Belongingness atau yang familiar di telinga kita dengan sense of belonging, dapat diartikan sebagai rasa memiliki. Secara harfiah, kalimat di atas bermakna demikian. Namun, secara istilah, dilansir dari Gramedia Blog, kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai suatu kondisi psikologis atau bahkan kebutuhan emosional di mana manusia memiliki rasa kepemilikan terhadap sesuatu. Bermacam-macam bentuknya, dapat berupa benda, harta, manusia, hewan peliharaan, tumbuhan, properti, dan lain sebagainya.
Sense of belonging ini adalah suatu rasa krusial yang mutlak dimiliki oleh manusia, bisa dibilang mayoritas manusia yang hidup di dunia memunyainya. Tidak secara langsung, namun tanpa kita sadari, ternyata feel of belongingness ini selalu hadir dalam keseharian kita. Bagaimanapun juga, belongingness ini adalah suatu kebutuhan psikologis manusia. Jika tidak ada, maka orang tersebut tak cukup untuk dikategorikan manusia. Contoh umumnya sesimpel rentetan rutinitas manusia di pagi hari, seperti mandi, bersiap, dan sarapan, lalu bertolak dari zona nyaman untuk mencari nafkah. Demikian adalah contoh sense of belonging terhadap diri sendiri.
Masih banyak pekerjaan manusia yang berkenaan dengan belongingness ini. Seperti memberi makan kucing di rumah, menyirami tanaman di taman setiap pagi dan petang, beribadah, memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, liburan, hingga tidur kembali. Memang tak asing, namun benar adanya. Tak asing karena kita sering melakukannya, pun dengan keseringan itu menandakan, bahwasanya kegiatan yang demikian kandung mendarah dan menjadi suatu kebutuhan, yang manakala tak terpenuhi, maka akan mengganggu kehidupan kita.
Uniknya, sense of belonging ini adalah suatu perasaan yang dapat diasah, sehingga menjadi salah satu faktor besar untuk memapah kesuksesan kita dalam melakukan segala kegiatan. Ya, sejatinya segala kegiatan bisa diimbuhi belongingness ini. Bukan karena tanpa sebab, namun memang profitable sekali untuk diterapkan dan dilestarikan dalam kehidupan kita.
Manfaat dari memiliki sense of belonging ini, antara lain ;
- Senantiasa membangun pikiran yang positif
Sudah menjadi hukum alam yang sah ketika energi positif tentu saja menghasilkan sesuatu yang positif pula. Seperti halnya belongingness yang merupakan ekspresi positif yang terpancar dari mereka yang memilikinya. Orang yang memiliki belongingness cenderung akan membuka pikirannya kepada hal-hal yang baik. Mereka lebih memperhatikan dan menerima dirinya, lebih gencar dalam beradaptasi dan mengevaluasi kesalahan, dan terus dinaungi oleh rasa aman dan nyaman terhadap apa yang ia lakukan dan rasakan.
Bisa kita ambil sebuah studi kasus, yakni pemilik toserba yang memiliki sense of belonging terhadap tokonya yang berlokasi di tengah kawasan pasar tradisional. Mari berpikir sejenak, apa yang dilakukan orang awam andaikata mengalami hal yang serupa dengan pemilik toserba tadi? Mayoritas dari kalian mesti akan memilih untuk bermutasi ke tempat yang lebih strategis dan market yang jauh lebih jelas bukan?
Bagaimana jika di saat yang sama, pemilik toserba tersebut hanya memiliki sepeser uang saja, sehingga tak cukup untuk memindahkan tokonya ke lain tempat? Di sinilah feel of belongingness bermain. Menumbuhkan pikiran positif, sehingga cepat ia beradaptasi dengan persaingan pasar dalam lingkungan yang super ketat. Solusi yang ia ambil bisa saja dengan menambah jam kerja melebihi waktu operasional pasar, juga memberi diskon terhadap beberapa dagangan, membuka waiting room dan penitipan barang dengan tarif. Hal ini tentu dapat mempertangguh finansial dari si pemilik toserba tadi bukan?
- Meregenerasi dan memperkukuh etos kerja
Jelasnya seperti ini, apabila kita memunyai rasa kepemilikan terhadap sesuatu, maka tentu kita akan menjaga dan memberi perlakuan yang terbaik dan lebih bukan? Seperti itu sense of belonging bekerja. Memicu etos kerja dan produktivitas dengan tujuan memberikan hasil yang terbaik. Pun sebaliknya, hati kita akan dibuat resah jika kinerja yang kita berikan tidak optimal, bahkan sedikit saja selisihnya dari yang diekspektasikan.
Contohnya sama seperti si pemilik toserba di atas. Dengan harapan dan rasa memiliki yang kuat terhadap usaha yang tengah ia rintis, boleh jadi produktivitasnya menambah, jam terbangnya ditingkatkan, kinerjanya stagnan maksimal, apapun caranya untuk mencapai hasil yang terbaik, ia akan ikhlas.
- Membuat bahagia dan meminimalisir resiko kesehatan
Dilansir dari penelitian dengan judul “Intelligence, Belongingness, and Mental Health in College Students” menyatakan, bahwasanya orang yang memiliki sense of belonging yang besar dapat memiliki dampak yang baik bagi kesehatan mental. Secara otomatis, kehidupan mereka terisi oleh pikiran yang baik, hal-hal positif, dan keikhlasan dalam menjalankan segalanya, sehingga dapat memicu kebahagian di setiap harinya. Efek yang ditimbulkan juga sangat baik bagi psikis kita, seperti meminimalisir kecemasan sosial, meminimalisir depresi dan rasa putus asa, hingga keinginan untuk bunuh diri.
Setelah mengetahui beberapa keuntungan memiliki sense of belonging. Tentu masih ada tanya yang timbul dibenak kita. Bagaimana cara membentuk bahkan meningkatkan sense of belonging, bahkan menggunakannya secara optimal?
- Meningkatkan kesadaran
“Know your place” begitulah pepatah barat berkata. Kesadaran adalah yang terpenting, terhadap tempat kita berpijak, tentang apa yang tengah kita punya, tentang apa yang harus kita lakukan selepasnya. Dengan kesadaran yang terkumpul sempurna, mengkalkulasi segala yang kita punya, menikati langkah demi langkah yang kita aksikan, lama-kelamaan sense of belonging akan tumbuh, terpupuk, dan pada akhirnya belongingness ini mendarah dengan sendirinya.
- Merancang peta dan menentukan target
Dalam sebuah kehidupan perlu diberi tujuan. Gampangnya, segala sesuatu memiliki maksud atau tujuan yang jelas. Termasuk dalam aspek-aspek kehidupan. Target pribadi, target keluarga, target masyarakat, dan lain sebagainya mutlak ada. Setelah menyadari akan apa-apa yang ada di dalam hidup kita. Entah itu berupa tugas, kewajiban, pekerjaan, hubungan sosial, maka kita harus menentukan target dari masing-masing aspek.
Beberapa contohnya seperti berikut,
- Hari esok, aku harus menuntaskan PR matematikaku.
- Bulan depan, aku sudah harus dapat memberikan sedikit penghasilanku untuk kedua orangtuaku di kampung.
- Tahun ini, anakku harus melanjutkan kuliahnya ke Stanford University.
Akan lebih menarik jika kita tulis tujuan-tujuan itu di atas kertas atau media lainnya yang berwarna-warni, kemudian disematkan di meja kerja atau di setiap sudut di mana mata kita selalu melihatnya, sehingga tak jenuh dan bias bagi kita untuk menggapai tujuan-tujuan itu semaksimal mungkin.
- Self-rewarding
Saat target dan tujuan sudah dituntaskan, tentu saja kita akan dipuaskan dengan hasil dari tujuan kita yang sesuai dengan ekspektasi, atau bahkan lebih dari yang kita targetkan. Namun, untuk menambah kepuasan itu, jangan segan untuk memberi hadiah kepada diri sendiri, atas achievement kita. Seperti berlibur ke suatu tempat yang tenang, atau menghibur diri dengan aktivitas menyenangkan lainnya.
Namun, akan jauh lebih baik jikalau kita menggunakan kesempatan self-rewarding ini untuk hal-hal yang produktif dan dapat menambah nilai dan wawasan kita sebagai manusia. Seperti membeli buku-buku, berkunjung ke perpustakaan dengan suasana yang enak, mengambil kelas kesenian, memperkuat kerohanian dan hubungan kita kepada Yang Maha Esa, sampai pada mengambil waktu olahraga di tempat gym dan beberapa spot fitness lainnya.
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya rancangan. Dilengkapi dengan akal sehat dan perasaan. Oleh sebab itu, sebagai manusia, kita harus mensyukuri segala yang telah Tuhan beri, dengan cara memanfaatkannya seoptimal mungkin dan tidak lupa untuk selalu melakukan pembenahan diri dan improvisasi. Sense of belonging adalah salah satu bagian terbesar dari anugerah yang Dia beri. Mengapa tidak kita gunakan secara efisien?
Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia





