Sejak pemberitaan tentang musibah-musibah, terkhusus pandemi, masyarakat berbondong-bondong memborong bahan-bahan pokok di banyak pasar. Tidak sedikit yang memiliki niatan untuk menyimpan makanan untuk persedian harian, bahkan bulanan. Bagi yang memiliki perekonomian menengah ke atas akan cenderung relatif tenang dalam menghadapi musibah, karena mereka memiliki banyak cadangan makanan yang cukup. Namun, bagi perekonomiannya menengah ke bawah, mereka akan bingung, karena mereka tidak memiliki harta yang cukup untuk membeli cadangan makanan.
Dibandingkan semua itu, ada fenomena yang lebih parah lagi, menimbun makanan dengan tujuan agar mengalami krisis makanan. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan keuntungan yang berkali-kali lipat. Jika permintaan pasar tinggi dan pasar tidak mampu memenuhi permintaan pasar, maka harga barang akan menjulang tinggi. Begitulah teorinya. Sungguh peluang bisnis yang sangat menggiurkan. Mereka tidak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain. Bagi mereka, kebahagian dan kepuasan diri lebih penting dibandingkan urusan orang lain.
Demikianlah fenomena yang biasa terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat. Jiwa-jiwa individual mulai tumbuh dan akan tumbuh subur jika pendidikan karakter tidak diperkuat dan diinovasi. Nampaknya, pendidikan karakter mulai diabaikan. Fokus pendidikan hanya berupa bentuk bangunan fisik saja. Jika demikian, jati diri bangsa Indonesia yang telah diturunkan oleh para leluhur akan sirna seiring berjalan waktunya. Dan ini hanya tinggal menunggu waktu saja.
Lunturnya jati diri bangsa Indonesia tidak serta merta tanpa sebab, melainkan karena gempuran arus globalisasi yang begitu kencang. Arus yang kencang tanpa diiringi dengan antisipasi, menghasilkan bangsa Indonesia terpengaruh oleh produk globalisasi. Produk kebudayaan lokal semakin lama semakin tergerus. Alhasil, bangsa Indonesia mulai meninggalkan nilai-nilai yang telah diturunkan oleh para leluhur bangsa.
Dalam hal ini, produk individualistik menjadi yang paling banyak diminati. Secara historis, pemahaman individulistik muncul akibat tekanan dari objek-objek. Objek tersebut terdiri dari sifat yang yang berkaitan dengan perasaan. Perasaaan yang begitu kuat akan menghasilkan hasrat terhadap suatu perkara. Dan sering kali tidak mempertimbangkan benar dan salah. Jika bagi dia perkara itu baik, sekali pun itu salah, dia akan tetap mengejar perkara tersebut.
Adapun pengertian individualisme berasal dari teori etika yang berangkat dari aspek sosial. Teori yang menganjurkan kebebasan, kebenaran, dan kemerdekaan bagi setiap individu. Menurut pandangan Hobbes, dalam keadaan alami, manusia akan memiliki naluri untuk memertahankan kebebasannya sendiri, tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Konsep keadilan sudah tidak lagi dikenal.
Oleh karena itu, perlu rekontuksi pemahaman masyarakat yang telah mengikuti produk globalisasi. Pendidikan penguatan karakter bangsa harus benar-benar ditekankan, bukan hanya sekedar jargon di pengucapan saja. Pembaruan kurikulum pendidikan berbasis local wisdom menjadi syarat mutlak.
Hakikat Manusia
Di dalam tali rantai makanan, manusia menduduki puncak tertinggi. Hal ini menunjukkan, manusia sebagai raja ekosistem di dalam bumi. Semua dapat terjadi sesuai kehendak manusia. Sebab manusia diberikan anugerah yang tidak ditemukan pada makhluk apa pun, yaitu akal. Dengan akal, manusia mampu menciptakan suatu kebaikan, begitu juga dengan keburukan. Maka diperlukan aspek pengontrol agar manusia tidak melakukan sesuatu yang berlebihan.
Dalam kebudayaan Jawa, terutama di dalam sabdatama raja Jawa, raja biasa menyebut dirinya sebagai Khalifatullah ing bumi. Khalifatullah dapat diartikan dengan pengganti, wakil, dan pemimpin. Dari situ penulis menjadi tahu bahwa konsepsi manusia sebagai pengganti Tuhan di bumi sudah muncul sejak dulu di dalam litertur kebudayaan Jawa kuno.
Begitu juga di dalam literatur Islam, manusia juga disebut sebagai Khalifah di bumi. Termaktub dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 30 yang artinya, “Dan (ingatlah) tatkala Rabbmu berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah”. Berkata mereka, “Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau?”. Dia berkata, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Jika manusia memiliki peran sebagai pengganti Tuhan di bumi, maka setidaknya manusia harus mengupayakan sifat-sifat dan nama-nama Tuhan ada dalam diri mereka. Pemahaman karakter inilah yang sudah melekat dalam diri para leluhur bangsa. Dengan penanaman kembali nilai-nilai ketuhanan dalam diri manusia, sifat-sifat individual akan hilang dalam diri manusia, karena tidak ada satu pun karakter tentang invidualistik dalam diri Tuhan. Waallahu a’lam bi al-shawwab.







