Dedikasi yang Terbagi

Oleh: Dr. Achmad Maimun, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah IAIN Salatiga

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kecenderungan untuk hidup berkumpul bersama lainnya, dan membentuk kelompok-kelompok. Dari kelompok tersebut muncullah solidaritas kelompok atau ashabiyah dalam bahasa Ibn Khaldun. Relasi antar kelompok solidaritas tidak selamanya dalam harmoni, adakalanya atau bahkan sering dalam ketegangan hingga friski dan konflik. Penyebabnya, bisa karena berebut pengaruh, kekuasaan, properti dan lain sebagainya. Ini terjadi tidak hanya pada aspek sosial dan ekonomi, tapi juga agama yang sakral.

Teori konflik menjelaskan bahwa masyarakat selalu berada dalam ketegangan, friksi atau bahkan konflik kelompok yang selalu berhadap-hadapan dalam memperebutkan sesuatu entah kekuasaan, properti, pengaruh atau lainnya. Yang pertama disebut sebagai kelompok kepentingan, yakni kelompok masayarakat yang sedang memegang kekuasaan, memegang pengaruh karena itu kepentingan-kepentingannya bisa terakomodasi. Sementara itu yang kedua adalah kelompok laten. Yakni kelompok seberang yang senantiasa berusaha untuk mengambil alih apa yang sedang di tangan kelompok kepentingan. Ini wajar terjadi dalam kehidupan sosial, tapi agaknya tidak sewajarnya jika ini terjadi pada aspek kehidupan beragama. Meskipun demikian, rasa-rasanya hal itu sering terjadi pula di depan mata kita. Misalnya, tarik- menarik dalam mempertahankan penguasaan terhadap properti umat, tarik-menarik dalam mendapatkan pengaruh umat, dan sebagainya.

Contoh riilnya, tarik-menarik penguasaan pengelolaan masjid, misalnya. Diakui atau tidak hal ini bisa ditemui di masyarakat kita. Biasanya masjid tersebut belum dijelaskan identitas atau afiliasi kelompoknya, contohnya masjid waqaf dari negara lain, atau masjid pada lembaga tertentu dan sebagainya. Yang jadi soal adalah pengelolaan masjid itu idealnya kan merupakan ekspresi ibadah atau penghambaan seorang muslim kepada Allah. Penghambaan itu akan diterima manakala dilandasi dengan keikhlasan. Dedikasi dibangun atas dasar keridhaan Allah, bukan lainnya bukan untuk mengibarkan bendera kelompoknya. Pengelolaan masjid seharusnya menjadi wasilah untuk meninggikan kalimat Allah, li i’la likalimatillah bukan untuk li i’la liliwaa’i firqatina.

Allah pernah menginformasikan melalui firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 165) bahwa ada sebagian manusia yang memposisikan sesuatu sama seperti Allah, yang disebutnya dengan nidda jamaknya andaad.

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله, والذين أمنوا أشد حبا لله…

Di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan (untuk Allah). Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah, sedangkan orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah

Imam ath-Thabaariy mengutip berbagai pendapat mengenai maksud dari andaad atau tandingan-persamaan Allah itu salah satunya adalah para tokoh yang ditaati perintahnya, sebagaimana mentaati perintah Allah. Berikut ini kutipannya.

الأنداد من الرجال، يطيعونهم كما يطيعون الله، إذا أمروهم أطاعوهم وعَصَوا الله

Yang dimaksud dengan al-andaad adalah para tokoh yang mana orang-orang mentaati mereka seperti mereka taat kepada Allah, ketika mereka menginstruksikan sesuatu maka mereka mentaatinya dan mereka melakukan penyimpangan dari perintah Allah.

Di dunia modern saat ini, peran dan pengaruh tokoh mengejawantah dalam organisasi. Melalui organisasi seorang tokoh bisa menginstruksikan kepada orang di bawahnya untuk menjalankan visi dan misi kelompok yang terwadahi dalam organisasi tersebut, dan kemudian ditaati, (tentu saja bukan dalam hal bermaksiat kepada Allah). Ketaatan itu misalnya termasuk dalam hal mempertahakan pengaruh dan hegemoni dalam pengelolaan sebuah masjid (misalnya), bukan dalam hal memakmurkannya. Sekali lagi, ketaatan itu dalam rangka mempertahankan hegemoni kelompok, bukan dalam rangka memakmurkannya. Atau bisa jadi memakmurkannya namun dalam rangka mempertahankan hegemoni kelompok dalam mengelola masjid itu.

Pertanyaannya, para pelaksana instruksi tokoh untuk senantiasa mempertahankan hegemoni penguasaan masjid tersebut dedikasinya kepada siapa? Kepada Allah atau lainnya. Pengelolaan masjid itu sebenarnya perwujudan ketaatan kepada Allah atau ketaatan kepada instruksi kelompok? Yang dikhawatirkan dan yang perlu dihindari oleh aktivis masjid adalah, jangan-jangan cintanya, ketaatannya kepada kepentingan kelompok itu memang sudah setara dengan kecintaan dan ketaatannya kepada Allah. Dedikasi kepada Allah jangan-jangan telah dibagi dengan dedikasinya kepada kelompok. Ini rasa-rasanya bisa terjadi kepada sesiapa saja dan kelompok mana saja.

Uraian yang ngoyoworo, dan tidak berdasar di atas mengingatkan saya pada sebuah anekdot yang disandarkan kepada Hasan al-Bashriy sebagaimana dikutip dalam buku Talbiis Ibliis berikut ini.

يقول الحسن كانت شجرة تعبد من دون الله فجاء إليها رجل فقال لأقطعن هذه الشجرة فجاء ليقطعها غضبا لله فلقيه إبليس في صورة إنسان فقال ما تريد؟ أريد ان أقطع هذه الشجرة التي تعبد من دون الله قال إذا أنت لم تعبدها فما يضرك من عبدها قال لأقطعنها فقال له الشيطان هل لك فيما هو خير لك؟ لا تقطعها ولك ديناران كل يوم إذا أصبحت عند وسادتك قال فمن أين لي ذلك؟ قال أنالك فرجع فأصبح فوجد دينارين عند وسادته ثم أصبح بعد ذلك فلم يجد شياءفقام غضبا ليقطعها فتمثل له الشيطان في صورته وقال ما تريد قال أريد قطع هذه الشجرة التى تعبد من دون الله تعالى قال كذبت ما لك إلى ذلك من سبيل فذهب ليقطعها فضرب به الأرض وخنقه حتي كاد ليقتله قال أتدرى من أنا أنا الشيطان جئت أول مرة غضبا لله فلم يكن لى عليك سبيل فخدعتك بالدينارين فتركتها فلما جئت غضبا للدينارين سلطت عليك

Hasan al-Bashriy mengatakan ada sebuah pohon yang disembah, kemudian ada seseorang mendatangi pohon tersebut. Dia berkata, sungguh saya akan menebang pohon ini, kemudian dia mendatanginya lagi untuk menebang dilandasi kemarahan karena Allah. Mandanganu Iblis dengan penampakan manusia menemuinya, dan mengatkan kepadanya: Apa yang kamu mau lakukan? (Lelaki tersebut menjawab) aku akan menebang pohon yang disembah-sembah ini. Kemudian Iblis mengatakan: Jika kamu tidak menyembahnya, memangnya apa madharatnya bagi kamu jika orang-orang menyembahnya. Dia berkata: pokoknya pohon itu akan saya tebang. Lalu syaitan berkata kepadanya: “Apakah kamu punya hal yang baik berkenaan dengan itu?” Janganlah kamu tebang pohon itu, nanti kamu akan mendapat uang sebesar dua dinar setiap pagi hari di singgasanamu. Dia berkata: Hla itu duwit dari mana? Ia (setan) menjawab: dari saya untuk kamu. Kemudian lelaki itu pulang tidak jadi menebang pohon, pagi harinya ia dapati dua dinar beneran. Lalu esuk hari berikutnya, dia tidak mendapatkan apa-apa lagi, mandanganu dia jengkel dan akan menebangnya lagi. Lalu setan dengan menyerupai dirinya mengatakan begini: Apa yang kamu mau. Lelaki menjawab saya akan menebang pohon yang disembah-sembah itu. Setan berkata: ”Kamu bohong, sekarang kamu tidak bisa melakukan apapun terhadapnya.” Kemudian lelaki tersebut nekad pergi untuk menebangnya, lalu setan memukulnya hingga akhirnya dengap-dengap setan itu hampir-hampir membunuhnya. Setan kemudian berkata: Kamu tahu siapa aku? Aku adalah setan. Waktu pertama kali datang kamu marah karena Allah sehingga saya tidak mampu berbuat apa-apa, maka kemudian saya menggodamu dengan uang dua dinar, lalu kamu nggak jadi menebang pohon. Lalu setelah kamu datang dan marah-marah hanya karena uang dua dinar maka saya bisa menguasaimu.

Anekdot di atas mengingatkan kita, bahwa setan senantiasa berusaha membelokkan dedikasi dari ibadah kita, agar tidak kepada Allah tapi kepada selain Allah, dengan berbagai-bagai cara. Ketika setan berhasil membujuk kita, maka setan akan dengan mudah membelokkan dedikasi ibadah kita kepada selain Allah, dan setan akan mudah menguasai dan memperdayakan kita sebagaimana yang dilakukan kepada lelaki yang akan menebang pohon pada anekdot di atas.

Demikian Hikmah Jum’at kali ini, semoga bermanfaat. Billaahi fii sabiili al-haq.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *