Dunia tulis menulis mulai saya kenal sejak menempuh studi di Universitas Airlangga (Unair) beberapa tahun silam. Dunia ini seolah menyihir dan menyedot perhatian saya sepenuhnya kala itu. Saya pikir ‘passion’ saya belum ditemukan dan sudah saatnya untuk digali. Dengan begitu, tanpa berpikir panjang, saya menceburkan diri ke dunia aktivisme kampus bernama Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Sektor dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mercusuar. Ya, kedua lembaga pers tingkat fakultas dan universitas. Selain itu, saya juga mulai aktif mengurusi buletin Insan Cita, salah satu media internal HmI Komisariat Ekonomi Airlangga.
Seiring dengan minat menulis yang meningkat, saya beranikan diri membuat sejumlah artikel. Artikel yang saya tuliskan untuk konsumsi pribadi dan untuk dipublikasikan di mading, buletin, dan blog. Menulis telah menimbulkan kesenangan tersendiri bagi saya. Selain sebagai sarana untuk aktualisasi diri, menulis menjadi cara saya untuk menyampaikan segala keluh kesah dan uneg-uneg yang mengganjal di alam pikiran. Saat itu, persoalan EYD dan PUEBI tak begitu saya hiraukan. Bagi saya, yang terpenting gagasan bisa segera dituliskan. Sebab dengan begitu, saya bisa lega. Jika ditunda-tunda, biasanya ide cepat hilang. Sebab, ide sendiri pada dasarnya gesit. Jadi, perlu segera diikat lewat catatan. Di sekeliling kita pun, banyak hal yang bisa dijadikan ide untuk menulis. Kita bisa membaca fenomena alam dan sosial untuk jadikan bahan tulisan. Dalam hal ini, memang dibutuhkan kepekaan dalam menangkap apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.
Tanpa adanya ide, kita biasanya terpaku di depan laptop atau hanya memegang alat tulis tanpa ada satu pun kata yang dituliskan. Kenapa pikiran bisa tidak memiliki gagasan? Salah satu penyebabnya yaitu belum mampu tidak adanya bahan atau materi untuk ditulis atau dijadikan sebuah karangan yang utuh. Ide bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Bahkan, saat mendengarkan celotehan atau curhatan teman, bisa dijadikan sebuah tulisan. Kita juga bisa mendapatkan ide menulis dari berita yang kita peroleh dari TV, Youtube, koran, website, buku, blog, dan semacamnya. Ide bisa dipetik dari kumpulan teks yang kita serap. Bisa juga diperoleh dari realitas sosial yang sedang terjadi. Jadi, sumber ide bukan hanya dari apa yang tertulis. Lebih dari itu, kita bisa memperolehnya dari apa yang disediakan oleh alam semesta. Hanya saja, dibutuhkan kepekaan hati untuk menangkap hal itu. Sehingga tak heran jika, Budi Sardjono dalam salah satu kegiatan bertemakan ‘Sinau Bareng Redaksi Caknun.com’, mengungkapkan bahwa dua prinsip yang harus diasah seorang penulis yaitu intuisi dan imajinasi.
Seorang penulis bisa menggali ide lebih dalam lagi dengan mempertajam intuisi dan imajinasinya. Daya nalarnya secara perlahan akan semakin terasah. Apalagi, bahan bacaannya semakin diperluas. Saya rasa, banyak hal yang bisa dijadikan tulisan. Semakin sering menulis, kualitas tulisan secara tidak langsung akan semakin bermutu. Dengan catatan kuantitas bacaan semakin meningkat dan beragam. Jika malas untuk membaca buku atau koran, bisa dengan mendengarkan radio atau nonton YouTube. Atau bisa memadukan kedua, dari apa yang kita baca dan tonton itu, bisa menghasilkan ide. Sebuah ide juga bisa dihasilkan dari sebuah keresahan. Dari keresahan itu menimbulkan pertanyaan. Dari pertanyaan itulah kita bisa menggali lebih dalam lagi. Sehingga, tulisan kita lebih kritis dan reflektif. Dalam tulisan itu, kita juga bisa menawarkan solusi atau sejumlah keresahan, persoalan, dan pertanyaan yang menghantui alam pikiran kita.
Beberapa kawan saya beranggapan saya merupakan sosok yang ‘jago’ nulis. Padahal, setiap orang mampu untuk melakukannya. Mungkin, saya hanya lebih intens dalam menulis di media, sehingga beberapa teman beranggapan saya mahir di bidang jurnalistik atau tulis menulis. Sebagian menanyakan kepada saya, bagaimana tips dan trik agar sebuah tulisan bisa diterima di oleh redaktur media massa. Saya pun kadang bingung, bagaimana membalas pertanyaan mereka itu. Sebab, saya sendiri selama ini tidak memakai tips dan trik. Yang saya lakukan hanya menulis dan terus menulis lalu dikirimkan ke sejumlah media massa. Apakah setiap tulisan saya diterima oleh media massa? Tentu saja tidak.
Saya sering mengalami penolakan. Namun, hal itu bukanlah persoalan yang serius bagi saya. Sebab, di era sekarang banyak platform untuk mempublikasikan tulisan kita. Mentok-mentok ya bisa dipublikasikan di blog pribadi. Setidaknya bisa dibaca oleh orang lain. Lagian, penolakan dari redaktur media massa itu bukan berarti kegagalan atau akhir karir kepenulisan kita. Justru, dari penolakan itu kita bisa belajar untuk meningkatkan kualitas dan mutu tulisan kita. Penolakan dari redaktur bukan berarti kita gagal dalam menulis. Jangan pernah beranggapan seperti itu. Apalagi sampai membuat mental kita down dan berhenti menulis. Sekali lagi, jangan sampai salah kaprah dalam menanggapi penolakan dari redaktur media massa.
Selanjutnya, berbicara mengenai asal mula saya menggandrungi dunia tulis menulis, tidak lepas dari beberapa buku biografi mengenai founding fathers yang saya baca. Seperti halnya Bung Karno yang sudah menulis ratusan artikel di buletin Oetoesan Hindia. Beliau termasuk salah satu pejuang kemerdekaan yang sangat produktif menulis saat usianya masih terhitung belia. Bahkan, ketika di penjara pun, aktivitas intelektualnya tidak surut. Dia menghasilkan banyak karya luar biasa. Selain itu, saya juga mengagumi Bung Hatta. Beliau juga sangat aktif menuangkan gagasan progresifnya sejak kuliah di Belanda. Selain itu, masih banyak lagi, pejuang bangsa yang tidak hanya lihai dalam berorganisasi, namun juga jago dalam menulis. Mereka semua melawan kolonialisme dan imperialisme lewat pena. Dari situlah, saya mulai timbul keinginan untuk menulis.
Lambat laun, saya mulai mencari gaya menulis yang cocok dengan diri saya. Salah satu gaya menulis yang saya sukai adalah dari Mahbub Djunaedi, pendiri PMII sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama. Ya, Bung Mahbub memiliki gaya menulis yang sifatnya satir dan humor. Tulisan-tulisannya pun, bukan tulisan hidup dan berbobot tentunya. Dia mampu mengurai sebuah persoalan yang rumit dengan gaya yang jenaka. Ketajaman analisanya diakui oleh hampir semua intelektual di zamannya, bahkan hingga kini dia masih terkenal dengan julukan sebagai ‘Pendekar Pena’. Apalagi, Mahbub sendiri merupakan aktivis yang tidak hanya fokus di bergerak di bidang jurnalistik. Dia bergerak melampaui bidangnya tersebut. Saya kira, dia sebagai problem solver yang mengambil peran dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari situlah saya mulai menyukai sepak terjang Mahbub dan mulai tergerak untuk ikut ambil bagian dalam mendidik masyarakat.
Ringkas cerita, melalui catatan sederhana ini, saya ingin mengajak bagi siapa saja yang berniatan untuk menjadi penulis atau ingin sekadar menulis, maka mulai saat ini temukan motivasi atau alasan yang kuat kenapa ingin menulis? Sebab, alasan itulah yang nantinya menjadi ‘bahan bakar’ untuk konsisten menulis. Kemudian, mulailah terapkan konsep ATM yaitu Amati, Tiru, dan Modifikasi. Kita bisa belajar dari penulis-penulis lainnya dulu bagaimana mereka menghasilkan sebuah tulisan. Apalagi saat ini, kita hidup di era digital, semua bisa menjadi mudah dan terjangkau. Tinggal berselancar di internet, kita bisa menemukan banyak tulisan-tulisan bermutu yang bisa kita jadikan rujukan. Setelah itu, mulailah meniru bagaimana mereka menulis. Mulai dari gaya bahasanya hingga bagaimana cara penyajiannya. Terakhir, baru modifikasi apa yang mesti kita tambahkan dalam tulisan kita itu. Jadi, dalam hal ini kita dituntut untuk produktif dan kreatif dalam menghasilkan tulisan. Semakin sering menulis, maka kemampuan kita akan terasah dengan sendirinya. Sebab, menulis ini pada dasarnya kuncinya adalah sering praktek. Dengan begitu, secara perlahan, gaya menulis kita akan terbentuk dengan sendirinya. Hanya saja memang semuanya butuh proses. Sehingga, kita dituntut untuk tekun dan konsisten dalam berkarya. Mari hidupkan spirit menulis dalam jiwa kita. Menulis untuk memperbaiki diri. Menulis untuk berbagi. Menulis untuk membangun peradaban.
Oleh: Muhammad Aufal Fresky*)
*) Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi‘
Kafe Amstr, Joyoagung, Malang
Sabtu, 10 Juni 2023
12.56 WIB





