Cermin, Media Refleksi untuk Berintrospeksi

*Teks ini, adalah buah kontemplasi pertama yang saya suratkan.

Hobi, sebuah kata yang kerap sekali diartikan sebagai kegemaran, kesukaan, kesenangan yang dapat dilakukan untuk mengisi senggangnya waktu, sehingga tak heran mengapa hobi dapat dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama. Tentu saja, karena didasari oleh rasa suka kala mengerjakannya, juga dengan melakukan aktivitas favorit tersebut, kita dapat merasakan pengurangan beban dan mengetahui fungsi hobi sebagai sarana hiburan.

Pun hobi terdapat beragam sekali jenisnya, seperti menggambar, bermain games, mendengarkan musik, menonton, dan sebagainya yang dapat menjadi penghibur diri. Namun menurut pakar, memilah dan memilih hobi dan kegemaran itu sangatlah penting. Karena tidak semua hobi berorientasi positif bagi penikmatnya. Banyak sekali hobi yang acap mendatangkan kemudharatan, kesia-siaan, sehingga hal-hal negatif dan semacamnya bisa tertanam sebagai karakter dalam diri, bahkan nahasnya dapat menjadi suatu kebiasaan buruk.

Kegemaran, sangat potensial sekali untuk menambah value atau kapasitas diri. Konstelasi efektivitas pada durasi dan pekerjaan sangat berkaitan erat, sehingga efisiensi pada hobi yang disukai akan melejit drastis. Pada akhirnya, membentuk sebuah keahlian dan nilai tersendiri. Oleh karena itu, mengapa melakukan filtrasi pada hobi itu sangat diperlukan, karena banyak sekali hobi yang lebih berfaedah dan berbobot untuk dikembangkan, seperti membaca, menulis (berliterasi), sampai menggeluti dunia fotografi, videografi.

Yang menjadi suatu keunikan, adalah sebuah kebiasaan yang kerap saya lakukan tanpa melibatkan kesadaran, yakni becermin. Planet Nufo adalah salah satu tempat yang memiliki banyak sekali elemen yang dapat memantulkan bayangan semu/maya, seperti contoh cermin panjang di kamar mandi atas, cermin kecil di tempat wudhu bawah, kaca mobil wuling, spion motor ustaz/ah, hingga refleksi kaca gedung baru dengan elemen gorden lebih gelap di belakangnya, sehingga dapat memantulkan bayangan. Becermin adalah kegiatannya.

Memang aneh, jikalau becermin dikaitkan dengan aktivitas kesukaan. Anggapan masyarakat tidak jauh dari sekadar narsis, sok, dan terlalu percaya diri. Mereka berfatwa dengan berasaskan generalisasi. Padahal realita yang saya ekspektasikan sepenuhnya tidak sepenuhnya demikian. Tentunya, saya memiliki argumen khusus untuk menjadikan becermin sebagai hobi pribadi saya.

Secara subjektif, bagi saya, becermin adalah sebuah media refleksi untuk mengkaji diri, mencari celah dan kekurangan yang masih saja dilakukan, memutarbalikkan memori untuk memperbaiki kesalahan yang hampir saja membudaya, baik dalam lingkup pribadi, maupun bermasyarakat. Akan banyak sekali pertanyaan timbul saat sepasang mata menatap bayangannya di cermin.

Seperti, apakah orang berupa seperti ini sudah melaksanakan segala kewajiban atau belum? Apakah orang berwajah seperti ini disenangi kehadirannya atau tidak sama sekali? Apakah orang berwajah seperti ini sudah menjalani syariat baik agama secara istiqomah atau masih saja berlubang? Apakah orang dengan rupa ini terlalu angkuh dan terkesan sombong? Dan apakah orang berwajah seperti ini sudah cukup layak untuk disebut sebagai orang yang baik?

Secara pasti, semuanya akan terintrospeksi. Oleh karena itu, setiap kesempatan memihak pada saya, saya akan selalu mengisi shaf kiri terdepan. Di sana terdapat pintu kaca yang biasa terbuka lebar, dan dapat memantulkan bayangan di hadapannya, sehingga saya dapat merenungi, introspeksi diri, dengan becermin. Hobi ini berkesinambungan dengan aspek spiritual lainnya.

  1. Bersyukur

Seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an, yakni surah At-Tin, ayat 4.

“Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim”

Yang artinya : “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.” Q.S At-Tin, ayat 4.

Sebagai manusia yang tentunya sudah diciptakan secara paripurna oleh Yang Kuasa, sudah seharusnya kita mensyukuri nikmat tersebut. Mengingat banyak sekali orang-orang yang tercipta dengan kerumpangan, baik fisik, maupun psikis, sehingga mereka tidak bisa melaksanakan ibadah dengan keprimaan yang dimiliki mayoritas manusia. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur, dengan cara menjalani segala perintahnya, serta menjauhi segala larangannya.

  1. Menjaga kerendahan hati

Rendah hati adalah salah satu sikap yang paling mulia. Dengan memerhatikan aspek tersebut, seorang manusia dapat dinilai spiritualitasnya. Manakala beralih kepada ranah Islam, yang mana rendah hati dicanangkan sebagai kewajiban, terutama dalam sistem kaderisasi. Kerendahan hati sangat ditekankan dalam jiwa seorang pemimpin, karena dengan kerendahan hati dapat menghindari pemimpin untuk berlaku semena-mena dan lalim terhadap yang ia pimpin. Sebagaimana yang tertera pada sebuah hadits, yang berbunyi,

Dari Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh, Allah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ (rendah hati), sampai seseorang tidak membanggakan diri kepada orang lain dan seseorang tidak sewenang-wenang kepada orang lain.” (HR. Muslim).

  1. Berintrospeksi

Dalam aspek spiritual, evaluasi sangat penting untuk diamalkan. Evaluasi diri menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi image dan keberhasilan kita di masa depan. Kala mengetahui segala kekurangan dalam diri, kita bisa segera memperbaiki segalanya. Becermin adalah salah satu langkah efektif untuk membentuk kebiasaan membenah sifat, karakter, maupun kepribadian dalam diri. Terkadang, tanpa adanya sokongan media dan memorial yang kuat, bahkan dalam sehari hampir saja kita terlupa untuk melakukan evaluasi tersebut.

Adapun doa yang termasuk dalam sunnah Rasul, yang dianjurkan disiratkan ketika hendak becermin, yakni,

“Alhamdulillaahi kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii”

Yang artinya: “Segala puji bagi Allah, baguskanlah budi pekertiku, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupa wajahku”. Wallahu alam bishawwab.

Oleh : Aletheia Raushan Fikra Ukma, Wakil Ketua OSIS Terpilih SMAN 1 Sulang Rembang, Pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Planet Nufo

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *