Dalam perspektif Islam, Covid-19 ini bisa dimaknai sebagai ujian dari Allah Swt. kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Terkait hal ini, Quraish Shihab telah menjelaskan bahwa Covid-19 tidak bisa disebut sebagai azab, melainkan adalah ujian.
Dalam buku Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya (April 2020: Lentera Hati), Quraish Shihab mengurai bahwa Covid-19 sebagai ujian, bukaan siksaan/azab sebagaimana yang disampaikan sebagian tulisan atau ceramah para ustadz/da’i.
Menurut Quraish Shihab, Covid-19 tidak dapat dinamai siksa Ilahi karena menimpa Muslim dan non-Muslim yang durhaka dan yang taat. Hal ini didasarkan pada Alquran, bahwa jika Allah hendak menjatuhkan azab bagi suatu kaum/golongan, maka terlebih dahulu diselamatkan hamba-hamba-Nya yang taat agar tidak ditimpa siksa (Quraish Shihab, Corona Ujian Tuhan, 2020: 6-7).
Tentu saja sangat masyhur di kalangan kita akan kisah Nabi Nuh a.s. Bahwa Allah menjatuhkan siksaan/azab kepada kaum Nabi Nuh dengan banjir bandang. Ketika Allah hendak menurunkan banjir bandang sebagai azab kepada kaum Nabi Nuh yang ingkar dan durhaka, maka Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu/kapal guna mengangkut kaum beriman dan taat sebelum banjir besar tiba (Lihat QS. Hud [11]: 26-27). Hal serupa juga terjadi pada kisah Nabi Luth (Lihat QS. Hud [11]: 65).
Covid-19, sekali lagi, menimpa siapa saja, ia tidak memandang agama, status sosial, dan lain sebagainya. Maka, sudah selayaknya kita jernih dalam mengartikan Covid-19 ini sebagai sebuah ujian dari Allah. Ya. Sebuah ujian agar kita berbenah dan berubah.
Ujian adalah sebuah keniscayaan yang pasti dialami oleh seluruh manusia tanpa terkecuali karena ia merupakan konsekuensi kehidupan (Lihat QS. Al-Mulk [67]: 2 dan Muhammad [47]: 31). Bahkan, Rasulullah yang sudah nyata kekasih Allah dan para sahabat pun mengalami ujian sebagaimana terekam dalam Alquran (Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 214).
Siksa itu bagi pendurhaka akibat kedurhakaannya agar mereka sadar, sedang yang tidak durhaka diperingatkan agar agar bersikap benar menyangkut ujian atau bencana yang diterimanya karena dia sedang diuji apakah dia patuh mengikuti tuntunan Allah dan bersabar atau sebaliknya, ia menggerutu (Quraish Shihab, 2020: 16).
Dalam ayat lain, Allah mengatakan bahwa musibah apapun yang menimpa umat manusia adalah disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri (Lihat QS. Asy-Syura [42]: 30). Ayat ini menyentil kita bahwa ketika suatu musibah datang, maka lebih baik introspeksi diri terlebih dahulu sebelum berkoar-koar mengoreksi orang lain.




