Jadilah Perantau yang Ber-Etika

Pacu Perdamaian Kikis Perbedaan
Ilustrasi [Quipper]

“اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ”

Hadits tersebut sudah sering lewat di telinga orang-orang, yang artinya adalah “Tuntutlah Ilmu walaupun sampai ke negeri China”. Sebenarnya hadits tersebut dianggap sebagai Hadits Dho’if (Lemah) oleh banyak Ulama’. Tapi meskipun begitu, kita bisa mengambil sisi positifnya bahwa dalam menuntut Ilmu, tidak ada batas jarak untuk menempuhnya.

Sudah banyak para perantau yang sedang mengabdikan dirinya di kota orang lain. Tapi, yang menjadi pembahasan kita kali ini tidak hanya tertuju kepada perantau yang merelakan tubuhnya diselimuti oleh perihnya kesakitan demi satu tujuan, yaitu, menuntut ilmu. Lebih tepatnya, pembahasan kita mencakup kepada keseluruhan terkait dengan perantau, maupun itu perantau yang menuntut ilmu, atau perantau yang sedang mencari kerja di negara atau kota orang lain

Tidak mudah menjadi seorang perantau. Tentunya, sangat membutuhkan mental, dan harus siap menerima konsekuensinya. Seperti contoh; jauh dari keluarganya (maupun yang sudah kawin atau yang masih belum), mencari biaya hidup sendiri atau bisa dikatakan dengan hidup mandiri, harus menyesuaikan terhadap lingkungan yang ditempatinya, dan masih banyak yang lainnya.

Pastinya, hal tersebut membutuhkan sebuah persiapan yang sangat matang, dan persetujuan dari pihak keluarganya sendiri. Jika tidak demikian, maka akan sangat berdampak terhadap orang yang mau merantau tersebut. mungkin, yang menjadi pertanyaan di dalam benak orang-orang, apakah setelah mempersiapkan secara matang bisa menjamin kondisi orang yang merantau tersebut sudah pasti aman?, ingat, setiap orang yang hidup di dunia ini pasti akan memiliki permasalahan, begitu juga para perantau yang pasti akan menghadapi dinamika kehidupan, maupun itu problem dari internalnya sendiri, atau mungkin dari eksternalnya. Namanya juga manusia, bukan?.

Hal tersebut sudah pasti menjadi bagian dari hidup manusia. Lumrahnya, kita kerap kali mendengar sebuah informasi tentang insident yang berkaitan dengan perantau, maupun informasi itu kita dapat dari berita-berita yang beredar atau kita mendengarkan langsung dari percakapan orang-orang. Seperti salah satu contoh yang sempat viral di akhir-akhir ini tentang salah satu Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang meninggal karena dibunuh oleh seniornya sendiri, dan sempat juga pernah viral di masanya, yaitu konflik sampit pada tahun 2001 yang merupakan kerusuhan antarsuku dayak (sebagai penduduk asli) dengan suku madura (sebagai pendatang atau perantau), dan masih banyak lagi kasus-kasus yang berkaitan dengan perantau, maupun itu dari percekcokan, perselisihan, hingga terjadi pembunuhan.

Tentunya, faktor yang menyebabkan semua itu terjadi datang dari setiap pihak, maupun itu dari pihak perantau itu sendiri atau dari pihak penduduk di tempat tersebut. tak ayal jua, jika nanti akan menimbulkan kontradiksi di antara mereka, sedangkan penyebabnya tidak lain ialah salah satu dari mereka sendiri.

Kembali lagi ke dalam pembahasan tentang perantau yang menuntut ilmu di kota orang lain. jika kita (sebagai perantau) ingin dihormati oleh masyarakat sekitar, tentunya, kita harus mempersiapkan hal-hal yang akan kita implementasikan di tempat itu. Ya, hal tersebut tidak lain adalah Etika, yang mana sangat dibutuhkan dimanapun kita berada. Jika kita sudah memantapkan etika kita dengan baik, maka sudah menjadi hal yang pasti kita akan diterima dengan senang hati oleh masyarakat sekitar, begitupun sebaliknya.

Namun, jika dalam benak seseorang timbul pertanyaan “apakah dengan ber-etika, tidak akan ada yang benci kepada kita?”, ingat, Nabi kita (umat Muslim) yaitu Nabi Muhammad SAW saja banyak yang membencinya, padahal beliau adalah paling sempurnanya Makhluk di dunia ini, beliau selalu melakukan kebaikan terhadap orang lain, meskipun dibalas dengan kejahatan. Tapi, beliau tetap saja tiudak hentinya melakukan kebaikan tersebut, ya, meskipun masih tetap saja ada yang ingin mengelabuinya. Apalagi kita yang hanya manusia biasa, suda pasti orang-orang di sekitar kita memiliki perasaan iri terhadap kebaikan yang kita lakukan. Yang terpenting adalah bagaimana sekiranya kita (sebagai perantau) selalu menggunakan etika yang baik, maupun itu etika kepada sesama makhluk dan lebih-lebih etika kepada tuhan.

Dengan ber-etika, sudah pasti mencakup kepada aspek-aspek yang lainnya, seperti salah satu contohnya ialah toleransi atau menghargai perbedaan orang lain, maupun itu antar suku, ras, agama, dan lain sebagainya. sebab, toleransi akan menimbulkan sebuah etika bagaimana cara menerima perbedaan pendapat orang lain, dan meresponnya dengan cara yang tidak akan menimbulkan kontradiksi di antara belah pihak. Kalau seandainya ada yang menceletuk, “ bagaimana kalau etikanya sudah buruk dari awal dan menjadi sebuah kebiasaan?”, kebiasaan buruk itu lah yang harus kita ubah dengan kebiasaan yang baik. Sekalipun kita bertempat tinggal di tempat kelahiran sendiri, bisa kita lihat sendiri bagaimana respon masyarakat sekitar, jika kita sudah tidak ber-etika.

Saya berpendapat demikian tidak lain karena saya juga sebagai perantau yang sedang merelakan diri jauh dari keluarga tercinta demi menata masa depan yang cerah. Jadi, sesuai dengan pengalaman yang saya alami sekarang ini, pendapat tersebut bisa saya benarkan. Tidak hanya memotivasi terhadap orang lain, tapi juga memotivasi dan mengingatkan kepada diri saya sendiri, karena setiap orang tidak luput dari penyakit yang bernama lupa.

Mungkin pesan penting yang bisa saya sampaikan kepada penduduk sekitar yang tempatnya dihuni oleh para perantau, diantaranya ialah jika seandainya ada kesalahan atau keteledoran dari kami (perantau), dimohon untuk ingatkan kembali dan diberi sebuah penjelasan bagaimana benarnya. jika seandainya masih ada yang mengulangi kembali perbuatan tersebut (dalam kondisi sadar), mungkin bisa diselesaikan dengan hukum yang berlaku, dalam artian tidak bermain hakim sendiri. dan pesan untuk para perantau, tetaplah jaga etika dimanapun kita berada, karena, etika kita akan menjamin untuk menuju ke dalam kehidupan yang aman, damai, dan tentram.

 

Moh. Ilzam Nuzuli Taufik, Guru MA Nurul Jadid Sejati, dan Mahasiswa Hukum Institut Agama Islam Ngawi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *