Melambai-lambai
Nyiur di pantai
Berbisik-bisik
Raja kelana
Memuja pulau
Nan indah permai
Tanah airku
Indonesia
-Potongan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki
Untaian bait lagu karya seorang komponis besar Indonesia itu terdengar memekik telinga. Lagu yang dicipta untuk melukiskan indahnya Ibu Pertiwi itu terdengar sangat tidak selaras dengan tragedi yang terjadi saat ini. Lagu tersebut ditulis oleh Bapak Ismail Marzuki pada tahun 1914, jauh sebelum tahun kelahiranku.
Bisa jadi saat itu memang keadaan alam hayati teramat ciamik, sehingga memancing kehendak ia untuk mencipta lagu yang sebagaimana adanya. Melambai-lambai nyiur di pantai yang ada saat itu. Namun, yang kulihat sekarang deretan sampah plastik yang melambai-lambai di sepanjang bibir pantai Indonesia. Pulau nan indah permai yang dipuja saat itu. Namun, sekarang Perumahan Griya Permai yang senantiasa bertambah menggantikan jajaran sawah nan asri. Barisan pohon kelapa berdiri tegak yang digambarkan dalam lagu itu. Namun, kini pilar-pilar yang mencuat mengepulkan asap yang berdiri tegak menghiasi kawasan industri. Asapnya menjalar kemana-mana. Menyelap perkampungan warga. Merusak relasi antar makhluk hidup sekitar.
Tak sedikit massa yang merasa tak nyaman dengan polusi. Termasuk aku. Kalau ada orang yang menceritakan tentang indahnya alam Ibu Pertiwi, mereka bercerita tentang indahnya Pantai Kuta, Raja Ampat, Bromo, dan Dieng, mereka bercerita hanya tentang sebagian kecil ranah Ibu Pertiwi yang elok. Tapi, apakah semua ranah yang terjamah di sini asri?
Hutan Kalimantan terenggut kedudukannya sebagai paru-paru dunia. Karena apa? Siapa lagi yang bisa menggulingkan hutan Indonesia kalau bukan tangan-tangan nakal oknum kerusakan. Pertambangan ilegal menjamah lalu meninggalkan bekas tanah yang sia-sia. Mengubah hutan nan adiwarna menjadi danau racun mematikan tak guna. Banyak sudah anak-anak yang terenggut nyawanya sebab bermain di sana. Nahas.
Pulau kita sedang tidak baik-baik saja. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri lebih baik ke negeri sendiri. Tapi, mereka tak henti-hentinya menghujani negeri ini dengan batu. Mereka seolah tak sadar, menanda tangani surat persetujuan demi keuntungan yang memuaskan. Udara segar mereka gadai dengan kepulan asap. Lambaian nyiur di pantai mereka tukar dengan deretan sampah plastik yang melambai-lambai. Rindangnya pepohonan mereka rungguh dengan kelabunya asap cerobong pabrik.
“Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat.”
Begitu bunyi Pasal 4 Undang-Undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnnya . Tapi, apa yang terjadi sekarang sangat berbanding terbalik dengan realitas yang ada. Tak ada yang terkonservasi. Entah apa yang ada di benak mereka kala merusak keragaman alam hayati. Apakah mereka sadar dengan apa yang telah mereka perbuat?
Mereka mungkin tahu dengan apa yang telah terjadi dengan pertiwi. Tapi nafsu sudah memburamkan nurani. Ego sudah membungkam suara hati. Jangankan suara hati, suara rakyat pun tak di dengar. Seolah tertutup dengan gemerlap dunia yang hingar. Mereka tak mau membuka barang sedikit mata mereka. mereka tak mau menengok barang sebentar kerusakan hayati. Malah jalan-jalan ke luar negeri. Menengok negeri orang yang asri. Tak mau terhujani batu yang mereka turunkan sendiri. Entah apa yang mereka pikirkan?
Oleh: Wildan Mahdian, Sanja Penikmat Senja, Siswa Kelas IX SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang asal Kendal







