“Agama memuat ajaran-ajaran etis yang sifatnya mengekang secara ruhaniah, bertujuan untuk memberikan kehidupan yang aman, tentram, dan damai bagi seluruh umat manusia.”
***
Mungkin tulisan ini akan terlihat sedikit klise, karena Aku akan menyematkan banyak tanda tanya di akhir-akhir alineanya. Ingat, aku senang bertanya. Sebelum ini kubuka, hendaknya perlu diberi sedikit klarifikasi yang akan menentukan alur ke depannya secara garis besar. Aku adalah satu-satunya manusia yang keimanannya patut dipertanyakan. Bukan sekadar badai yang datang tetiba lalu pergi tanpa berkabar, bahkan ia terus bergumul sejak Tuhan memperkenalkanku dengan tanda tanya yang besar. Dibuahi akal sehat yang gemar memeluk ‘overthink’ terkadang tidak sekeren dan senikmat kelihatannya. Selalu bergelut dengan apa-apa yang sebetulnya tidak perlu dipikir panjang, membawa hal-hal yang sejatinya mudah dan indah menuju kerumitan yang seolah-olah membuatku tampak payah. Aku pikir aku tidak sendirian di sini, benar kan?
Bukan maksudku enggan bersyukur. Tentu saja aku akan terus berpegang teguh dengan hemat dan caraku berpikir. Tuhan terlanjur menganugerahiku dengan berkah ini, maka aku wajib menggunakannnya sebaik mungkin setidaknya sampai aku mati. Terima kasih banyak, Tuhan Yang Maha Baik. Namun aku masih menyimpan pertanyaan yang sudah kupendam sangat lama. Aku masih bingung akan mereka-mereka yang sama halnya seperti aku, Engkau berikan hemat berpikir, sehingga akan timbul banyak tanda tanya darinya. Apakah Engkau tidak khawatir kehilangan banyak hamba-Mu yang cerdas dan kritis? Atau orang-orang yang demikian memang sengaja Engkau jadikan contoh buruk bagi orang-orang beriman yang terlalu percaya diri terhadap dangkalnya akal sehat mereka?
Dalam agama dan tradisi yang kukenal sejak kecil, tidak seorangpun boleh mempertanyakan hal apapun yang berkenaan dengan Tuhan, karena Tuhan dipercaya sebagai zat yang sangat suci. Sejauh apapun manusia dapat berpikir, tidaklah mungkin bagi mereka untuk membayangkan sebagaimana magisnya Tuhan selagi mereka masih berbuat dosa. Hampir saja aku lupa bahwa kami adalah mahluk paling berdosa di semesta. Maka seumur kami hidup, kami hanya mengikuti segala bentuk ritual dan doa yang ada tanpa memahami makna yang tersirat di baliknya. Unik bukan? Sama-sama bertuhan, sama-sama berdoa, sama-sama beriman, bukankah kami tidak jauh berbeda dengan satanis? Mengapa kita tidak mencoba untuk berpindah agama di setiap harinya?
Beranjak remaja, pertanyaan demi pertanyaan kasar mulai bermunculan dan entah kapan terjawabnya. Kepo remaja yang tak kunjung berbalas akan mendatangkan kegelisahan dan berujung pada pengambilan keputusan yang tak matang, ini bahaya. Sampai kini, agama masih menjadi suatu hal yang sakral untuk dibahas. Tidak sembarang manusia boleh koar-koar tentang apa yang melatarbelakangi terbentuknya agama. Setidaknya itu yang kutangkap dari beberapa instansi pendidikan berlabel agama di sekitarku, beberapa dinilai favorit, namun beberapa lainnnya kita semua tahu betul apa hasilnya. Pun instansi yang terpandang favorit pun tak jauh beda dengan rumpun sekolah di sekelilingnya, sama-sama menciptakan produk yang dilarang pintar. Aku mulai sadar, kami semua dibodohkan oleh feodal yang membudaya, bahkan perihal agama yang digadang-gadang lugas dan damai sekalipun telah luntur citranya. Islam yang dinilai sebagai perawi kedamaian bagi seluruh umat mulai dinilai nihil akhlak di mata masyarakat. Kewajiban sepenting shalat menjadi hal sepele, hingga seorang muslim yang shalat fardhu 5 waktu dalam sehari saja dielu-elukan bak alim ulama. Padahal, sudah sewajibnya begitu.
“Shalat itu ibadah zaman kapan?” bantah mereka.
Lain hal, kepercayaan lain yang pernah melakukan sekularisme semasa perjuangannya melawan arus zaman terlihat sangat sukses dalam kecakapan hidup. Bertolak belakang dengan Islam yang masa keemasannya telah habis ditelan masa. Untuk saat ini, apakah manusia beragama layak menjadi agnostik bahkan atheis, dengan catatan mengambil ihwal baik dari agama untuk dipraktekkan dalam keseharian tanpa harus mengimani paham-paham ghaib yang ada di dalamnya?
Neraka yang mengerikan kadung menjadi pemasung yang mengancam bagi orang-orang yang berpaling, sedangkan surga menjadi opium bagi orang-orang beriman untuk terus memperbanyak dan memperkhusyuk peribadatan mereka. Metode yang unik, bahkan beberapa dari mereka hanya menangkap hal tersebut sebagai tujuan akhir, tanpa memikirkan keberadaan dari Tuhan itu sendiri. Hei, kalian beribadah karena iman kalian kepada-Nya dan sama sekali bukan kepada hegemoni surga dan panas neraka. Aku sangat bingung dengan fenomena ini. Maafkan sebelumnya, kami dilarang pintar, setidaknya berikan aku sedikit titik terang. Apakah Islam saat ini adalah Islam yang dianut oleh orang-orang pintar di masa lampau? Apa variabel dalam Islam yang membentuk kepercayaan mereka?
Shalat, tonggak agama Islam dan pembeda antara Islam dan selainnya. Jujur saja, hal ini sedikit menyayat nuraniku. Alasannya kembali ke paragraf keempat. Al-Quran terabaikan, hingga lenyap dimakan rayap. Ihwal-ihwal agamawi mulai tergantikan dengan ilmu pengetahuan praktis, mahakarya terbesar bagi manusia. Manusia memang tak pernah bisa belajar jika pelajaran belum dipertontonkan di depan mata. Manusia tidak pernah berlaku adil terhadap diri pribadi dan manusia lainnya. Oleh karena itu, Islam membawakan ajaran tentang akhirat dan keadilan yang kekal dengan gambaran surga dan neraka. Apa benar? Mari kita kembali ke awal. Agama bertujuan untuk mengatur kehidupan manusia agar hidup dengan aman, tentram, dan damai. Maka seluruh agama memunyai surga dan neraka dengan versi mereka masing-masing. Simpelnya, semua agama memiliki pemasung dan opium masing-masing dalam mengatur tingkah laku umatnya. Ghaib, sangat bertentangan dengan akal sehat manusia. Dari beberapa pernyataan itu, sumber yang beragam, membuat hematku kembali turut serta,
“Mengapa manusia harus beragama jikalau dengan akal sehat dan etika saja manusia dapat hidup dalam aman, tentram, dan damai?”
Karena alasanku masih memeluk agamaku untuk saat ini hanyalah karena rasa patuh dan hormat kepada orangtuaku yang telah mendidikku dengan ajaran agama yang turun-temurun. Aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa. Mohon dipahami.
***
Nb : Penulis menggunakan pov seorang teman yang berpikir demikian, semoga dapat ditangkap, dicerna, diperdebatkan. Perlu diperhatikan, penulis memiliki jawaban akan pertanyaan tersebut. Sembari menunggu tulisan selanjutnya terbit, pembaca yang budiman dipersilakan berdialektika!
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang periode 2022/2023, Ketua Terpilih Pengurus Literasi SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) PR IPM Planet Nufo periode 2022/2023, Penulis 2 buku; Mengkaji Hari dan Arsip Insomnia





