Ketika aku melihat matahari tenggelam sore ini, serasa aku ada padanya. Berkorban untuk menerangi bumi, tapi tetap ada waktu yang tepat untuk tenggelam, menyelam tergantikan rembulan. Bersiap kembali esok hari untuk memberikan kehangatan lagi.
Seakan menggambarkan miniatur peran perempuan pada dunia. Menjadi poros utama dalam berbagai bidang yang menopang berlangsungnya kehidupan. Apalagi dalam hal etika dan etiket, sudah menjadi lambang paten yang disandang perempuan sejak zaman purbakala.
Aku masih disini, dilantai empat pondokku tercinta. Bersama teh hangat yang ku pesan di angkringan sebelah. Mengenang banyak kisah yang berusaha kuabadikan dalam tulisan tanganku. Menikmati senja sore bersama cucian-cucian kering para santriwati. Bertanya-tanya tentang amanah berat yang diemban seluruh perempuan dunia. Hingga azan magrib berkumandang dari surau belakang pondok. Menyadarkan lamunanku untuk segera berjumpa dengan-Nya. Aku memutuskan untuk pergi, berpisah dengan matahari cantik kesukaanku untuk bertemu dengan tuannya.
…
Dalam sujud terdalamku, kupanjatkan doa terbaik pada-Nya. Menyampaikan keluh kesah yang telah kulalui selama ini. Bersyukur atas kekuatan yang diberikan padaku, sembari mencoba menghayati arti hidup yang sebenarnya. Lagi-lagi tentang perempuan, status sekaligus takdir yang aku miliki. Tentang bagaimana aku harus mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, menjaga, dan seluruh tugas berat yang tak bisa kubayangkan.
Sayup-sayup suara denting jam terdengar. Seakan memberi tanda untuk-ku sadar dari lamunan tak berguna ini. Keran sepertinya terbuka, air mengalir deras dari kamar mandi. Kuatnya suara terpaan air pada keramik bahkan tak mengusik pikiranku sedikitpun. Ia terus saja menjelajahi setiap jengkal kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
“Aku takut, aku tidak siap,” bermacam-macam keluhan mulai merajalela memenuhi rongga-rongga pikiranku. Ini menyakitkan dan entah ketakutan darimana yang menggerogoti jiwaku. Semacam trauma masa lalu yang sekilas terlintas dibenakku. Tentang sebuah cerita yang kuingat lagi walau telah bertahun-tahun berlalu.
“Aku benci melahirkan,” ucapku lirih sembari memejamkan mata lantas membukanya secara perlahan. Aku menyaksikan cengkrama asyik duo nyamuk yang sedang menghisap darah di kaki salah satu temanku. Tidak ada yang lebih indah selain melihat perut si nyamuk memerah karena kekenyangan. Ia bersusah payah mengepakkan sayapnya untuk pergi, sebelum digeplak oleh si empunya kaki.
Malang sekali nasibmu, mencari makan sebagai kebutuhan hidup pun harus mempertaruhkan nyawa.
…
Malam ini, bintang dan rembulan sedang bercengkrama dengan asyiknya. Menerangi daun-daun yang menari bersama angin sepoi nan sejuk. Kulihat senyuman merekah pada mereka, menunjukan malam ini penuh keistimewaan. Sepertinya jangkrik, kodok dan hewan-hewan malam lainnya di kebon belakang pondok, ikut bersenang atas ketidakhadiran awan saat ini. Ciut-ciut mereka terdengar bersautan memecahkan keheningan di sudut Desa. Mereka bisa sedamai itu menikmati malam, seakan mengolok kesedihan hatiku yang tak kunjung reda.
Masalahku masih sama, memikirkan kenapa aku harus terlahir sebagai perempuan dengan tugas yang begitu komperehensip. Memikirkannya saja sudah berat, apalagi menjalankannya.
Ricuh suara santri sudah tidak terdengar. Pukul sepuluh malam, waktunya tidur. Kajian bersama Abah saat mengaji magrib tadi sangat menarik pikiranku. Membahas bagaimana harusnya menjadi seorang perempuan elegan yang kaya akan intellectual dan financial. Satu yang paling menarik, ketika Abah mulai menceritakan Dr. Oky, isteri tercintanya.
Sedikit ketenangan hinggap dihatiku, masih ada laki-laki yang begitu bangga pada perempuannya, menjadikannya rumah untuk berpulang. “Aku ingin seperti itu” harapan besar yang selalu terucap dalam untaian doa-doa panjangku. Sudah larut, aku ingin tertidur lelap, menghentikan ketakutan dan pikiran-pikiran aneh tentang takdirku menjadi perempuan. Menikmati hangatnya malam dikamar pojok lantai tiga pondokku. Bersama suara kipas dinding yang menemani 24 jam tanpa henti. Menanti hari esok, terbangun dalam keadaan semangat menggapai mimpi-mimpi.
Selamat malam dan selamat tidur, Bunda. Jarak tak kan menjadi penghalang untuk ucapan manis malam ini. Aku merindukanmu. Kalimat terakhir yang ingin selalu aku ucapkan, sebelum kesadaranku hilang ditelan gelapnya malam.







