Untuk kesekian kalinya, bersitan masa depan menghampiri otak kalutku lagi. Ide-ide visioner begitu membuat pola pikir bocahku merasa sangat tertantang. Tentang ekspansi raksasa bagi teknologi, untuk merebak luas di jagad dunia. Apalagi dengan sistem berkehidupan beberapa millenium mendatang, mulai dari cara manusia makan, tidur, beribadah, hingga menuntaskan segala pekerjaan rutin mereka. Sains dan teknologi yang mutakhir laksana kerab kerabat yang selalu hadir, berdampingan dengan seluruh umat manusia. Di manapun, kapanpun insan berada.
Hei! Akan kuajak imajinasi kalian melambung tinggi untuk sejenak. Dimulai dengan mengangankan kaki kalian yang berpijak pada dunia yang teramat sangat jauh perbedaannya dengan bumi saat ini, bumi yang berbeda. Di mana seperlilauan mata kalian, akan terus mendapati jajaran skycrappers super kukuh, solid, yang dilengkapi dengan sistem stomata digital, yang sistem kerjanya persis seperti fungsi stomata pada daun di tumbuhan, sehingga meminimalisir polusi udara umum di perkotaan.
Di sekitarnya, mobil-mobil terbang berlalu lalang dengan kecepatan ekspres di langit-langit kota. Memodifikasi sistem levitasi tanpa batas, sehingga para pengendara mampu mengeksplorasi ruang angkasa semudah membuka kelopak mata. Diperlengkap dengan chip respirasi mikro yang tertanam di dalam setiap paru-paru manusia, yang mampu mengubah molekul gas di terrestrial air space, menjadi oksigen secara cepat dan kompleks. Hebat!
Bagaimana dengan Mars yang digadang-gadang sebagai planet kedua yang dapat dihuni umat manusia? Hampir semua dataran merah itu dijadikan modal usaha paling efisien oleh manusia. Beragam jenis alat super berat dan canggih milik perusahaan raksasa, Catterpillar, Komatsu Limited, hingga John Deere menghiasi kontur medan. Ignimbrite, mineral terkompak dan absolut. Nyaris berjuta-juta ton konsentrat ignimbrite diekspor ke bumi, dan menjadi bahan primer bangunan berbagai skycrappers, paving jalan, dan manufaktur Bumi lainnya.
Sebentar, terlalu jauh imajinasi kalian melayang tak berarah. Akan kubawa kalian kembali ke bumi. Lihatlah pada sepanjang jalanan luas terbentang, kemana manusia pergi? Menyapu jalanan, menyiram bunga di halaman, membeli sayur mayur segar setiap pagi, membawa anjing peliharaan menghirup oksigen di luar pekarangan rumah, dan semua pekerjaan lumrah manusia lainnya telah tergantikan oleh kecerdasan buatan, robot! Manusia laksana usai meninggalkan bumi. Lantas, kemana manusia itu pergi?
Jikalau kalian cermati di setiap jendela rumah, para manusia pasti sibuk dengan kegemaran masing-masing. Mengeksplor berbagai olahan pangan, bermain alat musik, melukis, hingga mempelajari berbagai pokok ilmu eksak, hingga krusialnya hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Begitu khusyuk, tak usah diganggu gugat. Handphone musnah, menghapus kelalaian. Karena semua pekerjaan telah tergantikan dengan AI. Apalagi dengan saldo rekening di bank pun stagan gemuknya, mustahil menjadi sesuatu yang dipermasalahkan.
Kala manusia menjalani hakikat mereka sebagai manusia bumi. Berkelana dalam semesta dan meneliti segala keberagamannya, bahkan hingga menyentuh eksistensi dimensi yang berbeda. Seluruh takwil telah terealisasi pasti. Manakala kecerdasan neuron otak berguna seutuhnya. Inilah, Utopia.
***
Hari bersinergi, julukan yang pantas untuk hari ini, Ahad, 17 Juli 2022. Hari di mana Sekolah Alam Planet Nufo menjalin sebuah sinergi dengan dua kampus ternama di Indonesia, yakni UIN Walisongo Semarang dengan IPB University. Para utusan dari IPB ingin sekali menguasai ilmu alat untuk memahami kandungan Al-Quran, ditempa langsung oleh Abah Nasih, dibantu dengan kehadiran para mahasiswa dari UIN yang mayoritas berada dalam naungan Abah di Monash Institute, Semarang.
Sebagai bentuk timbal baliknya, mereka pun memandu kami dalam berbagai wirausaha, baik dalam aspek pertanian, juga peternakan. Bagaimanapun juga, IPB terkenal dengan teori, sistem dan formulasinya yang jitu. Dengan teori ampuh yang mereka miliki, juga dengan modal space yang kami punya, tidak menutup kemungkinan bahwa kewirausahaan di Planet Nufo akan memiliki input dan pemasukan yang sangat fantastis. Lebihnya, mampu terintegrasi satu sama lain secara efektif.
Ah, Bingung selalu membekuk pikir lurusku. Entah keberuntungan apa yang berpihak pada langit Mlagen hari ini. Makin melanglang buana saja rasa senangku, kala Ustazah Ida mewarta padaku di serambi koperasi. Ada Wildan, Ezy, dan Agha di sana lebih dulu sembari menyimak briefing yang beliau wanti-wanti.
“Mas Raka, kamu jadi MC untuk acara penyambutan besok ya?” langsung kuanggukan perintahnya dengan sungguh, lantas beliau beranjak, meninggalkan kami di sana.
Selang dua hari, semenjak kedatangan mahasiswa IPB ke Planet Nufo. Sekonyong-konyong, bala penutur ilmu kembali berdatangan. Profesor Muji selaku ketua LPPM Fakultas Teknik, membawa beberapa dosen dari Politeknik Negeri Semarang, spesifiknya para dosen teknik rekayasa elektronika, informatika, dan telekomunikasi. Guna memberitai ilmu yang mendasar dari kompleksnya robotika.
Tidak perlu waktu lama untuk mempersiapkan diri, baik dari segi mental, hati, bahkan ekspresi. Pengalaman benar-benar mempermudahku, walaupun baru satu kali aku mengaju. Dipandu dengan beberapa ustaz dan ustazah yang ahli dalam berpublic speaking, sehingga keberanian ini tak ubahnya sang raja rimba yang sigap melibas segala mangsa. Itu benar.
***
Pukul 06.30 pagi, kurang beberapa jam sebelum tamu spesial berikutnya akan sampai ke Planet sinergi ini, Planet Nufo. Ah, sebenarnya Abah Nasih sudah memberitai kami lebih dulu soal keberangkatan mereka tadi subuh. Tepatnya saat kajian irabul quran tengah berlangsung. Kami bersimpuh melingkar, sembari mencermati segala tutur yang ia jelaskan kepada kami. Sembari memperhatikan kala tangan beliau penuh semangat dalam animo.
“Bu Profesor dan anggota LPPM lainnya sudah berangkat. Segera siapkan ya!” tukasnya mengakhiri, dilanjut dengan anggukan kami cergas. Kajian pun ditutup.
Aku, Yuliana, Yusuf, dan Mas Fahim, sedang dikumpulkan oleh Ustazah Intan. Kami adalah master of ceremony acara penyambutan sesaat lagi. Belum mandi, pun sarapan belum dinikmati, karena persiapan ini sangat bergantung pada nama dan harga diri, Planet Nufo dan Abah Nasih.
“Ayo kita coba bersama!” tukas Ustazah Intan. Dengan cergas, kami mengambil masing-masing teks dibalut dengan kitab perangkat primer upacara. Apalagi jikalau bukan janji siswa, pancasila, dan lainnya?
Mas Fahim dengan teks Bahasa Arabnya, Yusuf hanya dengan bagian pendek di Bahasa Mandarin, aku dengan teks Bahasa Inggris berkedok janji siswa, juga Yuliana yang tengah antusias dengan teks Bahasa Indonesianya. Untuk saat ini, tiada yang kami khayalkan, selain kesuksesan di depan publik nanti. Semoga saja begitu.
“Nahh, sudah bagus. Pukul sembilan nanti, kita akan melaksanakan gladi bersih. Sebelum itu, kalian sudah harus siap dengan seragam MC ya? Sudah tahu semua kan?” ujar Ustazah Intan. Kami mengangguk, mengiyakan.
“Ya, mengenakan atasan jas almameter Nufo, serta bawahan hitam. Ya sudah, segera mempersiapkan diri ya.” Kami pun membubarkan diri. Menuju distrik masing-masing.
Matahari kadung mencahayai planet ini merata. Waktu yang sangat strategis untuk melilau segala hegemoni keindahan merangkam Planet Nufo. Ya, saat para pejuang kebersihan usai dengan kewajiban harian mereka, di situlah keindahan merangkam segala sudut di planet ini, bahkan kebun tebu, tembakau, dan jejeran trembesi yang bertetangga. Semuanya tampak ciamik.
Tidak sedikit pula yang ditempias semangat oleh cahaya mentari. Beberapa dari Nufo citizen bergelut dengan gunungan cucian kotor mereka pagi ini. Aku yakin, mereka adalah peminat robotika yang pasti akan sibuk siang nanti, sehingga mereka mendahulukan urjensi dengan sandang yang akan mereka kenakan esok hari, bahkan seterusnya. Melilau wajah serius mereka, aku tertular, ingin segera mengusaikan mandi dan berbenah diri.
***
Pukul 11.00 siang. Area utama laksana lautan manusia. Pertanda gladi resik akan segera dimulai. Kami, para pembawa acara tengah disibukkan dengan teks masing-masing, bahkan perlu menaikkan nada beberapa oktaf agar mampu menyelaraskan artikulasi dan kelantangan suara. Berbeda dengan ekspresi tercenung Yusuf, seolah-olah memberi isyarat penting pada tim konsumsi, untuk segera memberi perut kosongnya makan.
“Ayo, Mas, Mbak! Segera berdiri, menghadap kepada para hadirin, lalu sedikit merunduk tanda hormat, baru boleh maju ke depan. Okay?” pandu Ustazah Ida kepada kami. Dibalas dengan anggukan siap kami.
Kami berdiri di sisi kiri panggung. Sedikit gugup saat atensi kami dengan para hadirin berpadu, lalu kami merunduk takzim dengan senyuman. Khalayak bertepuk tangan, kami segera memasuki panggung, kemudian mengambil mikrofon dengan jumlah yang pas. Ketukan kecil terdengar nyaring, kami siap bersuara.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” gema salam memenuhi setiap gendang telinga, pun sorak sorai applause meramaikan gedung. Dada kami berdebar.
***
Masih dengan lautan manusia yang seperlilauan, hanya saja ada sedikit tambahan tamu. Para anggota KKN UIN Walisongo, Kakak-kakak IPB University yang berbaur di tengah kerumunan santri, Abah Nasih di sisi kanan, serta para dewan pengabdi dari Fakultas Teknik, Polines Semarang. Persiapan sudah paripurna, sehingga dapat kutatap lekat wajah mereka menunggu kehadiran kami di atas panggung. Acara pun dimulai.
Berdiri, masih dalam debar gemetar yang sama, namun kami dituntut profesional, sehingga kami mampu memampangkan senyum terbaik kepada mereka. Sorak sorai tepuk tangan kembali bergema. Kami maju ke hadapan.
Usai dengan beberapa sambutan hangat kepada yang terhormat, salam, saat yang tepat untuk menginjak klimaks acara.
“Selamat datang di Planet Nufo!” sorak kami kompak, lagi-lagi gema itu membuncah, gedung baru bergelora.
Semangat berkobar, kala Benefit Band mengiringi kami yang tengah beranimo dalam hymne membara, Indonesia Raya dan Tanda Alam. Rasa bangga memeluk bangsa ini terpicu sejenak. Rasanya tak sudi menghalau nasionalisme yang kadung membumihanguskan malas dan engga, lalu kami dipersilakan duduk kembali dengan spirit yang masih terasa.
“Menginjak acara selanjutnya, yakni sambutan dari ketua OSIS SMP Alam Planet Nufo, Agha Abitha Ismanto. Kepadanya, kami persilakan,” Yuli angkat bicara, Agha langsung bergerak, cekatan mengambil mikrofon yang kupakai di depan tadi.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya, dibalas oleh semua. Berlanjut pada petuahnya.
“Selamat datang, para dosen, guru, dan pejabat dari Polines Semarang. Lengkapnya dari teknik rekayasa elektronika, informatika, dan telekomunikasi. Nah, semoga dengan keberadaan para dosen dan guru sekalian, Planet Nufo akan segera melejit, terutama dalam aspek sains dan teknologi,” ujarnya bersemangat, semuanya kembali memberi applause.
“Contohnya, kita bisa menyiram lahan kita yang hampir beratus-ratus hektar dengan sekadar menekan tombol kecil di samping tempat tidur kita, atau dengan hanya memindahkan tuas di samping sofa untuk memberi perintah kepada robot, untuk memberi pakan ternak yang sudah sekian juta ekor terpelihara. Oleh karena itu, kami memohon dengan sangat atas bimbingan kalian untuk memberikan ilmu-ilmu dasar itu kepada kami. Sekian dari saya, jika ada kekurangan mohon dimaafkan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Agha pun turun dari panggung, sembari memberi salam sejenak di hadapan para dewan LPPM, Profesor Muji, serta para dosen dari Polines. Senyum bangga tebersit kala wajahnya menoleh pada kami, pada para MC yang terduduk di sisi kiri panggung.
“Sambutan selanjutnya, akan dibawakan oleh pengasuh Sekolah Alam Planet Nufo, Abana Dr. Mohammad Nasih M.Si Al-Hafidz. Kepada beliau, kami persilakan,” Yuli kembali beraksi. Mikrofon bergilir pada Abah.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” semua menjawab dengan serentak, lalu memberi sambutan kepada tamu terhormat. Tidak jauh berbeda dari Agha sebelumnya.
“Baru dua hari, semenjak rombongan dari IPB datang ke Planet Nufo, dan sekarang, giliran Ketua LPPM, yakni Ibu Prof, bersama para dosen-dosen di bidang teknik robotik, Polines Semarang yang datang ke Planet Nufo. Entah angin apa yang membawa mereka kemari. Tetapi, mungkin tidak jauh dari sepenggal lirik mars Tanda Alam. “Kuasai sains dan teknologi, tanda kebenaran firman Ilahi” yang diulang sebanyak dua kali,” kami termanggut, ujarannya mengajak otak kami untuk berpikir.
“Kenapa begitu? Karena zaman sekarang, yang menduduki kursi penguasa dalam bidang sains dan teknologi adalah orang-orang kafir. Bill Gates, atau Mark Zuckerberg menjadi orang terkaya atas besarnya keterlibatan mereka dalam hegemoni teknologi. Lantas, kemana perginya kejayaan raksasa umat Islam yang selalu diperbincangkan sejarah?” beliau bertanya, retoris. Memutar balikkan otakku.
“Nah, oleh karena itu, kita di sini akan melakukan reintegrasi sains dan teknologi dengan agama islam, sebagaimana yang pernah berlaku di zaman Abbasiyyah dahulu. Di mana penemuan-penemuan membanjiri sepanjang zaman, prakarsa kejeniusan ilmuwan islam. Ibnu Sina dengan kedokterannya, Al-Farabi dengan filsafat politiknya, dan tentu masih banyak ilmuwan-ilmuwan visioner lainnya,” aku mengangguk paham.
“Seperti yang Agha katakan tadi. Kelak, Dunia yang paripurna, akan dipenuhi dengan pengangguran. Bukan pengangguran dalam konteks sulit dalam mencari pekerjaan, tetapi pengangguran yang produktif. Mengapa? Karena Rasulullah SAW telah bersabda, bahwasanya tidur orang yang alim (berpengetahuan) lebih baik daripada seribu tahun ibadahnya orang yang tidak berpengetahuan. Dengan menitikberatkan pekerjaan rutin kepada sains dan teknologi, sehingga umat manusia dapat memenuhi segala kewajibannya terhadap bangsa, bahkan agama. Seperti jargon kita, yaitu berilmu, berharta, dan berkuasa. Cukup sekian yang dapat saya sampaikan, billahi taufiq wal hidayah, wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,” gema salam dan riuh tepuk tangan memenuhi seisi gedung.
***
Pukul 04.00 petang. Mulut mereka bercerita, tentang segala keseruan dan dinamika dalam merakit sebuah robot. Bermula dari pengumpulan partisi dan chip, menempel, menyolder, hingga menguji coba kelayakan robot di medan. Akhirnya, robot rakitan pertama mereka diberi nama Line Follower, karena sistem mereka yang diprogram untuk mengikuti garis hitam pada map yang sudah disediakan oleh pihak LPPM. Aku antusias mendengar mereka.
Jalu, Bukhari, Adam, Akhdan, mayoritas adik kelas yang mengikuti agenda tersebut tampak berbinar-binar kala tangan-tangan mereka beranimo. Robot begitu menarik penuh minat mereka. Aku sedikit iri dengan rasa kagum mereka usai mempelajari asyiknya merakit robot. Namun sadar akan kesibukanku sebagai siswa SMA baru, aku belum bisa mengimbangi kepadatan jadwal tersebut. Setidaknya, sedikit informasi dari mereka yang setia, merupakan modal yang cukup bagiku untuk mengetahui segala rupa tentang robotika secara holistik. In syaa’a Allah.
Oleh: Aletheia Raushan Fikra Ukma, Siswa Kelas X SMA N 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo







