Teruntuk “Hari Ibu” Tahun Ini

 

Sama seperti hari ayah yang baru saja dirayakan bulan lalu. Aku tak ingin mengutarakan ocehan puitis, dramatis, dan klise, sebagainya yang umum ditorehkan oleh beberapa penulis maestro dengan ribuan antologi yang tersusun rapi di rak-rak rumah pembaca. Tidak, tak bisa dan tak ada. Jikalau ada, jangan kau gadang-gadangkan kepercayaan itu, bahwa tulisan seemosional itu adalah kepunyaanku. Berkenankah? Terima kasih banyak.

Baru beberapa hari ke belakang, bukan tidak ada sama sekali, baru saja ku ditepuk oleh “ibu” yang menjadi tema lomba film pendek kreatif di classmeeting tahun ini. Jujur, aku tidak terlalu berkecimpung besar dalam pembuatan film itu, bahkan tidak ada sama sekali. Anggapku, banyak sekali tugas dan hal-hal lain yang lebih pantas untuk dituntaskan, sehingga tak heran mengapa beberapa dari mereka menganggapku pelit atau apa. Aku minta maaf, kawan-kawan.

Bukan hanya sampai situ jiwa pelit membungkamku, aku bahkan tak hadir di saat penayangan umum film pendek itu. Lagi-lagi, aku punya urusan yang lebih penting dari itu, walau hanya pura-pura tidur, berselesa, dan akhirnya melamun tak berarah.

Namun, memori ini berputar begitu saja.

***

            Aku sedang duduk terdiam, di atas kabin mobil pick-up hitam yang melintasi tetebuan lebat mengelilinginya. Hanya ada aku, dan Ayah. Jelas mukaku cemberut, baru saja menyentuh pagi, namun pertikaian antara aku dan Bunda silih berganti, tak pernah terhenti. Jenuh dan bosan dengan mulutnya yang cerewet terpaksa kubantah, sampai-sampai ku harus bersilat lidah dengannya, tanda kesabaranku sudah di ambang batas. Berbeda dengan Ayah, sedaritadi ia fokus kepada jalan dan beberapa undakan polisi tidur yang mengganggu, sesekali melirik kepadaku dengan senyum jahilnya.

“Kesabaran itu tidak ada batasnya, Bang. Hanya saja Abang yang membuat batas bagi kesabaran itu sendiri,” buka Ayah tanpa basa-basi. Caranya menasihatiku selalu saja keren, entah mengapa, lama-kelamaan aku pun merasa jenuh dengan nasihatnya. Sudah terlalu banyak.

Roda mobil pick-up ini terus berputar, hampir tak berhenti. Padahal jarak antara pabrik benih jagung Ayah dengan rumah tidak begitu jauh, namun kami baru saja melewatinya. Aku pura-pura tak peduli, lanjut cemberut ke hadapan skenarium langit biru bayi dan kontur tinggi perbukitan yang hijau. Benar-benar Klaten yang kukenal. Tidak ada tindak lanjut dari Ayah sejak ku balas nasihatnya dengan diam dan cemberut. Mungkin saja ia sengaja memancingku untuk bicara.

“Yah,” sahutku memanggilnya.

“Hm?” dibalas dengan dehaman bernada tanya, khas Ayah.

Mataku kini menatapnya, menaruh harapan kepadanya, semoga saja jawaban yang ia lontarkan dapat kuterima dan selesai sudah permasalahan pada pagi hari ini, pun untuk kedepannya andaikan jawaban itu dapat mengevaluasi diriku. Semoga saja begitu.

“Kenapa Bunda selalu begitu?”

Diam sejenak.

“Hahahahahaha….. Kok Abang tanya begitu?” balasnya. Usai ia tertawa, aku kembali lagi ke wajah cemberutku yang mengesalkan. Tak lama kemudian, ia melanjutkan.

“Begini, Bang. Sebelum Abang menanyakan pertanyaan tadi, coba Abang lihat latar belakang Bunda, sejarah Bunda dari kecil, sampai di titik ini sebagai ibu dari enam anak. Coba deh!” ajak Ayah yang kepalanya sesekali terangguk ke atas bersemangat.

Aku hanya termanggut. Memangnya apa yang harus ku ketahui dari keluarga Bunda? Padahal, sejauh pengalamanku dengan keluarga besar Bunda, senang-senang saja. Tidak ada yang mengkhawatirkan. Namun kali ini Ayah kembali tersenyum jahil, entah apa yang ia pikirkan sekarang. Yang jelas, itu menyebalkan.

“Nggak tahu kan?” goda Ayah.

“Gak.”

Ayah tergelak lagi, aku semakin tak paham. Oleh karena itu kepalaku kembali berpaling dari tubuh besarnya itu, tetap teguh menatap langit kosong tak berawan.

“Begini, Bang,” ucap Ayah, lantas berhenti. Aku kembali menatapnya, kali ini Ayah akan menceritakan sesuatu kepadaku.

“Sebagaimana yang kita tahu, Bunda itu kan anak ke delapan dari sepuluh bersaudara, dengan Kakek dan Nenek yang bermata pencaharian petani pada saat itu. Tahu sendiri kalau penghasilan petani tidak seberapa kan, ditambah dengan sepuluh perut mungil yang harus mereka isi. Bagaimana menurut Abang?”

Aku dibuat tertegun oleh pernyataan itu. Benar juga ujarannya. Namun aku hanya menggeleng, menunggu Ayah mengeluarkan pernyataannya.

“Ya pasti pusing dong, banyak pikiran, sehingga perlakuan Nenek dan Kakek sebagai orangtua mereka cenderung kurang pantas. Setiap hari, mereka hanya makan kerupuk. Setiap hari, sepulangnya Nenek dan Kakek dari sawah, anak-anak mereka menjadi tempat mereka untuk melampiaskan letih dan capeknya. Tekanan yang mereka alami sudah cukup berefek, bahkan sampai saat ini, dan Bunda adalah salah satu dari mereka,” jelas Ayah sambil tetap menyetir.

“Bersyukurlah, Abang tidak pernah dipukul-pukul orangtua Abang, tidak seperti masa kecil Bunda. Bersyukurlah, orangtua Abang tidak pernah diejek-ejek atau dijadikan bahan bullying, tidak seperti Bunda yang harus bertahan dengan cemoohan orang lain terhadap orangtua Bunda yang seperti itu. Inner child Abang itu sudah cukup baik daripada Bunda,” Ayah bersendawa, lantas tercekat. Tak lama kemudian, kami sudah menyentuh perbatasan Kabupaten Klaten. Tepat di lampu lalu lintas yangg tengah memancarkan warna merah terangnya.

“Yang Abang prihatinkan dari anak-anak Ayah, anak-anak Bunda itu adalah didikan, Bang. Yang mana Ayah di rumah, jarang pulang dikarenakan proyek yang menumpuk. Abang, selaku anak laki-laki paling dewasa di rumah, tolong jaga Bunda, jaga perasaan Bunda, jangan sampai Bunda dongkol dengan kelakuan anak-anak di rumah yang ajaib, diperkesal dengan Abang yang pemalas di mata Bunda. Jangan sampai,” tukas Ayah, lantas menandasi.

Aku tertegun sejenak. Baru saja aku disadarkan oleh Ayah. Selama ini aku cukup terbelenggu oleh ketidak tahuan akan semua hal, baik Bunda, diriku, dan masalah keluarga ini yang tak kunjung usai. Ujarannya bagai ultimatum ekstra bagi jiwaku untuk cepat tergugah dan berubah. Tak ingin aku mengalami masalah yang semacam ini, bahkan sampai setiap hari. Aku dalangnya, aku yang memulai, aku yang harus lekas mengusaikannya. Sampai titik ini, aku mohon maaf padamu, Bunda.

***

Akhirnya, aku kembali ke duniaku semestinya ada. Tepat pada pukul 00.01. Gelap, lampunya saja dimatikan, aku yakin para penghuni asrama kini tengah lelap dalam tidur mereka. Dibuai angin malam, ditambah angin sejuk yang kipas semburatkan mengelilingi masing-masing tubuh mereka. Anehnya, mereka tetap berselimut. Aku dapat melihat wujud mereka yang berbaring teratur dengan cahaya jingga lampu luar yang menembus lubang-lubang kecil Rumah Kepang ini. Syahdu sekali nampaknya.

Aku berdiri, lalu keluar dari asrama. Memastikan tidak ada lagi yang terbangun, hanya aku sendiri. Di teras rumah kepang, aku kembali terduduk, melamun, lantas mematung. Rasa tepat yang tiba di waktu yang salah. Rindu kampung halaman kembali melipir di sela-sela hatiku, yang kemudian masuk hingga ke palung, lalu merenjana. Bunda, Ayah, adik-adik di rumah. Kapan kita kan berjumpa?

Masih teringat tentang dosa besar yang sengaja kupikul beberapa bulan ke belakang. Masih teringat, kala Bunda terus membunyikan panggilan via ponsel, setiap hari, namun selalu saja ku tolak. Aku teringat, waktu itu aku sedang belajar, waktu itu aku sedang rapat, waktu itu aku sedang menghadiri lomba di salah satu instansi kota. Hingga aku salah menyimpulkan, bahwasanya tuhan tak mengizinkanku untuk menemui orangtuaku.

Dapat kurasa betul apa yang Bunda rasakan di seberang sana. Dengan rasa rindu ia terus menyeru, memanggilku, namun tak kunjung ku gubris dikarenakan berbagai kesibukan. Aku tahu, rasa takut andaikata seorang anak mengasingkan ibu kandungnya sendiri. Namun, apakah yang ia perlihatkan saat ku beralasan?

“Tidak apa-apa, Bang. Yang penting jaga kesehatan dan jangan lupa berdoa ya,” diakhiri dengan simbol tersenyum penuh kasih sayang.

Sialan. Aku telah menjadi anak yang durhaka. Yang seiring berjalannya waktu, hatinya makin gelap dan gelisah akan dosa-dosa. Rasanya, Tuhan kian menambah dinding tinggi dan tebing yang curam kepadaku untuk menggapai kesuksesanku. Konon katanya, rida orangtua adalah rida-Nya pula. Astaghfirullah.

Hei, ini semua adalah ujian. Rasa rindu yang menekan itu adalah ujian. Bukankah sudah sewajarnya bagi seorang santri untuk menerima ujian ini. Maka dari itu, solusi dari lonjakan ini tergantung pada siapa yang Dia bebani. Pun Allah tidak akan membebani seorang hamba dengan ujian yang tidak disanggupi oleh hambanya. Tidak akan pernah. Untaian kalimat di atas selalu menjadi alibi pelindung kala rindu yang merenjana itu menyerbuku.

Bunda, tolong kau sadari bahwa aku bukanlah anak yang percaya diri. Aku adalah pemalu, yang tak siap mengutarakan rasa melalui ucapan dan sepatah kata. Maka biarkanlah aku berselimut di antara rangkaian torehan yang di setiap hurufnya kusematkan doa kepadamu. Bunda, aku sudah tahu betul seperti apa dirimu. Terus kumencoba untuk menerima, namun terkadang gagal oleh egoisme yang berpesta pora di benakku. Walaupun ia kan terus seperti itu, setidaknya ucapan maaf perlu sekali untuk diucapkan. Oleh karena itu, maafkan aku, untuk semuanya.

*Maaf ini bukanlah apa-apa bagimu, namun bagiku, itu segalanya, dan menyiratkan segala macam rasa yang 17 tahun ini dengan setia kau hidupi. Terima kasih.

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang, Ketua Bidang Pengkajian Ilmu Pengetahuan (PIP) Ranting IPM Planet Nufo, Penulis 2 Buku : Mengkaji Hari, Arsip Insomnia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *