Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Guru Utama di Rumah Perkaderan Monash Institute dan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI
Al-Qur’an, dibandingkan bacaan-bacaan yang lain, memiliki berbagai kelebihan yang membuatnya menjadi sangat unik. Dengan kata lain, sebab berbagai kelebihan itu, firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. itu menjadi bacaan yang kualitasnya tak tertandingi sejak dulu, hingga hari ini, bahkan sampai hari akhir nanti.
Di antara kelebihan al-Qur’an yang sangat menonjol adalah dalam aspek rasa dan logika. Padahal, biasanya keduanya tidak bisa terjadi secara bersamaan. Rasa biasanya menekan logika. Dan sebaliknya, logika membuat rasa jadi tiada. Namun, di dalam al-Qur’an kedua rasa dan logika ada secara bersama.
Aspek rasa inilah yang membuat al-Qur’an menjadi mu’jizat sampai akhir zaman. Mu’jizat rasul yang lain hanya pada masa tertentu.
Sedangkan mu’jizat al-Qur’an dalam aspek rasa yang luar biasa ini terjadi sejak ia pertama kali diturunkan. Lima ayat pertama surat al-‘Alaq, yang merupakan satu rumpun ayat yang diturunkan pertama kali, mengandung rima yang sangat indah nan menggetarkan. Dua yang pertama diakhiri oleh huruf qalqalah qaaf. Lalu diikuti oleh tiga ayat berikutnya yang berakhiran huruf miim.
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
iqra` bismi rabbikalladżī khalaq
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ
khalaqal-insāna min ‘alaq
ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ
iqra` wa rabbukal-akram
ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
alladżī ‘allama bil-qalam
عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
‘allamal-insāna mā lam ya’lam
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Sebuah keindahan rima yang bahkan akan bisa dirasakan oleh orang yang tidak paham bahasa Arab sekalipun. Dan rasa itu bisa hilang, kalau diterjemahkan tidak menggunakan kerangka rasa yang dibangun oleh al-Qur’an sebagai mu’jizat atau yang bertujuan mengalahkan kehebatan para penyair yang ada di Jazirah Arabia kala itu. Itulah pula yang menyebabkan al-Qur’an tampil sebagai hakikat mu’jizat, apabila ia juga dibaca dengan memperdengarkan suara, bukan sekedar dibaca dalam hati untuk direnungkan. Yang bekerja harus semuanya, lidah mengeluarkan bunyi indah dan juga pikiran untuk menghasilkan perenungan.
Bahasa yang indah itu, dihasilkan oleh manusia yang memiliki rasa yang mendalam. Manusia yang demikian disebut sebagai syaa’ir (orang dengan rasa yang sangat dalam alias perasa). Selain makna literal syaa’ir sebagai orang yang memiliki perasaan yang dalam, ada makna sosiologis sebagai orang yang memiliki kemampuan demikian karena dibantu oleh makhluk yang tidak kelihatan bernama jin. Itulah sebab, para penyair yang memiliki karya-karya luar biasa digambarkan sebagai syaa’irun majnuun.
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
Dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair yang kerasukan jin?”
Hanya saja, karena rasa yang sangat dalam itu, dan karena kebutuhan menghasilkan rima yang indah, para penyair seringkali kehilangan logika. Rasionalitas mereka juga seringkali hilang karena subjektifitas disebabkan oleh perasaan.
Berbeda dengan al-Qur’an. Ayat-ayatnya yang indah, tetap mengandung logika yang kuat. Rasionalitasnya tidak terganggu sama sekali oleh kebutuhan kepada keindahan rima yang dibutuhkan untuk mengalahkan keindahan karya sastra para penyair jahiliyah yang hebat-hebat.
Sekedar contoh ayat-ayat di dalam al-Qur’an yang sangat sarat dengan rasa dan logika itu adalah:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran: 85)
Ayat ini, kalau dilihat dalam rangkaiannya secara utuh, baik sebelumnya maupun sesudahnya, bahkan di keseluruhan surat Ali ‘Imran, menunjukkan keindahan rima walaupun ayatnya panjang-panjang. Dan logika kalimat “barang siapa menjadikan selain Islam selain diin, maka akan rugi” sangat jelas, yakni bahwa bisa saja di dunia akan mendapatkan keberuntungan. Dengan logika kuat ini, seorang yang beriman tidak perlu heran tentang fakta bahwa ada orang-orang dengan konsepsi teologis yang salah, tetapi mereka mendapatkan kebaikan hidup di dunia. Namun, yang tidak terelakkan adalah kerugian mereka di akhirat kelak.
Karena al-Qur’an menggunakan kerangka logika yang kuat, maka al-Qur’an hanya bisa dipahami oleh orang yang mau merenungkannya secara mendalam. Perlu juga latihan untuk memahami pola kalimat yang digunakan oleh al-Qur’an yang disusun secara sangat logis. Yang ini, hanya bisa ditangkap oleh orang yang memahami struktur bahasa Arab fushhah yang digunakan oleh al-Qur’an. Di antara contohnya adalah:
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”. (al-An’am: 15, al-Zumar: 13)
وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ
Dan mereka berkata: “Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?” (al-Zukhruf: 31)
Rasa dan logika yang ada di dalam al-Qur’an ini menjadi ‘ibrah bagi setiap muslim untuk menghidupkan perasaan dan juga menguatkan pikiran. Di antaranya dengan menghadirkan keduanya itu, maka hidup akan menjadi seimbang. Wallahu a’lam bi al-shawab.





