Berpikir Kritis; Mengikis Hoax tentang Pandemi Covid-19

Sampai saat ini pandemi wabah covid-19 di Indonesia belum juga usai. Keadaan ini membua sebagian masyarakat Indonesia resah dan bingung mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditambah lagi akhir-akhir ini banyak data tentang covid-19 yang dimanipulasi  oleh pihak-pihak tertentu yang tersebar kepada khalayak umum mengenai pasien yang di duga positif atau semacamnya.

Tentu benar tidaknya berita tersebut tetap harus disikapi dengan kritis. Karena tidak semua informasi yang di dengar itu benar atau sesuai dengan faktanya yang ada di lapangan. Di satu sisi, menyingkapi berita dengan kritis merupakan ciri khas orang yang beriman, sebagaimana bunyi firman-Nya :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب . الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (Qs Ali-Imran 3:190-191).

Di dalam Tafsir al-Maraghi terkait ayat di atas, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatina ‘Aisyah R.a bahwa di suatu malam Rasulullah pernah meminta izin kepada ‘Aisyah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, kemudian Ia menjawab: Wahai Rasulullah sesungguhnya aku menyukai apa yang menjadi keinginanmu, termasuk keinginanmu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala di malam ini. setelah itu Rasulullah bergegas berwudhu, setalah usai, Nabi Muhammad melanjutkan membaca al-Qur’an hingga menangis dan air matanya membasahi jenggotnya. Ringkas cerita, tepat pada ayat yang disorot di atas Rasulullah bersabda :

Baca Juga  Bay'at

ويل لمن قرأها ولم يتفكر فيها

“Celaka bagi seseorang yang membaca ayat ini lalu ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya.”

Di satu sisi, ayat di atas mengilustrasikan bahwa Agama Islam senantiasa mendidik Umat Muslim untuk berfikir secara kritis. Baik berfikir tentang kekuasaan-Nya maupun berfikir yang sifatnya tekstual dan semacamnya. Karena dengan berfikir kritis manusia dapat menangkap sebuah pelajaran yang sangat luar biasa, yang bahkan belum mereka sangka sebelumnya. Dalam tafsir Al-Maragi, penulisnya (Ahmad bin Mustofa Al-Maragi) ketika menjelaskan ayat di atas mengutip pendapat Hasan al-Bashri bahwa ia pernah berkata; bahwa berfikir sesaat lebih baik ketimbang beribadah semalam suntuk.

Banyaknya rumor-rumor (hoaks) tentang covid-19 yang berkobar di Nusantara, membuat Menteri Seketaris Negara (Pratikno) merasa cemas dan khawatir terhadap masyarakat awam. Tegasnya,  ia menghimbau kepada masyarakat agar lebih waspada dan kritis terhadap kebenaran suatu berita, karena di tengah pandemi ini arus informasi meningkat semakin deras lebih dari biasanya. Jauh sebelum ini,  di zaman Nabi Isa a.s juga pernah mengingatkan; “beruntung sekali bagi seseorang yang selalu berdzikir, berdiam untuk merenung dan merekrontuksi pandangannya.” Artinya berfikir itu merupakan kebiasaan  dan menjadi ciri khas dari orang-orang beriman.

Sebagaimana uraian di atas, dalam situasi pandemi ini masyarakat dituntut untuk membaca dinamika zaman dari berbagai perspektif, guna dapat menyaring serta mewaspadai mana berita yang fakta dan mana yang hoaks. Habib Ali al-Jufri dalam kitabnya Al-Insaniyyah Qobla al-Tadayun juga mengafirmasi bahwa di era kontemporer ini seringkali kita saksikan kebohongan berita yang merajalela, baik itu terbuka maupun tersembunyi yang telah meresap dalam perilaku masyarakat.

Baca Juga  Menghidupkan Seni dan Budaya Islam

Ironisnya lagi, terkait berita covid-19 ada sebagian sekte-sekte tertentu yang mempercantik dan ada juga yang memalsukannya. Tentu untuk menyingkapi hal tersebut bagi Umat Islam seharusnya kembali kepada Al-Qur’an dan al-sunnah. Karena keduanya merupakan pusaka Umat Islam yang menjadi petunjuk hingga hari kiamat tiba. Dan dalam hal ini, Allah Ta’ala  telah memberikan konsep untuk lebih berhati-hati dalam menerima berita, sebaimana bunyi firman-Nya :

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جاءَكُمْ فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti”. ( Qs. al-Hujurat 49:6).

Dalam ayat ini Allah memerintah hamba-hamba-Nya agar benar-benar meneliti berita yang dibawa orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada seorang pun yang memberikan keputusan bedasarkan perkataan orang fasik tersebut. Salah satu mufassir Nusantara Quraish Shihab tatkala menginterpretasikan nilai-nilai sosial pada ayat di atas, ia berpendapat bahwa mengklarifikasi suatu berita merupakan dasar yang telah ditetapkan oleh agama.

Karena manusia sendiri selalu membutuhkan orang lain untu memperoleh seluruh informasi, membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang benar, dan ada pula sebaliknya.

Poin pentingnya ialah disaat datang, mendengar, membaca berita yang belum tahu secara pasti kebenarannya, maka jangan tergesa-gesa untuk mempercayainya atau bahkan menyebarluaskan. Akan tetapi perlu adanya tindak klarifikasi terlebih dahulu, sebagaimana keterangan dalam kitab tafsir al-Maraghi :

أدب الله عباده المؤمنين بأدب نافع لهم فى دينهم ودنياهم- أنه إذا جاءهم الفاسق المجاهر بترك شعائر الدين بأيّ خبر، لا يصدقونه بادى ذى بدء حتى يتثبتوا، ويتطلبوا انكشاف الحقيقة ولا يعتمدوا على قوله، فإن من لا يبالى بالفسق لا يبالى بالكذب الذي هو من فصيلته

Lewat Rasul dan Kalam-Nya Allah Ta’ala telah memberikan pengajaran bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwasanya apabila mereka didatangi oleh seorang  yang diduga fasik dan terang-terangan meninggalkan syari’at agama, dengan membawa suatu berita, hendaklah jangan membenarkanya terlebih dahulu sehingga mendapatkan kepastian dan berusaha mengetahui hal yang sebenarnya sedang terjadi. Dan jangan bersandar kepada perkataanya, karena orang yang tidak peduli terhadap moralitas (kefasikan) tentu juga tidak peduli dalam melakukan dusta, karena dusta merupakan cabang kefasikan. (al-Maraghi, v 26, h.126)

Dicky Adi Setiawan
Peneliti Muda Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan RI tahun 2020 dan Mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Di Kampus AL-FITRAH Surabaya.

    Komisi Fatwa MUI Akan Usulkan Jabatan Presiden Hanya Satu Periode

    Previous article

    Ilmui Gempa, Kuatkan Iman

    Next article

    You may also like

    Comments

    Ruang Diskusi

    More in Kajian