Muhammad terlahir dari silsilah keluarga yang terhormat yaitu Suku Quraisy dari Bani Hasyim. Ayahnya meninggal dalam perjalanan karavan dan belum sempat mengetahui bahwa istrinya, Aminah, tengah mengandungnya. Dalam tradisi pra-Islam, seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya, maka ia menjadi seseorang yang diwariskan. Ia tidak memiliki hak kepemilikan atas harta yang ditinggalkan oleh suaminya. Hak tersebut diwariskan kepada ahli waris lainnya. Maka ketika Muhammad lahir, ia dalam keadaan miskin juga karena ibunya seorang janda. Sebab itu, sesuai tradisi juga, sulit untuk mendapatkan ibu penyusu untuk Muhammad kala itu karena Aminah tidak memiliki apa-apa. Karena tidak menemukan bayi untuk disusui, Halimah as-Sa’diyah merelakan dirinya menjadi ibu penyusu untuk Muhammad tanpa diberi imbalan dan membawanya ke desa tempat ia tinggal. Halimah menuai buah atas kebaikannya. Air susunya mengalir lancar, domba-dombanya yang kurus menjadi gemuk, dan tanahnya subur.
Muhammad berada dibawah asuhan kakeknya ketika Aminah meninggal. Ia pun berpindah tangan ke pamannya, Abu Thalib, ketika Abdul Muthalib meninggal. Kemampuan Muhammad dalam berdagang terus meningkat saat bersama Abu Thalib. Kejujuran Muhammad menjadi salah satu kunci kesuksesannya dalam berdagang, hingga ia mendapat julukan al-Amin yang berarti orang yang dipercaya.
Kesuksesan Muhammad dalam mengelola management perdagangan dan kejujurannya sampai ke telinga Khadijah binti Khuwailid. Khadijah, konon dikenal sebagai seorang perempuan yang kaya raya yang diibaratkan memiliki kekayaan hampir sepertiga Kota Makkah. Ia menghendaki kerja sama dengan Muhammad disamping dugaannya mengenai kenabian Muhammad.
Pernikahan pun menjadi jalan baru bagi Muhammad dan Khadijah meski usia keduanya terpaut jauh, Muhammad 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun. Masa-masa pernikahan dijalani dengan baik, mereka mempunyai bisnis dan cukup harta untuk menjalani kehidupan, hingga Muhammad mendapat wahyu pertama di usianya yang ke 40 tahun.
Perintah berdakwah ditengah bobroknya peradaban moral kala itu bukan perkara yang mudah. Nabi Muhammad bukan saja mengerahkan seluruh tenaganya, namun juga harta dan jiwanya. Sebagai pendamping yang setia, Khadijah menjadi penyokong utama Nabi Muhammad dalam hal harta.
Berjihad dengan seluruh harta dapat dilihat ketika Nabi Muhammad berusaha menghilangkan sistem perbudakan yang tidak sesuai dengan idealismenya dan juga ajaran al-Qur’an dengan cara membebaskan mereka. Sebagai contoh yaitu seorang budak bernama Salman al-Farisi yang dibebaskan dengan harga 300 pohon kurma siap tanam dan 40 uqiyah (batang emas). Nilai itu sekarang setara dengan satu miliar lebih.
Begitulah Nabi Muhammad menjadi sosok yang teladan bagi pengikutnya. Kemandirian financial menentukan cara seseorang berfikir dan bergerak. Andaikata Nabi Muhammad bukan seorang triliuner, beliau tidak akan dapat membantu pembebasan Salman al-Farisi dan hanya mendoakannya saja. Seorang Nabi Muhammad dengan hanya berdoa tentu akan Allah kabulkan. Namun, Nabi Muhammad memilih jalan yang realistis dan itulah hikmahnya. Sebagai penerus tonggak keilmuan yang diwariskan Nabi Muhammad, kemandirian financial harus dicapai untuk memberdayakan umat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhamamd yang mulia.
Oleh: Utia Lil Afidah, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Walisongo Semarang




