Kemajuan zaman dapat kita rasakan dengan adanya berbagai hal yang didapat dengan mudah dan instan. Kemudahan tersebut didapatkan dengan mempersingkat suatu proses yang didukung oleh teknologi dan ilmu pengetahuan yang kian mumpuni.
Kecanggihan teknologi akan meminimalkan kerja manusia di lapangan. Bagi sebagian orang mungkin akan terjadi penyempitan lapangan pekerjaan, sehingga diprediksi bahwa angka pengangguran akan meningkat. Namun, dengan adanya kemajuan teknologi akan menuntut manusia beradaptasi yang nantinya menghasilkan lapangan pekerjaan baru dan individu berkualitas untuk mengoperasikan, menjalankan atau bahkan menciptakan suatu teknologi.
Kemajuan teknologi pada bidang pertanian sudah sangat banyak, dari yang awalnya membajak sawah dengan mencangkul secara manual kini sudah bisa menggunakan traktor yang tanpa awak atau melalui remote control hingga berbagai inovasi lainnya. Indonesia kaya akan sumber daya alam serta lahan yang luas pada kenyataannya belum mampu memanfaatkan privilige tersebut secara maksimal.
Pemikiran serakah pemerintah yang hanya mementingkan upah tanpa keberlangsungan sejarah menjadikan masyarakat Indonesia bekerja tanpa arah dan didorong untuk tak kenal lelah. Bukan hanya alam yang dieksploitasi namun hingga tenaga kerja pun tak luput dari gencarnya naturalisasi. Maka tidak heran apabila diprediksi bahwa petani akan punah dalam kurun waktu setengah abad lagi.
Peristiwa perang antara Rusia dan Ukraina semakin memperburuk suasana, keadaan, dan kestabilan berbagai aspek fundamental di berbagai dunia. Salah satunya adalah krisis pangan di berbagai belahan dunia karena Rusia dan Ukraina yang tercatat sebagai penyumbang 30% kebutuhan gandum global akan menghentikan ekspor. Hal tersebut akan membuat banyak negara mengalami inflasi nggak harus memutar otak untuk bertahan di tengah kondisi. Belum lagi berbagai kebijakan yang dikeluarkan Rusia untuk melarang ekspor ekspor sumber daya alam fundamental lainnya.
Pemerintah seharusnya memiliki kesempatan untuk berbenah dan meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia. Peningkatan kualitas pertanian di Indonesia dapat dilakukan dengan mengupgrade atau meningkatkan teknologi yang mampu menjawab tantangan zaman. Contohnya pada bidang pupuk, seperti sistem penanganan pangan baru, nano fertilizer dan biofertilizer. Akan tetapi, pemerintah malah mengkhawatirkan adanya disrupsi. Padahal disrupsi yang terjadi adalah disrupsi yang inovatif.
Keputusan pemerintah untuk menunda inovasi disruptif dapat diprediksi karena berbagai pemangku tatanan pemerintah berpotensi akan kehilangan lahan untuk mendulang Rupiah, sehingga kepentingan masyarakat pun dikorbankan demi pemuasan dan keberlangsungan bisnis negara. Akibatnya pupuk tetap dijual dengan harga mahal meski sudah terdapat subsidi yang tidak merata. Maka tidak heran apabila harga bahan pokok dan beberapa komoditas seperti cabai menjulang tinggi hingga tidak karuan.
Pemerintah sudah seharusnya memilih tindakan preventif dibandingkan melakukan represif. Terkadang berbagai upaya dari pemerintah telah dilakukan hingga terbit sebuah keputusan serta kebijakan. Namun, tidak tersalurkan kepada masyarakat dengan utuh. Hal tersebut dapat diasumsikan karena kurangnya penyuluh pertanian, potongan retribusi oleh atasan atau ketidakefektifan pemantauan dana yang tidak transparan.
Apabila masyarakat telah menguasai teknologi yang mumpuni berkat integrasi ilmu pengetahuan yang disubsidi oleh pemerintah maka bukan tidak mungkin bahwa ketahanan pangan di Indonesia dapat tercapai. Ketidaksiapan Indonesia menghadapi lonjakan harga bahan pokok dan beberapa komoditas menjadi indikator bahwa masyarakat belum mampu memanfaatkan kekayaan sumber daya alam. Mental masyarakat Indonesia juga harus dibersihkan dari yang awalnya hanya mengeksploitasi menjadi lebih peduli, konservatif, dan memikirkan berbagai tindakan preventif. Sehingga kebijakan pemerintah dapat terintegrasi dengan masyarakat supaya tercapai keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
(إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ ﴿ ٦﴾وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ ﴿ ٧﴾وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ ﴿ ٨
Artinya:
(6) Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. (7) dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,(8) dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
Oleh:
(Mahasiswa Agribisnis Universitas Diponegoro Semarang)





