Humanisme: Haruskah Manusia Beriman?

Tidak semua konsep tentang kemanusiaan sejalan dengan paradigma al-Qur’an dan Hadits. Sebab, konsep tentang kemanusiaan itu bersumber dari Barat yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran yang didasarkan pada konsep kebebasan manusia. Tidak hanya itu, seringkali ekspresi kebebasan yang sering digaungkan itu berlawanan dengan kebebasan itu sendiri, sehingga terjadi kontradiktif dalam pengaplikasiannya.

Dewasa ini, seringkali kita mendengar anggapan yang sering muncul di tengah masyarakat bahwa sesesorang itu yang terpenting berbuat baik kepada sesama, tidak peduli ia beragama atau tidak. Sekilas, anggapan tadi tampak benar. Sebab, terdapat slogan kemanusiaan yang setiap orang harus mengamininya. Namun, jika kita teliti lagi, anggapan tadi seolah-olah ingin mengatakan bahwa agama tidak ada kaitannya dengan berbuat kebaikan. Padahal, agama Islam selalu menganjurkan para penganutnya untuk berbuat kebaikan kepada siapapun, termasuk kepada yang berbeda agama.

Konsep Iman dan Amal Shaleh

Paradigma Islam merupakan paradigma yang sangat komprehensif dalam memandang persoalan kehidupan. Mulai sejak tidur hingga tidur kembali, Islam sudah mengatur semuanya. Dalam Islam, aturan itu ditetapkan di dalam al-Qur’an dan juga Hadits. Dengan aturan tersebutlah, manusia hidup sesuai dengan pedoman dari-Nya. Pedoman yang mengantarkan manusia kepada kehidupan yang hakiki (akhirat).

Bacaan Lainnya

Salah satu paradigma Islam yang diterangkan oleh al-Qur’an ialah konsep iman dan amal shaleh. Iman dan amal shaleh bagaikan dua sisi dari sekeping koin, apabila ketiadaan salah satu di antaranya, maka sama dengan ketiadaan keduanya. Jadi, antara iman dan amal shaleh, keduanya saling membutuhkan. Iman tanpa amal shaleh tidak diterima, begitu pula sebaliknya. Amal shaleh tanpa iman juga merupakan sebuah kesia-siaan.

Konsep iman dan amal shaleh sesungguhnya banyak disinggung di dalam al-Qur’an, salah satunya terdapat pada Q.S. Al-Asr:1-3. Akan tetapi, pada realitanya, masih banyak umat Islam yang mengalamai kesalahpahaman dalam memahami ayat tersebut. Hal itu terjadi disebabkan karena umat Islam kurang teliti dan komprehensif dalam membaca al-Qur’an.

والعصر١ان الانسان لفي خسر ٢ الا الذين امنوا وعملوا الصالحات و تواصو بالحق و تواصو بالصبر ٣

“Demi masa (1) Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran” (3) QS. Al-Asr: 1-3

Ayat tadi merupakan salah satu ayat yang seringkali disalahpahami.  Dalam ayat tadi, banyak di antara umat Islam –bahkan elite agamanya– yang memahami bahwa penyebab manusia mengalami kerugian karena manusia tidak mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Mereka menganggap ayat pertama dan kedua itu saling memiliki keterkaitan, padahal tidak. Jangankan Al-Qur’an apabila hanya memberikan informasi seremeh itu, orang yang tidak berpendidikan sekalipun paham bahwa menyia-nyiakan waktu merupakan sebuah kerugian.

Untuk memahami ayat tadi, bisa dihubungkan dengan Q.S. al-Kahfi: 103-105 yang menjelaskan bahwa penyebab kerugian yang terjadi pada manusia adalah tidak beriman. Manusia yang tidak beriman kepada Allah, amal kebaikannya akan dihapus, dalam artian tidak akan dihitung. Maka sia-sia apabila ada seorang manusia yang sepanjang hidupnya mengerjakan amal shaleh, akan tetapi tidak mau beriman. Itu sama saja nol nilainya.

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا ۗ.

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” QS Al-Kahfi: 103

اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا  .

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. QS Al-Kahfi: 104

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَاۤىِٕهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًا  .

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat. QS Al-Kahfi: 105

Seperti yang telah dijelaskan di muka, iman dan amal shaleh itu bagaikan dua sisi dari sekeping koin, apabila ketiadaan salah satu di antaranya, maka sama dengan ketiadaan keduanya. Untuk memudahkan dalam memahami konsep ini, Dr. Mohammad Nasih menganalogikan dengan konsep matematika dasar. Iman itu diibaratkan dengan angka satu, sedangkan amal sholeh dengan angka nol. Apabila seorang manusia hanya beramal shaleh saja tanpa disertai dengan keimanan, maka yang ia kumpulkan hanyalah angka nol yang tidak bernilai, walaupun ia beramal sebanyak apapun. Berbeda dengan manusia yang beriman. Iman membuat amal shaleh yang telah dikerjakan menjadi bernilai, walau itu hanya sebesar biji zarrah. Oleh karena itu, kerugian yang dialami oleh manusia bukan karena tidak memanfaatkan waktu, melainkan karena manusia itu tidak beriman.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *