Jalanan pagi ini cukup berkabut, membuat siapa saja yang berjalan merasakan kedinginan hingga menusuk ke tulang. Aku melangkahkan kakiku di atas rerumputan, di pinggir jalanan beraspal. Bau hujan tadi malam masih terasa hingga menusuk ke hidungku. Langkah kakiku terasa ringan menyambut hari pertamaku di kelas 6.
Namaku Igatsatul Lahfan Farabbi, anak kedua dari empat bersaudara. Aku dibesarkan oleh keluarga yang taat pada agama dan aturan. Aku menempuh pendidikan hingga kelas 6 SD di kota Depok.
“Telah jauh berkelana entah di mana ada rasa hanya kuntum kasihnya khabar itu merelakan perjalanannya ada jiwa hanya kuntum kasihnya biar panas membakar biar ranjau mencabar telah mekar hati seindah purnama di pujuk segala rajuk sepi rindu adakala meracun imannya biar panas membakar biar ranjau mencabar hati mekar seindah purnama,” senandungku sambil menuyusuri jalanan menuju Kantorku. Senyumku kian merekah saat aku mulai berpapasan dengan penduduk yang berdiam di desa ini. Langkah demi langkah aku lalui hingga aku tiba juga di depan gerbang yang spanduknya bertuliskan Sekolah Dasar Islam Ramah Anak.
Sejenak terdiam, aku memandang kearah tiang yang dengan kokohnya berdiri tegak di depan halaman Kantor Kepala Desa itu. Warnanya sudah usang, sudah berubah dari awalnya merah putih hingga menjadi kuning jingga. Ya, itu benderaku. Yang dengan gagahnya dia berkibar namun warnanya sudah tak sedap untuk dipandang. “apa tidak ada uang lagi, sehingga kantor ini tidak dapat mengganti bendera itu dengan yang baru?” batinku dengan hati yang kesal.
Aku sangat mencintai negaraku ini, Indonesia. Aku bangga dengan para pejuang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, mereka mampu membawa Tanah Airku ke ambang kemerdekaan. Aku ingin kemerdekaan ini bukan hanya ada saat dikumandangkannya proklamasi, namun aku ingin sikap kemerdekaan ini dapat membakar semangat anak muda sepertiku.
Kakiku kulangkahkan masuk ke halaman Sekolah Dasar Islam Ramah Anak. “Selamat pagi, Nak?” sapa penjaga gerbang sembari tersenyum. “Selamat pagi juga, Pak, selamat bekerja,” jawabku dengan senyuman yang merekah di bibirku. Sapaan setiap karyawan berkumandng di telingaku. Aku hanya membalas dengan senyuman kepada mereka, namun kadang kala aku juga membalas sapaan mereka. Aku senang dengan keramahan karyawan di sini terhadapku.
Kegiatan semestinya pun berjalan dengan sangat baik. Aku menyelesaikan seluruh berkas yang harus aku susun dengan semangat yang masih berkobar. Aku tidak merasa letih dengan semua belajarku, justru aku merasa sangat bersemangat dengan materi belajarku. Mungkin tahun akhir di kelas 6 SD belajar dengan baik menurutku suatu wujud rasa syukurku kepada Sang Pencipta dan juga sebagai wujud kecintaanku dengan daerahku, bangsaku, bahkan negaraku.
Pukul 15.00 aku berkemas hendak kembali pulang. Semua barang kususun dengan rapi. Sebelum pulang pun aku membersihkan terlebih dahulu ruang kelasku. Menurutku ruang kelasku merupakan tempat aku menuangkan ekspresiku.
Aku melangkahkan kaki keluar ruanganku dengan langkah pasti. Sejenak aku terdiam saat menatap tiang itu di depan halaman sekolah. Lagi-lagi aku merasa kesal dengan apa yang aku lihat. “Pak, itu benderanya tidak di ganti saja? Sudah usang, Pak?” kataku pada seorang penjaga sekolah ini, Pak Rusdi. “tidak tau, Nak. Soalnya tidak ada instruksi untuk mengganti bendera dari Bapak Kepala Sekolah,” jawab Pak Rusdi. “kok gitu sih? Diajuin dong, Pak. Tuh lihat benderanya sudah usang,” kataku dengan nada sedikit kesal. “iya, Nak, nanti coba saya yang ajuin pada Beliau,” jawab Pak Rusdi.
Aku heran. Bagaimana bisa mereka tenang melihat bendera usang itu? Bagaimana bisa mereka dengan setenang itu menanggapinya? Apakah kecintaan mereka terhadap merah putih itu telah sirna? Apa rasa itu telah hilang?
Minggu setelah aku memperingati Pak Rusdi, sampai sekarang tidak ada tanda bahwa bendera itu akan diganti. Aku kembali kesal. ‘kalau begini terus, yakin deh bendera itu gak bakalan diganti,’ batinku. Lalu aku pun menuju Ruangan Kepala Sekolah. “Permisi, Pak,” ucapku sambil mengetuk pintu yang terbuat dari bahan kayu tersebut. “Iya, Ighats, mari masuk,” ucap Pak Prio, Kepala Sekolah kami. “Terima kasih, Pak,” ucapku setelah duduk di hadapnnya.
“Ada apa, Ighats? Kok tumben mampir ke sini?” tanya Pak Prio dengan heran. “Hmm, ini, Pak. Bendera kita yang di halaman itukan sudah usang betul, Pak. Bagaimana kalau kita ganti saja, Pak,” kataku memulai pembahasan. “Oh, masalah bendera itu? Untuk kali ini belum bisa, Ighats” jawab Pak Prio. “Kenapa pak?” tanyaku. “dana kita belum ada,” jawab Pak Prio dengan ringan. “Dana? Seberapalah biaya untuk bendera itu? Malu kali Pak bendera usang itu masih dikibarkan,” kataku mulai kesal. “Ya, mau bagaimana lagi gak mungkinkan uang saya yang saya gunakan?” jawab Pak Prio. “apa salahnya? Kalau gitu biar saya saja yang ganti. Saya kira Pak Prio bakalan inisiatif untuk mengganti bendera itu,” kataku semakin kesal. “Ya sudah, kalau kamu mau ganti, ganti saja. Gak ada yang larang kok,” jawab Pak Prio. “ya sudah kalau begitu. Saya permisi,” ujarku sambil berlalu.
Astaghfirullah? Aku tidak menyangka itu jawaban yang akan diberikan oleh Pak Prio. Aku kira dia sebagai salah satu ‘Kepala Sekolah’ guru akan lebih berinisiatif untuk mengganti bendera itu. Apa salahnya coba mengeluarkan sedikit uang untuk menghormati para pejuang bangsa ini. Para pahlawan telah mengorbankan segalanya mulai dari harta, keluarga hingga nyawanya sendiri ia relakan. Betapa mulia bukan? Lalu bagaimana cara kita untuk menghargai perjuangannya?
“Sore, Pak,” kataku sambil menyalim ayah, setibanya aku di rumah. “Sore. Gimana belajarmu hari ini? Lancar?” tanya ayah. “ya gitulah, Yah, lancar kok. Tapi, ada yang buat kesel nih, Yah” ujarku dengan nada manja. “kesel kenapa? Bendera itu??” tanya ayah. Ayah memang mengetahui pasal bendera itu, karena aku telah menceritakan semuanya pada ayah. Jadi, ayah gak akan heran kalau aku selalu menggerutu tentang bendera itu. “iya yah. Tadi aku sudah nemuin Pak Prio. Tapi, Pak Prio gak beri respon yang baik, malah dia bersikap seolah tidak penting,” kataku dengan nada kesel. “ya sudah sih, kalau dia gak bisa beri respon, kenapa gak dimulai dari kamu saja?” kata ayah sambil berlalu ke belakang.
Aku masih memikirkan apa yang barusan dikatakan oleh ayah ‘kenapa gak dimulai dari kamu saja?’. Sambil memikirkannya, aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Aku berbaring sambil menatapi langit-langit kamarku yang bewarna biru – biru itu. “maksud Ayah apa ya?”.
Tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetok. “Bang…” Panggilnya, yang ternyata adalah adik bungsuku yang saat ini masih balita “iya Masuk. Kenapa?” kataku mempersilahkannya masuk dan bertanya. “Bang, aku nemu kain merah ini di jalan saat pulang PAUD tadi. Bagusnya digunakan apa ya, Bang”? tanya adik bungsuku sambil menunjukkan kain bewarna merah ukuran 130 cm x 190 cm. Aku menatap sekilas ke arah kain tersebut lalu memikirkan sesuatu.
Setelah berpikir beberapa saat, aku teringat kain ini cocok jika dijadikan sebagai benda yang dari tadi aku pikirkan. Lalu aku mencari sesuatu di dalam lemariku. Akhirnya aku menemukan yang kucari, yaitu kain bewarna putih dengan ukuran 200 cm x 150 cm. Kain ini merupakan sisa dari kegiatan kerajinan semasa aku SD kelas 2. “Untuk apa, Bang?” tanya adik bungsuku dengan nada bingung. “ini akan Abang jadikan bendera. Kamu mau gak?” jawab dan tanyaku. “Boleh ajah sih, Bang. Tapi, benderanya mau diletakkan di mana?” tanyanya masih dengan nada bingung. “bendera ini akan Abang buat sebagai ganti bendera yang ada di sekolah Abang,” jawabku dengan bibir yang mulai terangkat, tersenyum. “Wah… boleh juga tuh, Bang, terus aku lihat benderanya udah jelek dan mulai koyak juga,” kata adik bungsuku menyetujui usulku.
Aku pun akhirnya mulai mengerjakan untuk membuat bendera itu dengan bibir yang terus terangkat ke atas. Awalnya aku mengukur panjang dan lebar masing-masing kain, 180 cm x 120 cm. Aku mulai menjahit bendera tersebut dengan semangat meski jam kini telah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Meski malam mulai larut, namun semangatku belum juga larut untuk menyelesaikannya. Pukul 23.47 bendera itu akhirnya telah selesai juga. Aku puas dengan hasilnya, aku bangga.
Keesokan paginya aku berangkat lebih awal dari waktu yang biasanya aku berangkat. Senyum di bibirku sedari tadi belum juga lepas. Kain merah putih tersebut pun dengan setia bertengger di tanganku. Sesampainya aku di sekolah yang masih sepi ini, aku pun mulai memasang bendera ini di tiang. Setelah kuikat di tali pengikatnya, lalu aku menaikkan bendera itu. Dengan gagahnya bendera itu mulai menunjukkan kebolehannya dalam berkibar. Aku terharu dengan bendera itu.
Tanpa kusadari, sedari tadi ternyata aku sudah mulai jadi bahan tontonan adik kelasku yang lain “semangatnya amat tinggi ya,” ujar salah satu guru di sekolahku. “semangat muda yang luar biasa,” ujar salah satu penjaga gerbang sekolah. Pujian mulai terdengar di telingaku. Aku bangga bukan berarti sombong. Aku bangga karena aku bisa menjadi contoh di lingkunganku.
“Ighats, saya bangga denganmu. Kamu mampu membuktikan rasa cinta kamu terhadap tanah air ini. Saya minta maaf sebelumnya, karena telah mengabaikan pengajuanmu,” kata Pak Prio sembari menyalamiku dengan bangga. “iya, tidak apa-apa, Pak. Saya juga berterima kasih jika bukan karena tolakan Pak Prio kemarin, saya tidak akan bisa membuat moment ini. Hehehhe,” kataku sambil bercanda. “hahaha… iya, betul juga kamu. Jadi sama-sama,” kata Pak Prio bercanda. “hahahah” tawa guru dan penjaga gerbang yang ada di sekitar.
Tidak perlu lagi kita mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawa kita untuk memperjuangkan kemerdekaan. Sebab, kemerdekaan itu kini sudah kita genggam di tangan kita. Yang kita lakukan hanya bagaimana cara kita menggenggamnya. Apakah kita akan menggenggamnya erat, biasa saja, atau bahkan kita lepas. Jika genggaman kita erat maka perjuangan tidak akan sia-sia, bangsa ini pasti akan maju. Jika genggaman kita biasa saja maka perjuangan hanya dihargai sebagai rutinitas saja, bangsa ini akan tetap berada di posisi yang sama. Jika genggaman kita dilepas, maka hancurlah identitas bangsa ini. Tentukan genggamanmu!!!
Oleh: Ighatsatul Lahfan Farabbi (Fanfa)
Peserta Ujian Praktik PPKn Kelas 9 SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Pamotan Rembang







