Mendung.
Dari bawah sini, mega kelabu merangkak perlahan. Angin meniup udara dingin menelusup ke kulit. Hawa dingin, diperparah pula dengan baret-baret berdarah di sekujur tubuhku.
“Arrrgh.” Aku mengerang.
Luka sialan ini membuatku tak berdaya untuk sekadar bangkit. Namun, dengan tekad dan kepayahan, akhirnya aku berhasil berdiri di atas kedua kakiku. Diiringi langkah sempoyongan dan tertatih-tatih, aku berjalan menjauh dari tumpukan mayat di sekitar. Berusaha tidak menginjak mayat para prajurit, baik dari pihak lawan maupun kawan. Kecipak kakiku yang terseret menerobos kubangan darah. Meski sudah sangat berhati-hati, tapi—apa daya—toh aku tersandung juga dan tersungkur dengan posisi menelungkup.
Aku menghela napas. “Hhh …!”
Sia-sia saja upayaku untuk kembali ke Jenggala. Aku tidak mungkin menunggang kuda dengan keadaan patah tulang macam begini. Dan lagi, aku yakin, aku takkan disambut baik Prabu Jayengrana. Aku telah gagal mengemban amanah yang dibebankan Sang Prabu kepadaku. Yakni, menaklukkan Daha. Prabu Jayanegara yang keras kepala menolak bekerjasama dengan Jenggala dan menciptakan perselisihan di antara kedua belah pihak. Sejujurnya, ide untuk menyerang Daha berasal dariku ketika rapat nayakapraja berlangsung. Apabila Daha sudah terpepet, mau tidak mau Prabu Jayanegara harus bekerja sama dengan Jenggala. Pemikiran yang cemerlang, bukan?
Sayang, aku gagal mewujudkan impian junjunganku. Wadyabala di bawah pimpinanku dan Senopati Brajasakti dipukul mundur pasukan musuh. Ironisnya, Senopati Brajasakti—sebagai pimpinan utama—gugur dalam pertempuran. Wadyabala Jenggala yang dikirim tidak ada yang selamat dari ajal. Semua gugur, kecuali aku. Aku pun terluka di bagian dalam karena ilmu kanuragan Patih Daha yang lolos dari tangkisanku. Kini, tiada pasukan Daha yang berkeliaran di sini. Mungkin saja mereka sudah ditarik mundur. Entah bagaimana nasib para prajurit yang tewas di medan ini. Apakah bakal dipulangkan ke keluarga masing-masing, ataukah dibiarkan menjadi santapan burung pemakan bangkai?
“Huuugg…!”
Aku mencoba untuk berdiri kembali. Tidak, aku tak mau mati di sini. Ini bukan pilihanku.
Gludug! Gludug! Glegarr!
Aku mendongak menantang angkasa. Oh, ternyata gerimis telah tiba. Kemudian, gerimis itu kian lebat. Titik-titik hujan bagai jarum menusuk wajah dan tubuhku yang tak terlindung baju besi. Jarum hujan juga semakin memperperih lukaku. Air mataku turun seiring awan yang menangis. Di pelupuk mata, terbayang wajah setiap orang yang mengisi warna di hidupku yang tak seberapa; keluargaku, Prabu Jayengrana, sahabatku Senopati Brajasakti, dan rakyat Jenggala. Aku mengecewakan mereka.
Aku kembali berjalan, tapi …
Sial! Aku jatuh lagi. Sepertinya aku memang ditakdirkan tewas di medan tempur ini.
Tidak, aku tak sanggup lagi.
Biarlah. Jika memang riwayatku habis di sini, maka terjadilah. Lagipula aku tak punya muka bila hendak menghadap Prabu Jayengrana. Mau ditaruh di mana mukaku kalau orang-orang nanti tahu Sang Patih Jenggala, alias aku, kalah telak melawan Daha. Meski bukan senopati, aku ikut andil karena toh ini ideku. Dan, aku mengedarkan pandangan, aku pulalah yang menyebabkan ksatria-ksatria ini mati sia-sia.
Aku sudah tidak pantas hidup.
Aku seharusnya mati.
Berbaring di sini, tetap dalam posisiku hingga hujan mulai mereda. Hanya gerimis yang tertinggal. Kutatap mendung yang masih menggelantung di atas sana dengan posisi telentang. Rintik hujan menggantikan tangisku.
Kutolehkan kepala sedikit, menemukan sebilah keris di samping sosok meringkuk mayat prajurit Jenggala. Dengan sedikit kesakitan, akhirnya kuraih keris itu. Mengamati ulir ukiran khas Kerajaan Jenggala.
Aku tidak tahu apa yang sedang kupikirkan, aku setengah melamun juga setengah kesakitan. Tahu-tahu keris itu, oleh tanganku, terangkat begitu saja. Dan, sejurus kemudian, aku sadar. Aku memang mati di sini, tapi oleh tanganku sendiri.







