Ilmu Pengetahuan sebagai Dasar Pembahasan Realitas

Copy Paste, Tradisi Mahasiswa Zaman Now

Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu pengetahuan berasal. Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya.

Dalam pandangan Islam (Islamic Worldview) yang membentuk epistimologi islam, secara ontologis terdapat dua alam yang dikenal dan disebutkan dalam Al-Qur’an, yaitu alam metafisik (alam Al-goib) dan alam fisik (alam al-sahadah).  Alam metafisik atau alam absolut tersebut tidak dapat diketahui manusia kecuali melalui wahyu karena Allah SWT. Yang mengetahui yang gaib, sebagaimana firman Allah swt, dalam ayat 50 QS. Al-An’am :

قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ ۚأَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

 Artinya : Katakanlah, Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?”

Bacaan Lainnya

أَمْ عِندَهُمُ ٱلْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

Artinya: Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)? (Qs. Al-Qolam:47)

 وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Artinya : Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (Al-An’am : 59).

Surat Al-An’am ayat 59, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa kunci yang gaib hanya diketahui oleh Allah swt semata.  Rasulullah sendiri tidak mengetahui hal gaib tersebut kecuali apa yang dikabarkan kepadanya melalui wahyu.

 

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-nahl:77)

Kedua jenis alam tersebut menyebabkan adanya dua jenis ilmu (knowledge) yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu ilmu tentang alam metafisik dan ilmu tentang alam fisik. Ulama Islam di masa lampau sepakat mengapresiasikan ilmu metafisika sebagai ma’rifah  yang dalam  pandangan islam merupakan konsep yang sangat fundamental. Oleh karena itu, ilm dan ma’rifah bukanlah jenis ilmu yang sama, namun memiliki perbedaan dari isi namun juga objek ilmu tersebut. Ilmu dapat disebut juga dengan sains (science).

Sedangkan marifah merupakan jenis ilmu yang dicapai melalui pengalaman hati yang dibimbing oleh wahyu dalam mencapai kepuasan (al-nafs al-mutmainah).  Meskipun dalam al-Quran menyebutkan perbedaan antara alam fisik dan metafisik, namun keduanya tidak dapat dilepaskan satu dengan lainnya, karena tujuan untuk mempelajari alam fisik untuk menunjukan kepada ilmu metafisik.

Manusia diberkahi oleh perspektif internal yang dapat menerima pengalaman tentang alam metafisik (alam al-ghoib) yang dalam Al-Quran disebut dengan hati atau qalb. Mengetahui alam absolut ini tidak dapat dilakukan secara langsung (direct and immediate) namun harus melalui perantaraan wahyu. Ilmu tanpa bimbingan wahyu hanya akan menyebabkan kerusakan yang dahsyat.

Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai pembimbing dan petunjuk bagi manusia di dalam alam metafisik atau alam absolut. Sedangkan alam fisik (alam al-sahadah). Dapat dirasakan secara langsung oleh fakultas eksternal  dan melalui akal. Namun mengandalkan ilmu panca indra dan akal semata tanpa iman, manusia tidak akan mampu mencapai petunjuk Allah SWT dan bahkan akan diberikan azab yang pedih.

Melalui penjelasan diatas disimpulkan bahwa objek ilmu dalam islam tidak semata-mata berkaitan dengan objek fisik atau yang tampak pada indra dan pikiran manusia, namun ia mencakup objek fisik dan metafisik. Oleh karena itu, kebenaran atau hal-hal yang mengandung nilai ilmiah (scientific value) tidak hanya mencakup hal-hal yang dijustifikasi atau diverifikasi oleh fakta empiris dan dirasionalkan malalui eksperimen atau logika semata. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

Oleh: Syukur Abdillah, Mahasiswa Hukum Keluarga Islam UIN Walisongo,

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *