memang takdir, kita pasti akan bertemu lagi. Ray.
“Satu pesanku untukmu, Ver. Jangan pernah percaya dengan cinta di Kampung Bahasa ini, karena semua itu akan berakhir di Jalan Brawijaya,” Ray hanya tersenyum. Ray mengantar Averyl yang akan pulang. Tidak hanya pulang ke asrama, tapi Averyl benar-benar akan meninggalkan tempat itu. Kampung yang menjadi saksi bisu kisah mereka.
Ray menunggui Averyl yang sedang parkir sepeda. Lalu memandangi Averyl. Averyln dan Aeris kian menjauh. Namun, pandangan Ray masih pada objek yang sama, Averyl. Hanya punggung Averyln yang terlihat. Kedua kaki Ray masih terpaku pada tempat yang sama, sampai Averyl benar-benar tak terlihat dari pandangan.
Dear Averyl,
Escribir, por ejemplo: ‘La noche está estrellada,
y tiritan, azules, los astros, a lo lejos’.
El viento de la noche gira en el cielo y canta.
Ya no la quiero, es cierto, pero tal vez la quiero.
Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido.[2]
From Ray
Surat itu Averyl baca saat ia sudah tiba di Jogja. Sendiri. Sunyi Ia meresapi setiap kata. Baris demi baris ia renungkan. Nostalgia. Averyl mulai menatap langit yang sangat mendung. Aroma hujan kian tercium, mengingatkan ia akan sebuah kisah. Namun, saat ini, kisah itu sudah tinggal kenangan. Bagi Averyl, sesungguhnya kesedihan yang mendalam itu bukanlah kejadian buruk yang menimpa kita, tapi.. kesedihan yang mendalam itu ketika kita tak akan pernah bisa mengulang kembali kenangan yang serupa.
[1] Lagu Endang Soekamti – Sampai Jumpa
[2] Puisi karya Pablo Nerruda. “Tulis, misalnya: night Malam berbintang, dan bintang-bintang menggigil, biru, jauh, angin malam berputar di langit dan bernyanyi, aku tidak mencintainya lagi, itu benar, tapi mungkin aku mencintainya, cinta itu begitu singkat, dan melupakan itu begitu lama.”







