‘Tuk kesekian kali
Baru kali ini kurasakan
Cinta sesungguhnya
Tak seperti dulu
Kali ini ada pengorbanan
Kata-kata indah
Begitulah penggalan lirik dari “Lagu CInta” dari Dewa-19. “Cinta bukan sekedar kata-kata indah?” Benar! Kalau hanya sekedar kata tanpa aksi, itu bukan cinta. Tetapi cinta dan kata, dua hal yang rasanya hampir-hampir tidak bisa dipisahkan. Cinta selalu identik dengan kata-kata yang meliuk indah. Faktanya, tidak cukup dirasakan dengan hati, cinta juga diungkapkan dengan lisan atau tulisan, lalu dibuktikan dengan perbuatan. Benar saja, cinta memang mirip dengan iman. Bisa bertambah, juga bisa berkurang. Bertambah karena amal, berkurang sebab kemaksiatan.
Imam Malik, al-Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, dan segenap ulama ahli Hadits serta ahlu al-Madinah (ulama Madinah), semoga Allah merahmati mereka, demikian juga para pengikut madzhab Zhahiriyah dan sebagian ulama mutakallimin berpendapat bahwa definisi iman adalah membenarkan dengan hati, mengungkapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.
Pendapat ulama mengenai definisi iman ini hanya berbeda di amal. Ada yang menyatakan amal itu bagian dari iman sebagaimana ulama di atas, ada yang memandang amal bukan bagian dari iman. Namun, semua sepakat bahwa diungkapkan dengan perkataan adalah bagian dari definisi iman, sekalipun ada sedikit yang mendefinisikan iman hanya membenarkan dengan hati.
Definisi hanya membenarkan dengan hati ini bisa dipahami, tetapi harus tetap dengan dalih bahwa iman dan amal shalih tidak bisa dipisahkan, keduanya ibarat dua sisi dari mata uang yang apabila salah satunya tidak ada, maka sama dengan ketiadaan keduanya. Jadi, orang yang hanya beriman saja, tanpa beramal, berarti tidak sah imannya. Begitupula, sebanyak apapun amal, jika tidak didasarkan kepada iman yang benar, maka amal itu sama dengan nol alias tidak ternilai. Karena itulah, pada saat yang sama imanpun, harus benar. Begitu pula cinta, ia harus benar.
Cinta yang paling benar dan nyata adalah cinta kepada Tuhan pencipta alam semesta. Sementara mencintai manusia haruslah diorientasikan untuk mencari ridla Allah swt. Ketika kita cinta kepada seseorang, maka kita selalu menyebut namanya. Mengungkapnnya dengan kata-kata indah, sebagaimana yang dilakukan Qays alias Majnun kepada Laila. Sesungguhnya, majnun bukan gila. Akar katanya jin. Bahkan ia jinius, karena ia akan menjadi sangat mahir merangkai kata sebagai tanda cintanya kepada yang dicintainya. (Baca tentang peradaban Arab masa lalu yang gila sastra, hingga Allah menurunkan kepada Muhammad, al-Qur’an yang sastranya tidak tertandingi).
Memang menjadi salah satu tanda cinta adalah mengeja nama. Karena mencintai tidak hanya mengingat tetapi bahkan menyebut. Ketika kita mengingat Allah, maka kita akan menyebut nama-Nya melalui dzikir. Demikian pula ketika kita cinta Rasulullah, maka kita akan banyak menyebutnya dengan cara bershalawat kepadanya. Karena itu, ketika seseorang mencintai orang terkasihnya, ia akan senantiasa menyebut namanya. Dengan demikian, mencintai menjadi sungguh nikmat dan menyehatkan.
Lalu bagaimana bagi mereka yang belum disatukan oleh ikatan suci pernikahan? Menulis menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk mengungkapnya. Menurut James W. Pennebaker dalam bukunya, Opening Up, menuliskan pikiran dan perasaan terdalam yang menyimpan pengalaman traumatis dapat menghasilkan suasana hati lebih nyaman, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.
Melalui tulisan, seseorang bisa mengungkapkan ekspresi hati dan curahan jiwa yang mendalam. Dengan demikian, ketika seseorang menulis, ia akan merasa lega dan puas. Sebab, ia sudah menuangkan semua isi hatinya ke dalam sebuah tulisan. Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam akan menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik.
Menurut Mohammad Nasih, jika rasa cinta terlanjur lewat, tidak dimanfaatkan untuk menulis, dan baru sekarang ingin menulis, maka tidak ada jalan lain kecuali harus dipaksa. Menulislah minimal 5000 karakter perhari. Sepanjang surat cinta saat kita jatuh cinta dulu. Sayang, sekarang dirusak oleh teknologi WA. Cinta tidak diungkapkan dengan rangkaian kata yang meliuk. Hanya diungkapkan dengan terlalu singkat: ILU dan IMU. I love you. I Miss you. Kemampuan menulis jadi tidak terasah. Kecerdasan linguistik verbal tidak menjadi aktual.
Karena itu, jika ada anak muda yang produktif menuliskan perasaan cintanya dalam tulisan yang panjang, tentu patut mendapatkan apresiasi. Demikianlah berlaku untuk Aina Fahma. Ia menuliskan perasaan kepada makhluk terkasihnya masing dalam rangkaian kata-kata indah di media massa, supaya dibaca oleh banyak orang, sehingga menjadi pelajaran bagi mereka yang merasakan datang dan lenyapnya cinta. Tulisan-tulisan Aina Fahma yang telah terpublikasikan dan terdokumentasikan di situs Baladena.ID, dikumpulkan dan dijadikan satu menjadi sebuah buku yang menggairahkan untuk dibaca.
Rangkaian kata-kata indah yang muncul dari Aina memang menggambarkan betapa jarak menjadi sebuah penghalang untuk sebuah hubungan. Jarak yang dimaksud adalah jarak antara hidup dan mati dan juga ketiadaan hubungan pernikahan antara ia dengan tambatan hatinya, karena masih dalam salah satu perjuangan mewujudkan cita-cita, yakni kuliah.
Benar, memang tidak ada yang bisa menolak datang dan perginya cinta. Namun, setiap muslim yang belum punya ikatan suci pernikahan, mau tidak mau, harus mampu menolak memadu kasih laiknya hubungan suami-istri. Karena itulah, menuliskan perasaan dalam rangkaian kata-kata indah menjadi pilihan yang bijaksana untuk dilakukan. Selamat! Semoga buku ini bisa menemani hari-hari yang penuh cinta para pembaca. Untuk penulis, teruslah menulis, hingga semesta menulis kejayaanmu! Wallahu a’lam bi al-shawaab.
Mokhamad Abdul Aziz
(Penulis Buku Kembali ke Masa Depan: Pengkhianatan Cinta dan Kemurnian Cita, Co-Founder Baladena.ID)







