Apakah Muhammadiyah masih Berkemajuan?

Catatan ini sengaja saya tulis oleh sebab pada hari ini, ternyata salah satu ormas keagamaan terbesar di Indonesia tengah merayakan miladnya yang ke 113 tahun. Capaian angka usia yang mestinya begitu matang secara sosial atau dalam istilah Muhammadiyah, mestinya bisa semakin berkemajuan. Apakah Muhammadiyah masih berkemajuan? Apa sebetulnya makna berkemajuan yang dikehendaki Muhammadiyah?

Meskipun bukan seorang warga Muhammadiyah, saya merasa perlu untuk menulis catatan ini, sebagai “orang luar” yang memperhatikan rekam jejak Muhammadiyah. Terus terang, awalnya saya banyak dibuat takjub oleh ormas keagamaan satu ini. Bagaimana tidak, Muhammadiyah merupakan ormas keagamaan mayoritas yang setiap menyelenggarakan hajat pemilihan Ketua Pengurus Pusatnya yang baru, hampir selalu berjalan mulus. Manajamen dan mekanismenya seperti sudah matang dan rapi. Tidak seperti ormas-ormas keagamaan yang perilakunya bak partai politik yang sarat akan politik uang dan muslihat.

Selain itu, Muhammadiyah juga telah dipercaya menjadi ormas keagamaan yang mandiri dan berdaya. Ia menjadi salah satu ormas keagamaan terkaya di dunia dan itu artinya Muhammadiyah adalah ormas keagamaan terkaya di Indonesia. Lihat saja berbagai lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya yang dikembangkan Muhammadiyah selalu menampilkan capaian yang membanggakan.

Saya sendiri merasa perlu mengenal Muhammadiyah dari salah satu mantan Ketuanya yakni Ahmad Syafii Maarif. Terutama apa-apa yang tertuang dalam autobiografinya yang berjudul “Titik-titik Kisar di Perjalananku.” Saya menikmati betul kisah demi kisah dalam kisaran perjalanan Buya Syafii, baik sebagai Ketua PP Muhammadiyah maupun sebagai cendekiawan Islam Indonesia.

Namun, entah mengapa, Muhammadiyah dalam kepemimpinan Haedar Nashir yang selama ini dikenal sebagai sosok cerdas nan sederhana sepertinya banyak absen dalam banyak persoalan yang membelit negeri ini. Muhammadiyah malan ikut-ikutan latah menerima konsensi tambang, demikian ia juga absen dalam kacaunya proyek-proyek Pemerintah (MBG, KDMP, sekolah rakyat, sekolah garuda, dll), sama-sama menikmati bagi-bagi jabatan rezim hari ini, yang masih baru Muhammadiyah juga malah turut mendukung Soeharto menjadi pahlawan nasional dan masih banyak lagi, nyaris seperti macan ompong.

Saya merasa bahwa Indonesia di era rezim Pemerintah hari ini, adalah puncak kepincangan civil society dari sisi ormas keagamaan. Lalu saya bertanya nan heran, apa sebetulnya yang diharapkan Muhammadiyah, padahal ia telah menjadi ormas keagamaan terkaya di Indonesia dan dunia? Jelas-jelas Muhammadiyah merupakan ormas keagaman benteng pertahanan terakhir civil society, akan tetapi benteng itu ternyata telah porak-poranda oleh–entah oleh apa, apakah oleh nafsu ketamakan, keserakahan atau yang lain.

Kalau saja Muhammadiyah mampu menjalankan ormas keagamaan yang tidak bergantung kepada Pemerintah, setidaknya dalam arti menolak keterlibatan dalam bagi-bagi jatah Kabinet, Komisaris dan jabatan empuk lainnya, Muhammadiyah nyaris sempurna untuk menjadi ormas keagamaan satu-satunya yang berkemajuan. Muhammadiyah akhirnya seperti mobil mewah yang tidak berfungsi secara optimal. Harganya mahal tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan persoalan umat.

Lebih dari itu, saya termasuk orang yang penasaran dengan kiprah Muhammadiyah di daerah, apakah kemandirian dan keberdayaan organisasinya tersebar secara merata sampai pelosok Desa atau sengaja dibiarkan terpusat di Jakarta dan titik-titik yang dianggap strategis lainnya? Sebab selain menterengnya gedung-gedung pendidikan dan kesehatan, di Cirebon sendiri, selama ini nyaris saya tidak pernah melihat mandiri dan berdaya sampai ke pelosok Desa dan Kecamatan, apakah itu untuk keperluan pemberdayaan ekonomi, pengentasan kemiskinan, penurunan angka stunting, pemberdayaan lansia dan disabilitas serta problem-problem sosial lainnya. Ala kulli hal, selamat milad yang ke 113 untuk Muhammadiyah!

Wallahu a’lam

Oleh: Mamang M Haerudin, Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *