Anak Bodoh dan Kecerdasan yang Berbeda-beda

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata cerdas? Banyak orang berfikir bahwa anak yang cerdas adalah anak yang memiliki nilai akademis yang tinggi. Sebab, banyak sekali instansi dan atau pegiat pendidikan menerapkan sistem penilaian menggunakan angka atau nilai tertentu. Hal ini dikarenakan nilai atau angka tersebut adalah alat termudah untuk menentukan seberapa baik anak menerima sebuah ilmu. Maka dari itu, nilai atau angka telah menjadi patokan dasar kemampuan bagi masyarakat.

Pengukuran semacam ini tentunya sudah ketinggalan jaman. Sebab, sudah terdapat banyak pembahasan mengenai berbagai tipe kecerdasan. Salah satunya adalah yang dibahas oleh Howard Gardner dan Elisabeth Hobbs, pakar psikologi dari Amerika Serikat. Keduanya telah mencanangkan konsep multiple intelligence atau kecerdasan tipikal menjadi 9, yakni kecerdasan musikal, natularis, linguistik, interpersonal, intrapersonal, visual spasial, logika matematika, kinestetik dan kecerdasan moral. Namun, apakah memang benar semua orang memiliki kecerdasan masing-masing? Atau, secara vulgar, apakah benar tidak ada anak
yang bodoh di dunia ini?

Fenomena masalah anak Indonesia, dengan sekelumit permasalahan yang ada di
dalamnya, bisa membuktikan ketidak tepatan konsep tersebut. Pertama, jika dikaji dari segi gizi, kebanyakan anak Indonesia tidak menerima gizi sebaik anak di negara maju. Contoh saja jumlah konsumsi daging. Menurut Organization for Ecomonic Cooperation and Development (OECD) yang dirilis pada tahun 2021, jumlah konsumsi daging sapi di Indonesia hanya 2,2 kg saja, sementara rata-rata tingkat konsumsi dunia adalah 6,6 kg. Artinya, pemahaman ‘Tak ada Anak Bodoh, Hanya ada Kecerdasan yang Berbeda-beda’
harus dipahami sesuai konteks. Gardner dan Hobbs merupakan ilmuwan yang berasal dari Amerika, yang menurut Foreign Agricultural Service, merupakan produser dan consumer daging sapi terbesar di dunia pada tahun 2021. Maka dari itu, di negara maju, terlebih Amerika, Multiple intelligence atau kecerdasan tipikal sangat mungkin terjadi. Sebab, secara general, aspek gizi mereka telah terpenuhi dengan baik.

Tak hanya itu, CEOWorld melaksanakan survey dengan berbagai indikator bermutu: peringkat kampus tiap negara di tingkat global, sistem penyelenggaraan, pendanaan
pendidikan, profesionalitas pendidik, jumlah lembaga penelitian, produk hasil penelitian,
keterkaitan pendidikan dengan industri, hingga tingkat kesediaan warga untuk kuliah. Berbagai indikator ini dinilai oleh responden seluruh civitas akademika. Hasilnya, kualitas pendidikan di Amerika menduduki peringkat nomor 2 setelah Inggris pada tahun 2020. Sementara Indonesia mendapatkan peringkat ke-70 dari 93 negara.

Bacaan Lainnya

Dari contoh yang telah disebutkan, bisa kita buktikan bahwa konsep multiple intelligence yang diusung oleh Gardner dan Hobbs kurang tepat untuk diterapkan di Indonesia. Kecerdasan tipikal sangat mungkin muncul di negara maju. Sebab, tak perlu ada permasalahan complicated seperti gizi buruk dan kualitas pendidikan yang perlu diperhatikan. Sementara, di Indonesia, konsep multiple intelligence mengandung banyak cela yang bisa terbantah. Maka dari itu, kita perlu memahami sesuatu dengan konteks yang tepat. Wallahu alam.

 

Zulfa Amila Shaliha

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA), Direktur Eksekutif Kartini Literasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *