Agar Kamu Tidak Menyesal, Lakukan Tiga Hal Ini Sebelum Ramadhan Usai!

Wanita Cantik Bercadar

Para generasi terdahulu (shalafush shalih) memberikan teladan pada generasi saat ini tentang bagaimana memasang dan meraih target-target di bulan Ramadhan. Hal itu mereka lakukan agar keistimewaan bulan Ramadhan benar-benar bisa berbuah manis (optimal). Dan ketika Ramadhan usai, mereka tidak menyesal.

Cadar dalam Kampus

Setidaknya ada beberapa hal yang tak boleh kita lewatkan saat bulan Ramadhan ini. Tentu saja, hal tersebut agar puasa yang kita jalankan penuh dengan makna dan berdampak di dunia dan akhirat kelak.

Pertama, meraih ampunan-Nya.

Ramadhan telah tiba. Itu artinya, musim penuh ampunan telah menyapa dan membersamai umat Islam secara keseluruhan. Hal ini sebagaimana yang diinformasikan oleh orang kepercayaan Allah (utusan-Nya), baginda Nabi Muhammad SAW. “Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena beriman dan hanya mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Bacaan Lainnya

Agar mendapat ampunan-Nya, maka bulan Ramadhan harus dijadikan sebagai bulan untuk melangsungkan jihad besar, yakni melawan hawa nafsu, tidak lagi berteman dengan syaitan dan selalu membersihkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah. Jika bulan-bulan sebelumnya penuh dengan dosa, maka bulan Ramadhan harus digunakan sebagai momentum bertaubat.

Taubat sangat penting, bahkan menjadi pra-syarat Allah menurunkan ampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “dan orang-orang yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. al-Hujarat [49]: 11).

Bagaimana mungkin seseorang ingin mendapatkan pengampunan yang disediakan oleh Allah dalam bulan Ramadhan, sementara ia tenggelam dalam kedzaliman dan tidak mau bertaubat?

Kedua, meraih derajat muttaqin.

Dalam QS. al-Baqarah [2]: 183-185), Allah menegaskan bahwa disyariatkannya puasa kepada umat Islam itu adalah sebagai upaya untuk meningkatkan ketaqwaan. Dan inilah target kedua yang harus dicanangkan setiap muslim untuk kemudian dicapainya.

Dalam banyak ayat, Allah berfirman tentang taqwa yang bisa menyelamatkan seseorang dari api neraka (QS. An-Naml [27]: 53), ditempatkan di surga-Nya (QS. Maryam [19]: 35), dan akan dikeluarkan dari segela persoalan serta akan diberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka (QS. At-Talaq: 2-3).

Puasa merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. Karena itulah, Rasulullah SAW, yang notabene sudah dijamin Allah masuk surga, tetap sering berpuasa. Jelaslah sudah bahwa puasa merupakan sarana dan simbol ketaqwaan seseorang.

Ketiga, bersungguh-sungguh dalam beribadah (vertikal-horizontal).

Dimensi puasa itu setidaknya ada dua, yakni vertikal dan horizontal. Vertikal kaitannya dengan Allah (hablun min allah) dan horizontal erat kaitannya dengan manusia (hablum min annas). Maka, target ketiga yang harus diraih adalah menepati janji Allah untuk bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah (spiritual dan sosial) dan ketaan kepada Allah.

Allah berfirman:

وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Artinya: “Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Wanita Bercadar Sholat
Istimewa

Ahmad Suyuti dalam buku ‘Nuansa ramadhan’ (2002: 72) menjelaskan bahwa ibadah puasa dapat menjadi sarana pendidikan akhlak dan jiwa, yaitu mendidik manusia berjiwa sosial tinggi, untuk bersikap jujur dan amanah, mendidik manusia untuk hidup sederhana dan untuk mengendalikan hawa nafsu. Lebih lanjut, ia merinci juga memiliki dimensi sosial.

Sehingga puasa memiliki pendidikan sosial, diantaranya: membangun empati, mewujudkan kepedulian sosial, mengikis kesenjangan sosial, menghindari atau memperbaiki kebobrokan moral-sosial dan membangun hubungan harmonis dengan sesama.

Dengan demikian, sudah seharusnya segenap umat Islam di dunia bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik ibadah yang bernilai vertikal maupun sosial. Kesempatan bulan Ramadhan harus diarahkan setidaknya untuk mencapai ketiga poin sebagaimana disebutkan di atas.

Mengakhiri uraian ini, penulis mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Rabb kalian berfirman, Setiap kebaikan diberi pahala sebanyak 10 kali lipat hingga 700 kali lipat, sedangkan puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahala puasanya (tanpa batasan jumlah pahala)” (H.R Tirmizi 695).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *