Aku sendiri tidak tau harus memulai cerita dari mana.
Semua terjadi begitu saja.

Tentang rasa yang tiba-tiba ada di dalam dada. Rasa yang selalu hadir menyeruak meski telah kucoba untuk menghentikannya. Aku menyukaimu yang entah kamu punya perasaan yang sama atau tidak denganku. Kamu membuatku selalu merasa nyaman. Kamu selalu memiliki sejuta cara untuk bisa membuatku tertawa walaupun kita dari dulu selalu bertengkar pendapat dan tidak pernah akur.

Namun tampak di sinar matamu bahwa sebenarnya kamu telah memiliki kekasih hati. Jujur aku cemburu saat tau kamu terlihat begitu mesra dengan kekasihmu, aku cemburu. Sangat cemburu.

Aku tahu mungkin kamu tak pernah menganggapku. Aku sadar, aku juga bukan siapa-siapamu. Aku tau, aku tak mungkin merebutmu dari laki-laki itu.

Aku tak ingin menjadi laki-laki yang bahagia di atas penderitaan laki-laki lain dan merusak persahabatan karena egoku. Iya walaupun sekarang bisa dikatakan rusak. Tapi aku tidak ingin lebih memperparah lagi. Karena aku paham betul bagaimana rasanya saat kekasih yang sangat kita sayangi diambil orang. Aku tau aku tak berhak memaksakan kehendakku, memintamu untuk menjadi kekasihku.

Trauma di masa lalu mengajarkanku untuk lebih memahami tentang sebuah perasaan. Trauma di masa lalu mengingatkanku agar aku kembali untuk mencintai penciptaku terlebih dahulu.

Memang rasa cinta tak bisa ditolak kedatangannya, tapi ia bisa disalurkan melalui untaian doa-doa kepada Sang Pencipta. Berharap akan sebuah keajaiban yang bisa mempersatukan kita. Tuhan telah mengatur segalanya, aku hanya bisa meminta diberikan yang terbaik untukmu dan untukku. Memohon kepada-Nya untuk menjaga hatimu dan hatiku, karena aku percaya tak ada yang bisa mengubah takdir selain doa yang kita panjatkan tiada henti kepada sang pencipta.

Baca Juga  Sebaris Angan

Hei, dapatkah kamu mendengar bisikan-bisikan namamu yang kupanjatkan di setiap malam? Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu. Sungguh aku tak pernah bisa mengungkapkan semua perasaanku kepadamu. Aku hanya ingin menjaga diriku dari sentuhan-sentuhan haram. Aku tak ingin menambah beban dosa yang nantinya akan ku pikul dan ku pertanggungjawabkan sendiri.

Aku hanya bisa berharap semoga kita bisa bersama dalam suatu ikatan yang halal dan tanpa dosa. Dan tidak menyisakan permusuhan di antara kita bertiga.

 

Oleh: Muhammad Hendri Gunawan 

Budidaya Maggot; Mudah dan Bernilai Ekonomis

Previous article

Membaca Al-Qur’an

Next article

You may also like

Comments

Ruang Diskusi

More in Puisi