Air Mata Menuai Tawa

Selayaknya sebuah pertemuan mengada, tak pernah luput dari perpisahan yang pasti menyerta. Entah kapan waktunya, lambat laun ia pasti akan tiba. Apakah perpisahan harus selalu berhias derai air mata? Mungkin saja tidak. Mungkin ada perpisahan yang teriringi senyum bahagia. Tapi, bukan itu yang kami alami.

Malam itu, di ruang TU gedung baru Planet Nufo. Kami, siswa kelas sembilan berkumpul membentuk lingkaran. Berteman sisa-sisa perlengkapan bekas dekorasi wisuda beberapa hari lalu. Beberapa ikat mawar imitasi dengan berbagai warna tersusun rapi dipojok gedung siap untuk dikembalikan ke pemiliknya. Rangkaian lampu hias dengan bentuk yang beraneka rupa pun siap untuk dipulangkan. Menyertai kami yang berkumpul atas titah Ustazah Endah demi sebuah pembahasan yang merujuk kepada masa depan. Jumlah kami tidak lengkap.  Dikarenakan, beberapa dari kami memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda. Meneruskan perjalanan hidup di sekolah lain. Bukan seperti kami yang memilih untuk menapak jenjang SMA sederajat di Planet Nufo.

Aku, Raka, Aisya, Affan, Karen, Lia, Ria, dan Arifin ditambah Rizky dan Diko yang tiba-tiba datang. Sebenarnya, mereka berdua sudah kembali ke kandang. Tapi, entah kenapa batang hidung mereka tampak lagi.

“Masih merasa menjadi santri sini,” katanya.

Bacaan Lainnya

Ustazah Endah membuka forum. Beliau berbicara pasal SMA yang diharapkan bisa menjadi tempat kami menunjang formalitas pendidikan. SMA Negeri 1 Sulang. Pikiran kami sedikit diliputi rasa khawatir akan tidak diterimanya kami tersebab sistem zonasi. Tapi itu tidak berlaku untuk Arifin dan Affan sebab mereka memilih untuk melanjutkan ke SMK yang terbebas sistem zonasi. Begitu pula dengan Rizky dan Diko yang memilih melanjutkan pendidikannya di dekat rumahnya.

“Teman-teman berdoa saja, ya,” begitu kiranya ucap Ustazah Endah yang masih terpatri di kepala kami.

Begitu panjang penjelasan Ustazah Endah tentang segala persyaratan mendaftar di SMA. Beberapa dari kami mendengarkan, beberapa yang lain mulai mengantuk. Berakhirlah forum diskusi kami mengenai perjalanan ke masa depan.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” tanpa diduga, Rizky mengucap salam. Ia mengutarakan permintaan maafnya atas kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat selama membersamai kami. Ia juga meminta untuk didoakan oleh kami agar mendapatkan jalan yang mulus saat SMA nanti. Kami merespon perkataannya dengan baik. Lalu, Diko juga mengikuti langkah Rizky untuk mengucapkan sepatah dua patah kata terakhir. Tak jauh beda ucapannya dengan ucapan Rizky. Ia juga meminta doa agar diberi kemudahan ketika ia mencapai ranah SMA nanti. Di tengah ucap-ucap perpisahan Diko, terdengar celetukan dari salah satu kami.

“Ria nangis!” seru Aisya dilanjutkan dengan iringan tawa kami yang saling bersahutan.

Ria terlihat tersenyum malu-malu menyembunyikan wajah sembari sesekali mengusap air yang keluar dari matanya dengan jilbab. Ia mungkin sangat merasa kehilangan atas kepergian Diko. Merasa kehilangan mood boosternya saat di kelas. Karena Ria memang merupakan orang yang tertawa paling keras di kala Diko meancarkan aksi jahil yang acapkali juga mengundang gelak tawa.

Tak lama kemudian, aku melirik ke arah Diko. Dan nampaklah peristiwa yang menjadi pemandangan langka dalam hidupku. Diko ikut menangis. Tak tertahankan tawaku tatkala melihat hal tersebut.

“Diko nangis! Cieeeeee,” sorakku spontan berbumbu ejekan.

Kami serentak tertawa dengan berbagai ledekkan yang terlontar. Aku merasakan suasana bersama rekan sekelas yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Suasana yang amat hangat.  Sebuah momen langka yang rasanya tak ingin kami akhiri. Curahan air mata yang bisa memancing canda dan tawa.

Kawan, mungkin saat ini kita memilih jalan yang berbeda. Tapi, aku yakin, suatu saat nanti kita akan sukses bersama walau dengan jalan yang berbeda.

Oleh: Wildan Mahdian, Pengurus Bidang Perkaderan PD IPM Rembang, Siswa Kelas X SMA Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang asal Kendal

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *