Jangan Keliru! Beginilah Seharusnya Etika Dakwah Islamiyah

Muhammad Sofwan Asyahari menjelaskan, ada beberapa etika dakwah Islamiyah setelah dielaborasi dari beberapa pendapat pakar agama, sebagai berikut:

1. Sopan.

Sopan berhubungan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku secara umum dalam tiap kelompok. Suatu pekerjaan dianggap tidak sopan, tatkala bertentangan dengan normanorma yang berlaku di suatu komunitas. Standar atau ukuran suatu kesopanan bagi masing-masing komunitas tidak sama. Masing-masing memiliki standar sendiri, akan tetapi aturan yang berlaku umum dapat dijadikan rujukan dalam menentukan suatu standar kesopanan. Kesopanan harus kita pelihara dalam perbuatan dan pembicaraan. Cara mengenakan pakaian, bentuk serta model pakaian harus dijaga serapi mungkin, sehingga tidak melanggar norma-norma tertentu dan tidak membosankan. Tindakan dan sikap yang dilakukan oleh da’i juga harus sejalan dengan pembicaraan yang disampaikan. Gerak-gerik yang dilakukan oleh da’i harus dijaga kesopanannya. Karena itulah kesopanan menjadi hal yang dipertimbangkan oleh da’i dalam melakukan aktivitas dakwahnya.

2. Jujur.

Dalam menyampaikan aktivitas dakwahnya, seorang da’i hendaklah menyampaikan suatu informasi dengan jujur. Terutama dalam mengemukakan dalil-dalil pembuktian. Pembicaraan yang disampaikan haruslah benar, tidak menyampaikan berita bohong dan memutarbalikkan keadaan yang sebenarnya. Tidak sepantasnya seorang da’i berdusta, sebab dusta akan merugikan dirinya sendiri dan mad’u-nya. Seorang da’i harus senantiasa memelihara tutur katanya. Ia tidak berbicara kecuali dengan kejujuran, ia tidak berfatwa melainkan dengan ilmu serta pemahaman yang diketahuinya. Dengan demikian tidaklah layak bagi seorang da’i berkata-kata dan berfatwa dengan kedustaan.

3.Tidak Menghasut.

Seorang da’i dalam melaksanakan tugas dakwahnya, ia tidak boleh menghasut apalagi memfitnah, baik kepada pribadi lain maupun kepada kelompok lain yang berselisih faham. Karena jika itu dilkukan, yang bingung dan resah adalah masyarakat pendengar sebagai objek dakwah. Adapun yang perlu diingat oleh da’i adalah bahwa dalam melakukan tugas dakwahnya itu ia harus menyampaikan kebenaran bukan harus menghasut atau melakukan provokasi.

4.Tawadhu (tidak sombong)

Sifat tawadhu merupakan akhlak orang-orang sholih, orang yang tawadhu’ tidak suka menonjolkan diri, tidak sombong dan selalu menjaga agar dirinya tetap dihargai orang lain menurut apa adanya. Seorang da’i yang tawadhu’ akan selalu menjauhkan diri dari sifat dan perbuatan yang berlebihlebihan, selalu bersikap toleran terhadap sesamanya, menghormati dan menghargai pendapat orang lain, serta pandai bergaul. Dengannya pula, seorang da’i dapat menarik banyak pendukung dan pengikut, serta menjadikan dirinya dicintai oleh masyarakat, sehingga apa yang diucapkannya dapat menggugah hati sanubari mereka.

5. Al-Rahmah (rasa kasih sayang).

Sesungguhnya setiap da’i harus mempunyai hati yang mengalir rasa kasih sayang kepada sesama manusia dan hendaklah berbuat baik kepada mereka serta menasehati mereka. Tanda kasih sayang kepada mereka adalah mengajak mereka kepada agama Allah, karena dengan penerimaan dakwah itulah kelepasan mereka dari adzab neraka dan keberuntungan mereka dengan memperoleh keridhaan Allah. Dengan sikap itu, bermacam-macam keinginan dan kebaikan dapat dicapai, yang tidak mungkin tercapai dengan cara kekerasan dan kekasaran.

6.Uswah Hasanah

Seorang da’i harus dapat menjadi contoh atau teladan yang baik bagi para mad’u-nya, maka dari itu bagi seorang da’i sesungguhnya harus menjadi uswah hasanah terhadap apa yang didakwahkan. Jika tidak, maka tidak akan ada orang yang mau mendengar perkataannya. Walaupun ia adalah orang yang pandai dalam ilmu agama, tetapi apabila perilakunya tidak sesuai dengan syari’at Islam dan norma-norma yang berlaku, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat dan orangorang tidak akan melihatnya dengan pandangan hormat.

7. Mempunyai niat yang baik

Seorang da’i harus mempunyai niat yang baik dalam berdakwah, sehingga tidak mengharapkan imbalan, harta, atau kedudukan, tetapi semata-mata mengharapkan keridhaan Allah SWT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *