Asam Jawa dan Warisan Perewangan Dari Mbah Wedok

Oleh: Ridwan, S.Pd

Guru SDN KOTAKAN 1 Karanganyar Demak

 

Pagi itu kami berboncengan tiga dari pelosok dusun seberang kidul, menuju sekolah baru jenjang Madrasah Tsanawiyah (Mts)/setara SMP di kecamatan sebelah di salah satu kota kecil area Pantura. Kebetulan Pak Ko ngajar di yayasan itu, beliau pengampu filsafat bahasa arab.

“Le, seng tetegh atine. Golek ngelmu ora ono seng gampang. Pengen enak yo kudu wani rekoso ndishek”. Pesan Pak Ko dengan suara samar-samar karena bisingnya kendaraan.

“Dus pundhi, Pak. Meniko kedah pripun?” sautku dengan lantang biar terdengar jelas. “yo kabeh sumbere seko ati. Ditoto niatmu, Le. Kuncine prihatin. Jare wong saiki unine Prihatin adalah Gizi”, saut Pak Ko dengan gelak tawa koboi di akhir kata.

Tibalah kami di sekolah yang kebetulan satu atap dengan asrama itu. Bangunannya baru, Berbentuk L menghadap timur, sebelah selatannya ada Masjid yang lumayan besar bagi siswa yang belum seberapa kala itu. Tidak jauh dari gedung ada tumbuhan Asam Jawa, yang kata mbah-mbah dulu, harus dihindari jangan sesekali main di bawah Asam Jawa.

Aku dan Ateng (Panggilan temanku yang kebetulan agak subur) langsur berlarian untuk booking meja belajar. Aku suka di depan, dan Ateng pilih di pojok belakang. Hari pertama sekolah dilalui begitu cepat, diisi Ospek dan perkenalan.

“Assalamualaikum, Aku Fazi dari desa Kidul suka main bola. Salam kenal idolaku Cristiano ronaldo.” Ucapku dengan sedikit malu. Dan lantas disaut teman-temanku, “Siuuuuuuuuuuuu” ciri khas selebrasi sang idolaku. Dan aku pun tersenyum.

Sekolah usai jam 1 siang. Pak Ko pamitan pulang sembari komat-kamit memberi nasihat. Sayangnya tidak kami gubris karena kami terlalu asyik sendiri dapat teman baru. Ada yang dari kota sebelah bahkan ada yang dari luar provinsi. Ada yang halus tutur katanya bahkan ada yang sama sekali tidak paham bahasa jawa.

“Mugo-mugo betah aminnn”, lirih suara Ateng karena sedih ditinggal Pak Ko. Kami sekolah sekaligus mondok di asrma.

Horor Dimulai Dari Sini

Aku dari desa, cukup kenyang dengan cerita horor dengan berbagai jenis dhemit yang cukup variatif. Ada wewe gombel, pepe’an, marbol, kuntil anak, gendruwo, pocong, gempol growong, banaspati dan lainnya. Kami masih meyakini hari apes, tempat wingit, amalan jowo, poso mutih, dan lainnya. Dan kebetulan lagi ada garis keturunan simbah dituakan di desa.

Tapi karena masa peralihan anak-anak ke fase remaja, hal-hal ghoib itu aku tanggalkan. Aku di asrama bebas mengespresikan diri. Hari pertama di asrama langsung keliling gedung, lari-lari dari gedung satu sampai lantai tiga. Kita petak umpet sampai belakang gedung. Sebelah timur gedung ada bentangan sawah dan gedung selep padi sebelah kanan. Sedangkan sebelah barat gedung ada sungai kecil penuh eceng gondok.

Saking asyik bermain, tanpa sadar kita sampai di pohon Asem Jawa sebelah selatan gedung. Baru beberapa menit di bawah pohon asem, ada bapak setengah tua menyentak kami dari kejauhan.

“Le, ojo dolanan nang kunu. nek wani ojo wedi nek wedi ojo wani-wani loyaa”. Dengan suara lantang serak-serak basah. Derap langkahnya semakain cepat menghampiri kami. Menceritakan dari A sampai Z. Intinya Lokasi gedung kami awalnya belantara tempat pembuangan jin. Semenjak dibangun gedung, para jin bergeser pindah ke pohon Asam Jawa. Menurutnya, beberapa warga sudah tak terhitung diganggu anak jin penunggu sini.

Kami tidak percaya. Bapak balik badan mau pulang, kami justru berebut mau naik pohon asam jawa. Anehnya dimulai. Temenku sibuk naik turun dengan eskpresi penasaran ingin membuktikan sesuatu.

“Lo neng duwur kok mampu bosok amis geteh ya, tapi pas mudun kok ora mambu” umpat temenku. Akhirnya kami semua berlarian kalang kabut balik ke asrama karena menjelang matahari sirna.

Keanehan berlanjut, temenku jalannya miring. Lebih tepate Kang Pondok, karena beliau lebih tua sama-sama siswa baru tapi dia jenjang SMA sedangkan aku SMP. Ternyata ada anak jin yang minta digendong posisi tidak simetris condong ke kanan. Tidak hanya itu, dia juga jalannya nyeret kaki sebelah, ternyata ada anak jin yang glendotan di kaki sebelah kiri.

Tidak hanya itu, Ada mbak asrama yang melihat anak kecil perempuan main balon di teras asrama waktu sepertiga awal tengah malam. “wes wengi ora bubuk, Nduk” sapa Mba pondok sambil kucek-kucek mata melewati lorong teras hendak buang air kecil. Nah, paginya setelah solat subuh baru ngeh ternyata di asrama tidak ada anak kecil.

Sidang Para Santri

Keanehan demi keanehan terjadi, akhirnya Pak Yai mengumpulkan santri untuk mencari akar masalah. “kulo Yai, penyebabe kulo. Ngapunten..” dengan suara lirih Mbah No mengakui bahwa teror anak jin gegara ulah santri. “rencang-rencang dolanan teng wet asem dugi surop, anak jin meniko derek teng asrama, wonten kalih jalir ugo estri”. Terangnya. “Insyaalah mengko surop kulo terke balik asale malih Yai, meniko nurut asal boten diganggu” janji Mbah No ke yai.

“Mbah No kui sekti, duwe warisan perewangan weroh barang alus”. bisik-bisik temanku yang kebetulan berasal dari kampung yang sama. “Huss ojo ngarang, ojo nambah-nambah. Situasine lagi tegang iki”, jawabku. Kemudian temuanku meyakinkanku bahwa Mbah No sengaja disuruh ke asrama untuk sibuk mengaji, agar tidak larut dalam dunia perewangannya.

“Sedurunge mangkat asrama, Mbah No sempet iso mebur posisi turu sampe mepet plafon. Seksine okeh. Iku ngunu mungkin waktu nerimo ilmu seko perewangane, Mbah Wedok namane”, kata temenku sambil melotot.

Sejak kejadin itu pohon asem jadi zona merah yang haram dijamah. Dan Mbah no menjadi juru bisik asrama, jika ada apa-apa langsung bertanya ke beliau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *