Sujud: Kabar Bahagia Bagi Kesehatan Jantung

Perjalanan seorang muslim dalam menjalani kehidupan melalui beberapa fase, misalnya, ada kalanya taat melaksanakan shalat lima waktu. Namun, ada kalanya ingin mencoba tidak menjalankan shalat lima waktu. Bagi muslim yang taat akan melaksanakan shalat lima waktu dengan penuh. Namun bagi muslim yang sedang dalam fase jenuh, menjalankan shalat lima waktu dengan bolong-bolong atau tidak menjalankan shalat lima waktu sama sekali, menjadi pilihan untuk dilakukan.

Ada beberapa faktor untuk seorang muslim melakukannya, misalnya, sibuk dalam pekerjaan, frustasi dengan doa yang tidak terkabulkan, merasa mampu tanpa melibatkan Allah, atau satu dua hal yang lain yang menjadi dalih penguat untuk memilih jalan shalat lima waktu. Meskipun tidak bisa dibenarkan dengan alasan tersebut, mengingat, hukum wajib dalam syariat Islam yang berlaku, bagaimanapun kondisinya. Hanya pada kondisi tertentu, seorang muslim boleh tidak melaksanakan shalat lima waktu. Dan sepertinya, semua muslim tahu, jika tidak melaksanakan shalat lima waktu, termasuk melanggar satu diantara beberapa ketentuan sebagai hamba dan merupakan perbuatan dosa.

Namun bagi seorang muslim dalam keadaan jenuh, meninggalkan shalat lima waktu, seolah tidak menjadi masalah, menganggapnya enteng, seperti perlu mengalami pengalaman tersebut, atau dengan berbagai alasan yang lain. Salah satunya, mereka membutuhkan bukti empiris dari kelebihan dan kekurangan shalat. Misalnya, dengan tidak shalat lima waktu akan terjadi apa dan bagaimana kehidupan yang dijalaninya.

Meskipun secara pengetahuan tahu, akan berdampak baik atau buruk seperti apa dan bagaimana, tapi mereka mencoba untuk menggampangkan saja. Padahal selain berdosa, jika ditinjau dari kesehatan, tidak menjalankan shalat lima waktu, salah satu dampaknya adalah merugikan bagi kesehatan tubuh.

Bacaan Lainnya

Bagi seorang muslim yang tidak melaksanakan shalat (red: shalat lima waktu, biasanya orang yang enggan melaksanakan shalat lima waktu, tidak melaksanakan shalat yang lain), posisi kepala selalu berada di atas. Benar, kepala bagi manusia adalah struktur yang teratas dalam anatomi tubuh atau dalam pemaknaan yang lain sebagai simbol kehormatan yang artinya selalu di atas.

Namun, dalam sinergi fungsi organ tubuh satu dengan yang lain memerlukan posisi kepala berada di bawah. Maka dalam memaksimalkan proses tersebut, seorang muslim perlu mempunyai aktifitas yang rutin dalam sehari untuk memposisikan kepala di bawah. Hal ini menjadi penting, mengingat, aktifitas seorang muslim yang tidak shalat, dalam sehari hanya sedikit waktu yang melakukannya. Misalnya, posisi kepala benar-benar di bawah saat melakukan olah raga tertentu.

Namun, olahraga tersebut hanya dilakukan satu sampai tiga kali dalam sepekan. Aktifitas lain yang rutin, menjadikan kepala di bawah adalah tidur. Sekalipun saat tidur, tetap saja, posisi kepala akan sejajar dengan tubuh, tidak benar-benar dibawah. Apalagi jika menggunakan bantal, kepala akan berada di posisi lebih tinggi beberapa centimeter dibandingkan dengan tubuh. Padahal dengan posisi kepala di atas terus menerus, dapat mengakibatkan kerja jantung memompa darah sampai ke kepala tidak maksimal.

Berbeda dengan seorang muslim yang melaksanakan shalat, mereka akan benar-benar memposisikan kepala di bawah secara rutin pada gerakan sujud di dalam shalat. Saat melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, kepala benar-benar di bawah sebanyak 34 kali dalam 17 rakaat. Jumlah tersebut akan bertambah jika melaksanakan shalat yang lain. Biasanya, jika melaksanakan shalat lima waktu, mereka akan melaksanakan shalat yang lain, yang di anjurkan dalam syariat Islam.

Hal tersebut menjadi kabar yang membahagiakan bagi seorang muslim untuk membantu meringankan kerja jantung pada tubuh. Hal tersebut dapat membantu memaksimalkan distribusi darah ke seluruh tubuh, dengan kata lain, sujud dapat membantu meringankan kinerja jantung.

Meskipun demikian, seorang yang muslim yang melaksanakan shalat, hanya sedikit merasakan nikmat saat bersujud. Merasakan degup detak kinerja jantung yang sedang bekerja, merasakan aliran darah yang beriringan hingga kepala. Pada titik ini, dapat merasakan ketenangan dan kedamaian, menembus ruang dimensi pemaknaan. Dan mungkin menjadi salah satu sarana untuk mencapai tuma’ninah, yang merupakan bagian rukun dalam shalat.

Namun, bagi sebagian lain, yang belum terbiasa, akan merasakan pusing dan tidak betah. Maka perlunya pembiasaan, jika ingin membantu fungsi kerja jantung dan organ tubuh yang lain berjalan maksimal.

Pada gerakan shalat, tidak hanya sujud yang memiliki manfaat, melainkan gerakan shalat yang lain juga memiliki manfaat. Oleh karenanya, jika mau mengakui, shalat sebagai salah satu ibadah penting dalam islam untuk kesehatan tubuh manusia, selain olahraga.

Bagi seorang muslim yang tidak melaksanakan shalat, perhatikan dalam melakukan aktifitas yang lain untuk mengganti manfaat gerakan shalat. Minimal, dengan mengagendakan di sela-sela kesibukan untuk melakukan olahraga yang dapat memaksimalkan kinerja jantung dan meningkatkan distribusi darah ke seluruh tubuh.

 

Oleh: Cherik Ayyash

Mahasiswa Universitas Isalam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *