Aku seolah kafilah yang tak kenal arah
Kompas di tangan pun serasa tak berguna
Ketika memandangmu, melihat sosokmu yang terang ketika fajar belum tiba
Lautan kata pun seolah surut dari kamus ensiklopedi
Aku rindu
Meskipun kita sudah bertemu
Aku tetap rindu
Memang kita hanya mampu menerka
Serta merealisasikan asa dan rasa
Namun aku pun punya khawatir
Ketika aku bukan lagi yang kau prioritaskan
Pantaskah aku untuk dirimu?
Sejuta pertanyaan dari satu kalimat yang senantiasa terngiang dalam benakku
Aku akan berusaha semampuku
Setidaknya, menjaga agar senyum itu tak hilang dari wajah indahmu
Meski sesak di dada yang kerap mengganggu sirkulasi
Sumpek, perih namun tak berdarah
Aku memang sudah biasa dengan luka
Tetapi, izinkanku untuk sedikit meluapkan emosi
Sebelun nantinya menjadi Superman yang mampu kau banggakan
Kau cantik jelita
Bukan hanya dari paras yang elok
Tetapi juga akhlak dan kesederhanaanmu
Caramu bersikap menghadapi suatu persoalan
Aku terpukau
Mungkin, aku bukan siapa siapa
Buka pula seorang yang memiliki segalanya
Jika dibandingkan dengan kawan dan sekitarmu, aku tidak ada apa-apanya
Namun aku akan berjuang lebih giat
Apalagi jika memang dirimu mau menerima diriku yang apaa adanya
Lantas, kenapa tidak berjuang bersama saja?
Oleh: Muhammad Wildanul Atqiya







